Home Musik Seni Membasuh Lelah dalam Lagu Secukupnya oleh Hindia
Musik

Seni Membasuh Lelah dalam Lagu Secukupnya oleh Hindia

Share

Oleh: Suci Lestari Br Ginting

Suara USU, Medan. Jika kamu pernah merasa lelah tetapi tidak tahu harus berkata apa, mungkin Hindia sudah lebih dulu menuliskannya dalam “Secukupnya”. Lagu ini adalah refleksi emosional tentang cara bertahan di tengah tekanan yang terasa tak berujung. Dirilis dalam album Menari dengan Bayangan, lagu tersebut menjadi salah satu penanda penting dalam perkembangan musik pop alternatif Indonesia, sekaligus membuka ruang diskusi mengenai kesehatan mental secara lebih terbuka di ruang publik.

Lagu “Secukupnya” tidak dibangun dengan komposisi yang megah. Sebaliknya, lagu ini mengandalkan progresi akor yang repetitif serta tekstur sintetis synthesizer yang lembut, tanpa ledakan instrumen yang dramatis. Aransemennya stabil, dan kesederhanaan itulah yang justru menciptakan ruang tersendiri bagi pendengarnya. Pendekatan ini sejalan dengan tren musik pop alternatif global, di mana keheningan menjadi bagian dari komposisi itu sendiri. Vokal Hindia pun tidak terlalu dipoles, tetapi hal itulah yang membuat pendengar merasa seperti sedang diajak berbicara langsung, bukan sekadar disuguhi pertunjukan.

Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang? 

Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang di esok hari

Tubuh yang berpatah hati bergantung pada gaji

Berlomba jadi asri mengais validasi

Dalam lirik lagu ini, tergambar kelelahan, perasaan tidak cukup, ketidakmampuan memenuhi ekspektasi, hingga keinginan untuk berhenti sejenak tanpa harus menyerah sepenuhnya. Hindia memilih bahasa yang lugas dan tampak seperti obrolan biasa, tanpa simbolisme yang berlebihan. Tidak ada kiasan yang perlu diurai maupun diinterpretasikan karena pesannya memang tidak bersembunyi di balik metafora. Alih-alih menawarkan solusi, lagu ini justru memberikan validasi, sesuatu yang sebenarnya lebih sering dibutuhkan tetapi jarang diberikan. Berbeda dari narasi motivasional yang menuntut seseorang untuk terus kuat dan melangkah, “Secukupnya” memberi ruang untuk sejenak tidak baik-baik saja, dan hal itu terasa melegakan.

Hindia bukanlah nama baru dalam peta musik Indonesia. Lewat karya-karyanya, ia konsisten mengangkat tema-tema personal yang dekat dengan keseharian anak muda, mulai dari hubungan yang tidak sehat, tekanan sosial, hingga rasa lelah yang sulit dijelaskan. “Secukupnya” melanjutkan benang merah tersebut, tetapi dengan cara yang lebih sederhana dan langsung. Tidak ada upaya untuk membungkusnya dengan estetika yang terlalu rapi. Justru kerapuhan yang tampak di permukaanlah yang membuat lagu ini terasa dekat.

Lagu ini juga tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih besar. Dalam satu dekade terakhir, musisi seperti Lorde dan Frank Ocean mulai meninggalkan tema-tema glamor dan beralih ke eksplorasi identitas, kecemasan, serta kerentanan. Gelombang tersebut merambah hingga ke Indonesia, dan generasi musisi independen seperti Hindia ikut membawa pergeseran itu. Platform digital mempercepat segalanya sehingga “Secukupnya” bisa menjangkau khalayak luas tanpa harus bergantung pada mesin promosi label besar. Spotify, YouTube, dan media sosial memberi jalan pintas antara lagu dengan pendengar yang tepat.

Lagu ini kerap menjadi teman di momen-momen sulit, terutama bagi mahasiswa dan pekerja muda yang akrab dengan tekanan akademik maupun profesional. Banyak yang menjadikannya latar saat begadang mengerjakan tugas, atau memutar ulang saat merasa kewalahan (overwhelmed) dengan tuntutan yang datang bertubi-tubi. Musik menjadi semacam ruang aman, tempat di mana perasaan bisa diakui tanpa merasa dihakimi. Secara tidak langsung, lagu seperti ini ikut mendorong percakapan soal kesehatan mental yang dulu jarang dibicarakan secara terbuka di Indonesia. Ketika sebuah lagu bisa membuat seseorang merasa, “Aku juga merasakan hal yang sama,” tentu itu bukanlah hal kecil.

Kita semua gagal

Ambil sedikit tisu

Bersedihlah secukupnya

Ah ah ah ah

Secukupnya kan masih ada

Meski begitu, ada sisi yang perlu dilihat secara kritis. Frasa “bersedihlah secukupnya” bisa didefinisikan secara dua arah, yaitu memberi kekuatan di satu sisi, tetapi di sisi lain berisiko membuat seseorang terlalu lama bertahan dalam kondisi yang sebetulnya sudah membutuhkan pertolongan profesional. Ada batas tipis antara menerima keterbatasan diri dengan menunda mencari bantuan, dan lagu ini tidak selalu bisa menarik garis tersebut dengan jelas.

Terlepas dari semua hal tersebut, faktor yang membuat “Secukupnya” terus diputar ulang bukanlah karena lagunya megah, melainkan karena Hindia tidak pernah mencoba memberikan kesan seperti itu. Lagu ini adalah bagian dari fase baru musik Indonesia, di mana kerentanan tidak lagi disembunyikan, tetapi diakui sebagai bagian dari pengalaman manusia. Di tengah dunia yang terus menuntut lebih cepat dan lebih sempurna, “Secukupnya” mengingatkan bahwa bertahan, meski hanya sekadarnya, tetap merupakan sebuah bentuk keberanian yang nyata.

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.