Home Opini Peran Perempuan yang Melanggengkan Pewarisan Patriarki
Opini

Peran Perempuan yang Melanggengkan Pewarisan Patriarki

Share
Ilustrator: Emmi Sitamupang

Oleh: Zahra Zaina Rusty

Suara USU, Medan. Ketika kita berbicara tentang patriarki, mayoritas orang refleks menunjuk laki-laki sebagai biang keladinya. Seolah patriarki adalah bangunan megah yang dibangun laki-laki untuk menguntungkan diri mereka sendiri, sementara perempuan hanya korban pasif. Narasi ini memang mudah dikonsumsi, terasa sederhana, tapi terlalu naif. Kenyataannya jauh lebih runyam, lebih pahit, bahwa kenyataannya perempuan juga memainkan peran sentral dalam melestarikan patriarki.

Meskipun isu sosial saat ini telah banyak melibatkan perempuan sebagai prioritas dan bagian yang memiliki hak untuk mengambil peranan di dalamnya. Sebagaimanapun perlawanan terus meremaja dalam prinsip-prinsip yang berusaha dihidupkan oleh kalangan perempuan masa ini, bumbu-bumbu patriarki terasa belum mampu dituntaskan justru sebab peranan perempuan lainnya yang melanggengkan pewarisannya.

Bukan rahasia lagi, banyak perempuan justru menjadi penjaga paling keras terhadap standar-standar sosial yang menindas mereka. Mulai dari keluarga, sekolah, komunitas keagamaan, hingga ruang-ruang media sosial, kita bisa melihat fenomena ini dengan gamblang. Para ibu yang mendidik anak perempuannya untuk “tidak usah sekolah tinggi-tinggi, nanti susah dapat jodoh.” Para guru yang menghukum murid perempuan karena “rok terlalu pendek” sambil menutup mata terhadap pelecehan yang dilakukan teman laki-lakinya. Para tetangga yang menggunjing perempuan karier karena “gagal mengurus rumah tangga.” Ini semua bukan cerita fiksi, ini adalah kenyataan yang kita temukan sehari-hari.

Ironinya, dalam banyak kasus, laki-laki bahkan tidak perlu repot-repot menjaga tatanan patriarki itu, karena ada perempuan lain yang bersedia menjadi polisi moral, penjaga pagar, dan penyebar ideologi pengekangan itu sendiri. Salah satu luka terdalam dalam lingkaran ini terjadi di dalam rumah, dalam pola asuh yang diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak ibu, secara sadar atau tidak, membesarkan anak-anak perempuannya dalam balutan budaya patriarki.

Anak perempuan diajarkan untuk tahu diri, tidak keluar malam, harus bisa urusan rumah tangga sejak belia, dilarang bersuara keras, dilarang bangun siang karna akan dianggap jelek oleh tetangga dan masih banyak lagi larangan dan perintah yang dikhususkan untuk anak perempuan. Sementara di sisi lain, anak laki-laki dibiarkan bersantai. Beban tanggung jawab moral, beban mengurus rumah, semuanya dibebankan pada pundak anak perempuan. Sementara anak laki-laki cukup “menjadi laki-laki” saja sudah dianggap prestasi.

Ada standar ganda yang kejam di sini. Anak perempuan dipenuhi batasan-batasan yang tak kasatmata, dipasung dalam ekspektasi, diawasi gerak-geriknya. Sedangkan anak laki-laki diajar untuk merasa dunia ini adalah milik mereka: bebas, ringan, tanpa beban berlapis. Inilah akar patriarki yang paling licin dan berbahaya, ia tidak hanya datang dari sistem besar yang jauh di luar sana. Ia tumbuh dari ruang-ruang kecil dan akrab, dari didikan ibu sendiri, dari meja makan, dari obrolan sehari-hari. Dan sayangnya, sering kali diterima begitu saja sebagai “kebenaran” karena dibungkus dalam narasi cinta dan perlindungan.

Tentu, para ibu ini tidak sepenuhnya patut disalahkan. Mereka pun korban dari sistem yang sama, mewarisi pola pikir yang mengikat mereka dalam peran tertentu. Tetapi, kesalahan yang diwariskan tetaplah kesalahan. Dan keberanian untuk menyadarinya, mempertanyakannya, lalu menghentikannya, adalah satu-satunya jalan keluar.

Berapa banyak perempuan yang menyerah pada pernikahan toksik demi menjaga nama baik keluarga? Berapa banyak perempuan yang mengorbankan pendidikan dan karier karena “kodratnya” adalah di dapur? Dan lebih tragis lagi, berapa banyak perempuan yang kemudian menjadi agen pewaris nilai itu, mendidik anak-anaknya untuk tetap tinggal di lingkaran pembatas yang sama?

Media, baik yang konvensional maupun digital, turut bermain dalam melanggengkan patriarki ini, sering kali dengan bantuan perempuan itu sendiri. Acara TV yang memperlihatkan perempuan sempurna sebagai yang “lembut, penurut, cantik untuk suami” tetap laku keras. Konten media sosial yang menghujat perempuan “terlalu berani,” “terlalu ambisius,” atau “terlalu banyak mau” justru ramai oleh komentar dari perempuan lain.

Fenomena viral sederhana membuktikan saat seorang perempuan berbicara tegas tentang pilihannya untuk tidak menikah muda, komentar paling kejam sering kali datang dari sesama perempuan. Dengan nada sinis, seolah hidup perempuan yang “benar” hanya berujung pada pernikahan dan pengabdian.

Bukan salahmu jika dilahirkan dalam sistem yang timpang, tapi menjadi salahmu kalau kamu terus mewariskannya.

Satu hal yang harus kita sadari, menjadi perempuan tidak otomatis membuat kita berpihak pada perempuan. Banyak perempuan masih belum sadar bahwa dalam tindakan sehari-hari, mereka menjadi pelindung nilai-nilai yang sesungguhnya merugikan diri mereka sendiri dan generasi berikutnya.

Kita perlu keberanian besar untuk mengakui kenyataan ini dan untuk melawannya. Melawan bukan berarti membenci tradisi atau agama, tetapi membedah dengan kritis nilai mana yang benar-benar menyejahterakan manusia dan mana yang hanya berfungsi untuk mengurung potensi satu jenis kelamin saja.

Melawan berarti mengubah cara kita berbicara pada anak-anak perempuan, tidak lagi mendikte mereka harus menjadi “baik” menurut standar usang, melainkan mendukung mereka menjadi bebas, kritis, dan berani.  Melawan berarti berhenti mengukur nilai diri sendiri dan perempuan lain dari siapa yang paling patuh pada ekspektasi sosial.

Melawan berarti menolak menjadi tangan kanan patriarki, dengan memilih untuk berpihak pada solidaritas perempuan dan pada pilihan individual masing-masing. Patriarki tidak akan tumbang dengan slogan kosong. Ia runtuh hanya kalau perempuan berhenti menjadi tembok pertahanannya. Dan langkah itu, sekeras apa pun, harus mulai dari sekarang. Dari diri kita sendiri.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.