Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Kabar Kampus

Perbaikan “New Normal” Kebijakan Baru Di tengah Goncangan COVID-19 Akankah Berjalan Efektif?

Sumber gambar: Credit Pinterest

Penulis: Muhammad Alvi

SUARAUSU, MEDAN. Sesuai kebijakan yang disampaikan Presiden Jokowi di Istana Merdeka pada hari Selasa, 2 Juni 2020. Penerapan New Normal akan terus dipantau namun belum dapat dipastikan bagaimana protokol yang efektif agar masyarakat menerapkan New Normal. Terlebih angka pasien yang teridentifikasi Virus Corona terus melonjak, bahkan tanpa sadar menuju angka 30.000 pasien. Akankah penerapan new normal berjalan efektif?

‘New Normal’ atau ‘Normal Baru’ saat ini menjadi istilah baru dalam menghadapi Pandemi COVID-19 yang tidak bisa diprediksi ujungnya. Ditinjau dari pelaksanaan New Normal seperti pada masa Orde Baru, dimana pemerintah akan mengerahkan TNI dan Polri untuk mengawasi masyarakat. Sekilas New Normal pada awalnya muncul dalam bidang ekonomi dan bisnis. Dilihat pada pembuat kebijakan dunia ekonomi industri akan menggunakan cara baru setelah dunia dihantam krisis keuangan pada tahun 2007-2008. Istilah New Normal bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan kesehatan sama sekali.


Pemerintah ingin menerapkan New Normal tepat dengan berakhirnya libur lebaran 2020. Istilah new normal semakin masif digaungkan keseluruh penjuru negeri, bahkan dalam pidato beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo menyampaikan maksudnya bahwa kita harus berdamai dengan COVID-19.
“Artinya sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan COVID-19 untuk beberapa waktu ke depan,” begitu pidato Presiden di Istana Merdeka dikutip dari Kompas.com, Kamis (7/5/2020).


Disusul dengan pernyataan Menko Polhukam saat silaturahmi online dengan Universitas Sebelas Maret:
“Corona is like your wife. Initially, you try to control it. Then you realize that you can’t. Then you learn to live with it,” begitu ungkap Mahfud MD mempromosikan New Normal pada 26 Mei 2020.


Apa yang di sampaikan beliau, membandingkan corona dengan istri adalah guyonan yang agak ironis. Apakah mahfud lupa bahwa PM Selandia Baru Jacinda Adern, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, hingga Kanselir Jerman Angela Merkel adalah bukti kesuksesan mereka dalam mengatasi corona?
Terlebih lagi status mereka merupakan seorang “Istri”. Artinya para “Istri” tidak dapat disamakan dengan Corona.


“Ini akan kita lebih disiplinkan lagi agar protokol kesehatan benar-benar dijalankan. Jadi, TNI dan Polri mengawasi pelaksanaan di lapangan, memastikan pelaksanaan hal-hal berkaitan dengan memakai masker, menjaga jarak dan menghindarkan orang dari kerumunan atau saling berdesak-desakan. Ini yang akan kita pastikan,” kata Presiden saat meninjau persiapan penerapan standar New Normal di Mall Summarecon, Bekasi, Jawa Barat (26/05/2020).
Pemerintah dipandang sangat tergesa-gesa dan terkesan ceroboh agar segera menerapkan New Normal di masyarakat tanpa memikirkan sikap acuh tak acuh masyarakat ditengah pasien yang kian membludak, pendapatan masyarakat yang tidak menentu terdampak Corona, protokol keamanan, kesehatan dan pendidikan yang belum ditingkatkan. Bahkan pandangan bahwa semua ini bukan cara mencegah tingkat penyebaran COVID-19 namun membuat ekonomi ambruk yang akan menimbulkan konflik baik dalam kehidupan sosial dan politik.


Hal ini bak pisau bermata dua. Jika ingin terus larut dalam pembatasan aktivitas akan menyebabkan ekonomi ambruk dan jika ingin menyelamatkan ekonomi agar tak ambruk dengan mengorbankan pembatasan sosial, bukan tidak mungkin penyebaran Virus Corona akan semakin bertambah.


Rencana pemerintah melakukan uji coba New Normal di 4 provinsi dan 25 Kabupaten/Kota. Hal yang mengejutkan adalah 2 provinsi ini termasuk dalam daftar 5 lokasi penyebaran kasus corona terbanyak di Indonesia. Pada akhirnya justru yang akan menjadi provinsi pertama dibukanya kembali aktivitas ekonominya yaitu DKI Jakarta dan Jawa Barat.


Standar kesehatan WHO saja belum terpenuhi kok sudah mau New Normal?
Kini akan ada 340 ribu personel TNI-Polri akan menyebar di setiap titik keramaian. Susah payah Jargon yang digaungkan pada zaman Gusdur “Tentara kembali ke barak” apakah hanya akan tinggal jargon semata? atau benar adanya dugaan kembali ke massa “New Orde Baru”.


New Normal sebenarnya bukan hal baru dan merupakan hal baik. Langkah perwujudan standart kehidupan baru yang lebih baik setelah ditinjau lebih jauh dampak dan bagaimana penerapannya. Paling terpenting adalah waktu penerapan dan caranya.


Pemerintah selalu mengeluarkan statement yang keren untuk memainkan psikologis rakyatnya, ‘Yang penting keren’ seperti “Revolusi Industry 4.0”, bahkan banyak mayoritas yang tidak mengetahui apa artinya. Pemerintah terkesan menimbulkan asa kepada rakyat dengan mengorbankan rakyat juga, seakan mengesampingkan pendapat pakar-pakar kesehatan yang memiliki keahlian dibidangnya.

Redaktur tulisan: Riska Apsari

Related posts

Muryanto Amin Resmi Dilantik Sebagai Rektor USU, Ini Harapan Kemendikbud

redaksi

Adakan Diskusi, Germa USU Tanggapi Kebijakan Pembatasan Kegiatan di USU!

redaksi

Marzuki Sinambela, Wisudawan S3 Raih IPK 4,00

redaksi