Home Opini Refleksi Pasca Hari HAM Sedunia, Bukan Sekedar Seremonial Tahunan
Opini

Refleksi Pasca Hari HAM Sedunia, Bukan Sekedar Seremonial Tahunan

Share

 

Oleh: Nikolas Supriyanto

Suara USU, Medan. Pada Tanggal 10 Desember setiap tahun, diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia. Dideklarasikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dimulai pada Tahun 1948. Penetapannya ditujukan untuk mengingat kembali hak asasi manusia secara mendasar yang perlu dilindungi secara universal. Hak asasi manusia menjadi salah satu isu penting yang sudah berulang kali digaungkan oleh berbagai elemen Masyarakat, bahkan memiliki wadah tersendiri di Indonesia yakni lembaga Komnas HAM.

Peringatan Hari HAM ini sering mengundang masyarakat dan teman-teman mahasiswa agar selalu bersuara dan memperhatikan ruang-ruang kehidupan yang sering dilanggar. Di berbagai titik, tepat pada tanggal 10 Desember 2024 dilaksanakan aksi seperti kegiatan mengibarkan banner di area publik, aksi long march di Jakarta yang diinisiasi oleh KontraS dan elemen lainnya. Komnas HAM sendiri melaksanakan kegiatan dengan mengundang beberapa tokoh, salah satunya adalah Kak Seto sebagai pemerhati anak. Rangkaian kegiatan ini cukup menggugah perasaan kita agar kembali menyadari bahwa masih ada isu yang belum mendapat tempat secara signifikan dalam perbincangan diskusi baik ditingkat mahasiswa maupun masyarakat secara luas.

Tak perlu kita menyangkal bahwa anak muda, terutama yang didominasi oleh Gen Z, tidak lagi begitu mengingat rentetan pelanggaran HAM yang terus terjadi setiap tahun, termasuk pelanggaran HAM berat sebanyak 12 kasus di masa lampau, di mana negara dituntut untuk bertanggung jawab. Dari sekian persen populasi Gen Z di Indonesia, hanya sebagian yang bersimpati dan sebagian kecil yang siap bersuara untuk isu HAM. Sikap apatis telah menjalari kaum muda. Akhirnya, peringatan Hari HAM Sedunia seolah menjadi peringatan tahunan karena kurangnya perhatian dari elemen masyarakat.

Kondisi yang lebih memprihatinkan terjadi saat komentar yang muncul terkait isu HAM bersifat negatif karena dianggap tidak menguntungkan diri. Kondisi ini perlu diatasi dengan menyadari bahwa setiap hari terjadi pelanggaran HAM, atau bahkan saya dan anda termasuk sebagai pelanggarnya. Pelanggaran terkecil ditingkat mahasiswa seperti memaksakan pendapat, bullying, diskriminasi, fitnah berdasarkan streotip menjadi bentuk pelanggaran HAM yang kerap dijumpai sehari-hari.

Mengingat isu HAM tidak semata-mata membahas kejadian di masa lalu saja, yang paling penting adalah memunculkan rasa kepedulian terhadap sesama dan menyadari hak hidup orang-orang di sekitar. Kepekaan terhadap sesama manusia tetap harus dijaga agar perlakuan-perlakuan berbentuk pelanggaran HAM sehari-hari dapat ditinggalkan, sehingga semua orang mendapat ruang yang nyaman untuk beraktivitas dan bersosial. Kiranya kedepan, Hari HAM Sedunia tidak lagi menjadi acara tahunan semata, namun momentum kebangkitan kesadaran dan kepedulian setiap individu terhadap isu HAM

Redaktur: Feby Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.