Oleh: Suci Rahmawati Siregar
Suara USU, Medan. “Rumah selalu memiliki kenangan. Dinding-dindingnya saksi bisu, jendela-jendelanya, daun pintunya, menyaksikan interaksi penghuninya. Menyimpan semua cerita penghuninya. Tapi rumah ini… rumah ini sungguh menyimpan banyak cerita.”
Kalimat tersebut diambil dari buku Hello karya Tere Liye. Novel ini merupakan salah satu karya populer yang diterbitkan pada 10 April 2023 oleh penerbit Sabak Grip. Novel ini ditulis dalam bahasa Indonesia dan memiliki total 320 halaman. Selain itu, buku ini juga menjadi bagian dari karya-karya Tere Liye yang dikenal luas dan diminati oleh berbagai kalangan pembaca di Indonesia.
“Rumah” sangat identik dengan kisah yang ada di dalam buku ini. Melalui latar rumah tua tersebut, pembaca diperkenalkan dengan karakter Ana, seorang tukang bangunan profesional yang memiliki semangat dan antusiasme tinggi terhadap pekerjaannya. Berkat keterampilan dan bakat yang dimilikinya, Ana bahkan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Kisah ini bermula ketika Ana menerima rencana untuk merenovasi rumah tua yang dimiliki oleh keluarga terpandang pada masa lalu. Sebelum memulai pekerjaannya, ia memutuskan untuk berkunjung dan melihat-lihat isi rumah tersebut. Saat berkeliling dan menjelajahi bagian-bagian rumah tersebut, Hesty, sebagai pemilik rumah, perlahan menceritakan kenangan masa lalunya saat masih tinggal di sana. Dari situlah Ana mengetahui kisah sepasang manusia yang lahir pada hari yang sama, namun memiliki nasib yang berbeda. Sepasang manusia itu adalah Hesty dan Tigor. Rumah tersebut kemudian tidak lagi sekadar bangunan tua, melainkan menjadi saksi perjalanan hidup yang penuh makna.
Novel ini menggunakan alur maju-mundur yang memperlihatkan kehidupan masa kini sekaligus masa lalu Hesty dan Tigor. Teknik ini membuat cerita terasa lebih hidup karena pembaca perlahan memahami hubungan dan konflik yang membentuk mereka. Keduanya digambarkan sebagai sahabat dekat yang menghabiskan banyak waktu bersama. Pembaca diajak menyelami perjalanan mereka, termasuk berbagai dinamika yang membentuk kehidupan masing-masing.
Menariknya, pada bagian akhir cerita, penulis menghadirkan plot twist yang cukup berkesan dan tak terduga. Berbeda dengan beberapa karya Tere Liye lainnya, seperti serial Bumi dan Hujan, yang menggunakan gaya bahasa lebih dominan dan beragam sehingga kesannya lebih kuat dan sering dianggap lebih kompleks, novel Hello justru menggunakan bahasa yang lebih ringan, sederhana, dan mudah dipahami. Karya-karya Tere Liye lainnya biasanya memiliki ciri bahasa yang khas karena banyak menggunakan majas, seperti personifikasi, metafora, hiperbola, serta ungkapan-ungkapan puitis. Hal ini kemungkinan besar ditujukan untuk menarik minat baca kalangan remaja, terlebih karena buku ini memang direkomendasikan untuk usia 15 tahun ke atas. Di sisi lain, kesederhanaan bahasa tersebut juga membuat novel ini terasa lebih ringan dibandingkan karya Tere Liye lainnya yang lebih kompleks dan kaya majas. Selain itu, penulis juga berhasil membawa pembaca seolah-olah masuk ke dalam kisah yang ditulisnya, sehingga emosi dan pengalaman para tokoh dapat dirasakan dengan lebih nyata oleh pembaca.
Sampul novel Hello juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena terlihat sederhana dan menarik. Ilustrasi rumah pada sampul memberikan kesan hangat sekaligus selaras dengan isi cerita yang menempatkan rumah sebagai simbol utama. Pemilihan warna dan visualnya membuat buku ini tampak menonjol serta berhasil membangun rasa penasaran pembaca saat melihatnya.
Adapun kelemahan novel Hello terletak pada alur cerita dan konflik yang cenderung mudah ditebak. Sejak awal, pembaca sudah dapat menduga bahwa hubungan Hesty dan Tigor akan terbentur oleh perbedaan status sosial serta penolakan keluarga Hesty. Alur kilas balik yang digunakan memang membuat cerita terasa rapi, tetapi pada beberapa bagian justru mengurangi unsur kejutan karena arah penyelesaian konflik sudah dapat diprediksi. Hal ini membuat tingkat ketegangan dan rasa penasaran menjadi sedikit berkurang, meskipun secara keseluruhan cerita tetap menarik untuk diikuti.
Meskipun demikian, Tere Liye tetap mampu menyajikan cerita dengan sentuhan khasnya, terutama melalui kehadiran Ana yang berperan penting dalam menggerakkan alur cerita. Di akhir cerita, penulis juga memberi isyarat bahwa giliran Ana yang akan merenda kisahnya.
Pada akhirnya, Hello bukan sekadar kisah tentang sebuah rumah sebagai tempat tinggal, melainkan tentang kenangan, pertemuan, dan perpisahan yang membentuk makna di dalamnya. Bagi pembaca, khususnya remaja, Hello menjadi bacaan yang ringan namun tetap sarat makna, serta mengajak kita untuk menyadari bahwa setiap tempat, sekecil apa pun, pasti menyimpan cerita. Dan seperti rumah dalam kisah ini, mungkin kita juga menyimpan banyak cerita yang diam-diam membentuk siapa diri kita hari ini.
Selain itu, banyak pemahaman yang dapat diserap ketika membaca novel ini. Salah satunya adalah bahwa hubungan yang baik dengan siapa pun memerlukan komunikasi, kesabaran, usaha, dan keikhlasan agar dapat terjalin secara harmonis.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment