Reporter: T Lyla Amelia
Suara USU, Medan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama pemerintah pusat memperkuat kesiapsiagaan lintas sektor di seluruh wilayah Indonesia guna menghadapi ancaman fenomena El Nino kategori lemah hingga moderat yang diprediksi muncul pada semester kedua tahun 2026. Langkah mitigasi ini mencakup penguatan ketahanan pangan, kesiapan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga antisipasi krisis air bersih. Meskipun istilah “El Nino Godzilla” sempat ramai diperbincangkan di masyarakat, pemerintah menegaskan bahwa penyebutan tersebut hanyalah istilah informal dan bukan merupakan kategori ilmiah dalam klimatologi.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa kondisi ini menuntut perhatian serius karena durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi akan berlangsung lebih panjang dari batas normalnya. Secara umum, El Nino sendiri dipahami sebagai fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang memicu perubahan pola cuaca secara global. Di Indonesia, dampak yang paling terlihat adalah penurunan curah hujan yang signifikan dan musim kemarau yang lebih ekstrem.
Berdasarkan data terbaru, BMKG memproyeksikan musim kemarau 2026 akan datang lebih awal. Sekitar 64,5 persen wilayah diprediksi mengalami curah hujan di bawah batas normal. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, turut meluruskan hiperbola informasi terkait sebutan “Godzilla“. Ia menegaskan bahwa istilah tersebut tidak digunakan dalam kajian resmi dunia karena cenderung berlebihan, meskipun masyarakat tetap diimbau untuk waspada terhadap dampak kekeringan yang mungkin muncul.
Pada sektor pangan, ancaman utama yang dapat terjadi adalah penurunan produksi akibat kekeringan, terutama pada wilayah pertanian tadah hujan yang menjadi titik paling rawan gagal panen. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) mulai menjalankan strategi percepatan masa tanam di wilayah yang masih memiliki cadangan air, penggunaan varietas tanaman tahan kering, serta optimalisasi sistem irigasi. Selain itu, Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) juga memperkuat cadangan beras nasional untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pasar.
Dari sisi penanggulangan bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah meningkatkan level kesiapsiagaan terhadap potensi karhutla, khususnya di wilayah rawan seperti Sumatera dan Kalimantan. BMKG memperingatkan bahwa kemarau kering ini dapat menurunkan kualitas udara akibat asap kebakaran. Upaya mitigasi lapangan pun diperketat melalui patroli terpadu, pembasahan lahan gambut, hingga penggunaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Dampak El Nino ini turut merambat ke sektor energi dan kesehatan. Penurunan curah hujan berpotensi menurunkan debit air di waduk dan sungai yang menjadi tumpuan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sementara itu, suhu rata-rata di Indonesia pada 2026 yang diprediksi berkisar 25–29 derajat Celsius dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat, seperti dehidrasi dan penyakit terkait cuaca panas (heatstroke).
Tantangan besar dalam menghadapi El Nino tahun ini terletak pada implementasi koordinasi antarinstansi dan kesiapan pemerintah daerah. Mengingat dampak perubahan iklim global yang semakin kompleks, kesiapan lintas sektor menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk menjaga ketahanan nasional dan meminimalkan risiko kerugian di tengah ujian iklim yang semakin nyata.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment