SUARA USU
Uncategorized

Pengaruh Patriarki Dalam Kehidupan Serta Dampaknya Bagi Orang Sekitar

Oleh: Salsabilah Nur Fathiah/Syafira Fathania

Suara USU, Medan. Patriarki berasal dari kata “Patriarki” yang merujuk pada struktur yang menempatkan laki-laki sebagai pemain utama dan sentral dalam hubungan dengan gender lain (Irma Sakina & Dessy Hasanah Siti, n.d.).

Menurut Kate Millet dalam bukunya Sexual Politics, penyebab utama patriarki terletak pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, baginya, landasan terbentuknya budaya patriarki adalah keluarga, dimana ideologi patriarki tetap terpelihara dengan baik dalam masyarakat tradisional dan modern.

Keluarga berperan penting dalam berkontribusi terhadap terbentuknya budaya patriarki. Ideologi patriarki diekspresikan dalam setiap anggota keluarga, terutama pada anak. Anak laki-laki dan perempuan belajar dari perilaku orang tuanya tentang tata krama, kepribadian, minat, status, dan nilai-nilai lain yang dianggap pantas dalam masyarakat. Ideologi patriarki yang mensosialisasikan anggota keluarga terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Temperamen

Temperamen adalah komponen psikologis yang melibatkan pengelompokan kepribadian seseorang menurut kebutuhan dan nilai-nilai kelompok dominan. Misalnya, ciri-ciri yang melekat pada maskulin meliputi kuat, cerdas, agresif, dan efisien, sedangkan ciri-ciri yang melekat pada perempuan adalah patuh, bodoh, baik, dan tidak efektif.

2. Peran gender

Peran gender adalah komponen sosiologis dalam perkembangan perilaku kedua jenis kelamin. Hal ini menimbulkan perbedaan pandangan masing-masing gender sehingga menimbulkan stereotip bahwa perempuan adalah pembantu pengurus rumah tangga dan laki-laki adalah pencari nafkah.

3. Status

Status merupakan faktor yang menunjukkan bahwa laki-laki mempunyai status lebih tinggi dan perempuan mempunyai status lebih rendah dalam masyarakat. Kesenjangan status ini berarti peluang Status pekerjaan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Contoh Patriarki

1. Pekerjaan rumah harus dilakukan oleh perempuan:

Pernyataan ini keliru. Pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan harus berkontribusi dalam mengurus rumah tangga. Hal ini untuk mewujudkan keseimbangan dan keadilan dalam pembagian peran domestik.

2. Perempuan tidak memiliki hak setara dalam pendidikan dengan laki-laki:

Pernyataan ini keliru. Perempuan memiliki hak yang sama dalam pendidikan seperti laki-laki. Hal ini dijamin dalam berbagai undang-undang dan deklarasi internasional, seperti Universal Declaration of Human Rights dan Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women. Faktanya, banyak perempuan yang berprestasi tinggi dalam pendidikan dan berkontribusi dalam berbagai bidang.

3. Perempuan dianggap lemah dan tidak bisa memimpin:

Pernyataan ini merupakan stereotip yang berbahaya dan tidak berdasar. Perempuan memiliki kemampuan dan kekuatan yang sama dengan laki-laki. Banyak contoh pemimpin perempuan yang sukses dan inspiratif di berbagai bidang, seperti politik, bisnis, dan sosial.

Dampak dari budaya patriarki ini terhadap perempuan adalah menimbulkan ketidakadilan gender, kekerasan terhadap perempuan baik berupa kekerasan fisik, seksual, emosional, psikis dan ekonomi serta perasaan terancam. Dampak dari budaya patriarki sendiri terhadap perempuan adalah kehadirannya di masyarakat dapat menimbulkan kesenjangan gender yang menurut Siswanto dapat menimbulkan situasi ketergantungan dan marginalisasi, kekerasan, stereotip dan beban ganda.

Hasil Penelitian ke-I :

Aurel, seorang gadis berusia 20 tahun, duduk termenung di kamarnya. Ia baru saja bertengkar dengan sang ibu karena diminta untuk fokus pada pekerjaan rumah tangga dan menyuruh mengenyampingkan kuliahnya.

“Kenapa sih aku harus selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga? Chandru tidak pernah disuruh!” batin Aurel.

Aurel merasa tidak adil. Ia ingin seperti Chandru abangnya, yang bebas bermain dan fokus pada pendidikannya. Aurel ingin belajar dan bercita-cita juga, namun ia merasa terhambat oleh ekspektasi gender yang dianut oleh keluarganya.

Aurel pun memutuskan untuk berbicara dengan ayahnya. Ia ingin ayahnya mengerti perasaannya dan membantunya untuk melawan norma patriarki yang menindas perempuan di keluarganya.

Titania Aurel yang berumur 20 tahun merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP USU 2022 memberikan penjelasan bahwa cerita di atas adalah Peran Gender yang Distereotipkan: Pernyataan ini mengasumsikan bahwa memasak dan mengurus rumah tangga adalah tanggung jawab perempuan, sedangkan laki-laki (dalam hal ini abangnya) boleh bersantai. Hal ini merupakan stereotip gender yang berbahaya dan tidak sesuai dengan kenyataan.

Hasil Penelitian ke-II :

Nisa, dengan langkah penuh semangat, berjalan pulang setelah mengikuti kegiatan pelatihan kepemimpinan perempuan yang diadakan hingga larut malam. Tiba-tiba, suara keras memecah keheningan.

“Hey! Sendirian aja malam-malam? Nggak takut kenapa?” sentak Pak Budi, tetangga yang biasa Nisa sapa ramah.

Nisa terkejut. “Oh, iya Pak. Mau pulang, Pak,” jawabnya.

“Perempuan nggak baik-baik keluar malam sendirian. Banyak bahaya,” ucap Pak Budi sambil menggelengkan kepalanya.

Nisa merasa kesal dengan ucapan Pak Budi. Ia merasa mampu menjaga dirinya sendiri. “Terima kasih, Pak. Tapi saya bisa jaga diri kok,” sahut Nisa berusaha tenang.

Pak Budi terkekeh. “Kamu ini perempuan. Memang tugasmu itu di rumah. Nggak perlu sok berani deh!”

Nisa semakin geram. “Lho, kenapa juga perempuan nggak boleh keluar malam? Apa salahnya? Justru yang harusnya waspada semua orang, bukan cuma perempuan,” tegas Nisa. Pak Budi melotot, tak terima dengan bantahan Nisa. Namun, Nisa tak ingin berdebat lebih lanjut. Ia mempercepat langkahnya, meninggalkan Pak Budi yang masih mengomel di belakangnya.

Sepanjang sisa perjalanan pulang, Nisa kesal. Komentar Pak Budi mencerminkan pandangan patriarki yang mengungkung perempuan. Nisa bertekad untuk tidak tinggal diam. Ia ingin suaranya didengar, bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk berkegiatan di malam hari, sama seperti laki-laki.

Syafitri Khizrotun Nisa yang berumur 20 tahun merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP USU 2022 memberikan penjelasan bahwa cerita di atas adalah Keterbatasan Kesempatan Berkembang: Ketidakmampuan perempuan untuk keluar malam secara bebas dapat membatasi kesempatan mereka untuk berkembang dan berjejaring. Perempuan yang ingin mengikuti seminar, menghadiri acara networking, atau bertemu dengan orang baru mungkin terhambat karena norma ini.

Patriarki, sebuah sistem sosial yang menindas perempuan, mempunyai banyak dampak negatif dalam kehidupan sehari-hari. Dampak ini diperburuk oleh kekerasan terhadap perempuan dan stereotip gender yang merugikan. Patriarki bukan hanya persoalan perempuan, tapi juga persoalan masyarakat secara keseluruhan. Kita harus bersatu melawan patriarki dengan meningkatkan kesadaran, mendorong pendidikan dan pemberdayaan perempuan, mendorong kesetaraan gender, menentang kekerasan terhadap perempuan, dan mendukung organisasi advokasi.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Sosiologi Gender dengan Dosen Pengampu Dr. Harmona Daulay, S.Sos., M.Si / Dra. Linda Elida, M.Si.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Tanpa Peran Peksos, Akankah Penanganan Rehabilitasi Narkoba di IPWL Bukit Doa Bisa Berjalan?

redaksi

Perpustakaan Futuristik untuk Akses Pengetahuan yang Lebih Luas di Era Digital

redaksi

Pudarnya Nasionalitas dan Lunturnya Implementasi Butir-Butir Pancasila Akibat Budaya Barat

redaksi