Home Opini Perilaku Represif terhadap Warga Berujung Kekerasan
Opini

Perilaku Represif terhadap Warga Berujung Kekerasan

Share

Oleh: Abdullah Umar Al Faruk

Suara USU, Medan. Bendera bulan bintang atau bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) merupakan simbol perlawanan yang lahir dari akumulasi kekecewaan masyarakat Aceh terhadap pemerintah pusat. Kekecewaan tersebut berakar pada pengelolaan hasil bumi Aceh yang dinilai tidak dibagikan secara adil, sehingga memicu lahirnya pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka terhadap pemerintah Indonesia.

Setelah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005, pemerintah Indonesia dan GAM secara resmi menyepakati perdamaian. Meski demikian, polemik terkait penggunaan bendera bulan bintang hingga kini masih terus menjadi perdebatan. Bagi sebagian masyarakat Aceh, bendera tersebut dipandang sebagai simbol perjuangan, perlawanan, dan kebebasan. Sebaliknya, aparat penegak hukum menganggap bendera bulan bintang sebagai simbol separatis yang bertentangan dengan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebagaimana diatur dalam Pasal 106 dan 107 KUHP, Pasal 24 huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, serta Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2007.

Dikutip dari BBC News Indonesia, pada Kamis (25/12) malam, aparat gabungan TNI dan Polri melakukan razia di Jembatan Krueng Mane. Dalam razia tersebut, sejumlah personel terlihat membawa senjata laras panjang. Beberapa warga dilaporkan mengalami kekerasan fisik, mulai dari dipukul hingga ditendang, bahkan terdapat korban yang mengalami luka di bagian kepala.

Kendaraan yang melintas dihentikan dan diperiksa, sementara penumpang di mobil bak terbuka diminta turun. Berdasarkan keterangan warga sekitar, aparat menurunkan bendera bulan bintang dari sejumlah kendaraan yang melintas di lokasi razia.

Kepala Penerangan Kodam Iskandar Muda, Teuku Mustafa Kamal, menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi akibat “salah paham”.
“Itu salah paham, saling memaafkan, sudah selesai dan damai,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa TNI saat ini fokus membantu penanggulangan bencana alam.

Mustafa turut meneruskan sebuah video pernyataan dari ketua rombongan konvoi, Azilul Nazirna Tiro, yang mengonfirmasi hal serupa dan menyebut kejadian tersebut terjadi “di luar dugaan”.
“Kita mengakui ini keteledoran kita bersama. Kita anggap permasalahan ini selesai,” kata Azilul.

Di sisi lain, aparat TNI juga melakukan razia dan pembubaran terhadap konvoi yang membawa bendera bulan bintang. Masih dikutip dari BBC News Indonesia, peristiwa yang terjadi sejak Kamis (25/12) malam hingga Jumat (26/12) dini hari tersebut dibenarkan oleh pihak TNI. Namun, TNI menyayangkan beredarnya video di media sosial yang dinilai disertai narasi tidak benar dan mendiskreditkan institusi TNI.

Pusat Penerangan TNI menyebutkan bahwa razia dilakukan setelah aparat membubarkan massa konvoi di Simpang Kandang yang juga mengibarkan bendera bulan bintang.
“Sebagian massa mengibarkan bendera bulan bintang yang identik dengan simbol GAM, disertai teriakan yang dinilai berpotensi memancing reaksi publik dan mengganggu ketertiban umum, khususnya di tengah upaya pemulihan Aceh pascabencana,” tulis Puspen TNI dalam keterangan resminya.

Dalam proses pemeriksaan, aparat juga mengamankan seorang individu yang kedapatan membawa senjata api beserta amunisinya, serta senjata tajam. Orang tersebut kemudian diserahkan kepada pihak kepolisian untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sebelumnya, pada Kamis (25/12) siang, masyarakat dijadwalkan menggelar aksi damai solidaritas kemanusiaan di depan Kantor Bupati Aceh Utara, Kecamatan Lhoksukon. Seruan aksi tersebut dikeluarkan oleh Gerakan Rakyat Pase Bersatu (GRPB) Aceh Utara sekitar sepekan sebelumnya, dengan mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk turut bergabung.

Khussyairi, mahasiswa yang tergabung dalam GRPB, menjelaskan bahwa peserta aksi diminta membawa bendera putih sebagai simbol tuntutan agar pemerintah pusat segera menetapkan status bencana nasional untuk Sumatra. Namun, pada hari pelaksanaan aksi, selain bendera putih, sejumlah peserta juga membawa bendera bulan bintang.

“Itu spontanitas dan tidak ada perintah dari pihak mana pun untuk mengibarkan,” ujar Khussyairi selaku koordinator lapangan perwakilan mahasiswa.

Redaktur: Zahra Zaina Rusty

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.