
Reporter: M. Ghozi Muzakki
Suara USU, Medan. Dies Natalis Universitas Sumatera Utara (USU) yang ke-72 seharusnya menjadi momen refleksi yang mendalam bagi seluruh sivitas akademika, terutama mahasiswa. Selama tujuh dekade lebih, USU telah melahirkan ribuan lulusan yang tersebar di berbagai bidang, memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia. Namun, di balik semangat merayakan pencapaian ini, kita perlu merenungkan apakah institusi ini benar-benar telah bertransformasi sesuai harapan dan kebutuhan zaman. Apakah USU telah menjawab tantangan global yang semakin kompleks?
Rektor USU, Prof. Muryanto Amin, dalam pidato Dies Natalis ke-72 menegaskan pentingnya penyesuaian kurikulum untuk mempersiapkan mahasiswa untuk mampu menghadapi era global. Beliau juga menekankan perlunya keterampilan khusus, seperti di bidang digitalisasi, otomasi, dan energi untuk lulusan yang kompetitif di pasar global. Namun, bagi banyak mahasiswa, perubahan ini masih terasa sebagai wacana yang belum sepenuhnya terwujud di lapangan. Apakah benar kurikulum yang kita jalani saat ini sudah fleksibel dan adaptif terhadap perubahan industri yang cepat? Atau, jangan-jangan kita masih terjebak dalam pola pendidikan yang terlalu teoritis dan kurang mengedepankan pengalaman praktis?
Kritik ini bukan tanpa alasan. Mahasiswa di berbagai fakultas masih sering merasa bahwa apa yang mereka pelajari di kelas tidak selalu relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Magang dan KKN memang dijadikan solusi untuk menjembatani kesenjangan yang ada, namun berapa banyak dari program-program tersebut yang benar-benar dirancang untuk memberikan keterampilan praktis yang sesuai dengan tuntutan industri? Pengalaman magang misalnya, sering kali hanya menjadi formalitas, di mana mahasiswa ditempatkan di posisi yang tidak strategis, tanpa ada evaluasi nyata tentang peningkatan keterampilan mereka.
Selain itu, isu lain yang tidak kalah penting adalah pemerataan infrastruktur akademik. Prof. Muryanto juga mengakui pentingnya membangun ekosistem pendidikan tinggi yang kuat, termasuk dengan memperbaiki sarana dan prasarana. Namun, nyatanya di lapangan mahasiswa masih sering mengeluhkan fasilitas yang terbatas, laboratorium yang kurang memadai, ruang kelas yang panas dan kurang nyaman hingga akses internet yang tidak konsisten. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kompetensi global jika hal-hal mendasar seperti fasilitas belajar masih menjadi masalah?
Semangat untuk membentuk generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045 memang menjadi visi yang luar biasa. Namun, apakah USU telah benar-benar menyiapkan ekosistem yang mendukung hal ini? Pengalaman mahasiswa selama ini menunjukkan bahwa masih ada gap yang cukup besar antara visi tersebut dengan realitas yang dihadapi di lapangan. Pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi, kolaborasi lintas disiplin, serta ruang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi inovasi masih terasa minim.
Yang lebih mengkhawatirkannya lagi, mahasiswa sering merasa bahwa suara mereka kurang didengar. Banyak ide dan kritik konstruktif yang muncul dari mahasiswa, namun sering kali tidak mendapatkan tindaklanjuti dengan serius oleh pihak kampus. Di era di mana kolaborasi dan keterbukaan menjadi kunci sukses, seharusnya mahasiswa dilibatkan secara aktif dalam pengambilan keputusan kampus, terutama yang berkaitan dengan kurikulum dan fasilitas. Jika kita benar-benar ingin membentuk generasi pemimpin yang inovatif dan adaptif, kampus harus menjadi ruang yang inklusif, di mana dialog antara mahasiswa dan pihak universitas terjadi secara terbuka dan berkelanjutan.
Sebagai mahasiswa, kita tentu bangga menjadi bagian dari USU. Namun, kebanggaan ini harus disertai dengan keberanian untuk mengkritik demi kebaikan bersama. Ambisi membentuk generasi emas bukanlah hal yang mudah, dan tidak akan tercapai hanya dengan retorika indah. Kita butuh tindakan nyata. Saatnya USU bertransformasi menjadi institusi yang benar-benar mendengarkan, bergerak bersama mahasiswa, dan menciptakan ruang bagi inovasi yang lahir dari dialog yang jujur dan konstruktif. Dies Natalis ke-72 ini seharusnya menjadi titik tolak bagi USU untuk tidak hanya menoleh ke belakang, tetapi juga menatap ke depan dengan langkah yang lebih nyata dan inklusif.
Redaktur: Khaira Nazira
Leave a comment