Home Tulisan Peran Mahasiswa Kessos USU dalam Menghadapi Perubahan Sosial dan Mengatasi Bullying di Panti Asuhan AR Rahman
Tulisan

Peran Mahasiswa Kessos USU dalam Menghadapi Perubahan Sosial dan Mengatasi Bullying di Panti Asuhan AR Rahman

Share

Oleh: Berlian Sela Damaiyanti S

Suara USU, Medan. Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah bagian integral dari pendidikan tinggi yang memberikan mahasiswa pengalaman praktis di dunia nyata. Melalui PKL, mahasiswa dapat mengaplikasikan pengetahuan teoritis ke dalam situasi kerja yang sebenarnya. Tujuan utama dari PKL adalah untuk meningkatkan pembelajaran pribadi dan memberikan kontribusi nyata kepada instansi atau organisasi tempat PKL dilaksanakan. Tujuan ini menjadi pedoman dalam setiap kegiatan PKL.

Saya, Berlian Sela Damaiyanti S dengan NIM 220902004, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kessos) FISIP Universitas Sumatera Utara, memilih lokasi praktikum di Panti Asuhan AR-Rahman yang terletak di Jl. Arifin No. 1A, Sitirejo II, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, Sumatera Utara 20217. Kegiatan ini dibimbing oleh dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial, Prof. Dr. Bengkel, M.Si.

Kegiatan PKL 1 berlangsung sejak tanggal 3 Maret hingga 26 Mei 2025. Pada kegiatan awal, saya memulai dengan memperkenalkan diri kepada anak-anak asuh di panti yang berjumlah 20 orang, terdiri atas satu anak yang belum bersekolah (TK), enam anak tingkat Sekolah Dasar (SD), dua belas anak tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan satu anak tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Selanjutnya, saya membantu mereka dalam memahami materi tentang perubahan sosial dan bullying.

Selama kurang lebih satu bulan pelaksanaan kegiatan, saya mengamati bahwa banyak anak-anak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas, khususnya dalam pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta aktivitas mewarnai. Kesulitan ini terlihat pada anak-anak di semua jenjang, terutama pada tingkat SD karena efektivitas pembelajaran yang masih rendah. Berdasarkan kondisi ini, saya terdorong untuk membantu mereka agar dapat memahami pelajaran dengan lebih baik, khususnya dalam pembelajaran matematika, agar mereka mampu menyelesaikan tugas secara mandiri.

Pada pelaksanaan PKL tahap kedua, mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam penyelesaian masalah pada kelompok masyarakat atau komunitas tertentu. Oleh karena itu, saya menginisiasi sebuah mini project yang ditujukan kepada anak-anak panti, khususnya yang berada di tingkat SD, yang mengalami kesulitan dalam belajar berhitung, membaca, dan menulis, serta memiliki motivasi belajar yang rendah. Mini project ini dirancang menggunakan pendekatan intervensi komunitas yang umum dilakukan oleh pekerja sosial.

Langkah awal adalah melakukan persiapan sebagai praktikan, yaitu dengan menentukan pendekatan dan strategi yang tepat dalam mengembangkan kelompok belajar yang efektif. Hal ini dilakukan agar hasil yang dicapai maksimal dan hubungan yang baik dengan anak-anak dapat terbentuk. Saya juga melakukan persiapan lapangan dengan cara observasi langsung pada tanggal 3 Maret 2025 guna memahami kondisi sosial anak-anak dan mendapatkan dukungan yang diperlukan.

Selanjutnya, saya melakukan asesmen untuk mengidentifikasi masalah berdasarkan kebutuhan yang dirasakan (felt needs) maupun kebutuhan yang diekspresikan (expressed needs). Dalam proses ini, saya menggunakan metode casework yang mencakup pengumpulan data, analisis kasus, perencanaan intervensi, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil asesmen menunjukkan bahwa salah satu permasalahan utama adalah kurangnya tenaga pengajar di panti. Untuk itu, saya membentuk kelompok belajar yang saya bimbing sendiri dengan pendekatan yang kreatif, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Program ini juga sekaligus bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai positif, seperti saling menghargai dan mencegah perilaku bullying yang sempat saya temui selama proses interaksi dengan anak-anak panti. Perubahan sosial yang terjadi di panti terlihat dari adanya dinamika dalam interaksi antar anak, termasuk perilaku saling membully. Melalui pembelajaran yang saya fasilitasi, anak-anak didorong untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung satu sama lain. Saya juga membantu mereka mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi agar dapat berinteraksi dengan lebih positif dan membangun relasi yang sehat antar sesama.

Evaluasi terhadap program ini dilakukan dengan menggunakan indikator dampak dan efisiensi sebagaimana yang dijelaskan oleh Talcott Parsons. Indikator dampak menunjukkan bahwa setelah dua bulan pelaksanaan, anak-anak mulai menunjukkan peningkatan kemandirian dalam menyelesaikan tugas sekolah. Mereka juga mulai menunjukkan sikap saling peduli dan menjaga satu sama lain. Indikator efisiensi terlihat dari program yang berjalan tepat sasaran, tepat waktu, dan dengan sumber daya yang tersedia.

Program belajar ini secara keseluruhan dapat dikatakan berhasil karena memberikan pengaruh positif terhadap perilaku dan kemampuan belajar anak-anak panti. Tahap terakhir adalah terminasi, yaitu pengakhiran hubungan antara saya sebagai pekerja sosial dengan anak-anak panti secara formal. Pada momen ini, saya menyampaikan ucapan terima kasih, begitu juga dengan pihak pengurus panti. Kami mengakhiri kegiatan dengan sesi foto bersama dan pemberian sertifikat sebagai bentuk penghargaan atas kerja sama yang telah terjalin. Seluruh kegiatan ini dilakukan di lingkungan panti asuhan dan berlangsung dengan baik serta atas persetujuan pihak panti.

Artikel ini adalah publikasi tugas Praktik Kerja Lapangan ( PKL) dengan dosen pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos dan supervisor sekolah Prof. Dr. Drs. Bengkel, M. Si.

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.