Oleh: Ruth Jelita Laia
Suara USU, Medan. Bagi sebagian mahasiswa, menulis artikel ilmiah sering kali dianggap sebagai kewajiban akademik yang melelahkan. Namun, pandangan tersebut berbeda bagi Yoel Edward Hasugian, seorang mahasiswa Fakultas Hukum yang telah berhasil menerbitkan sembilan artikel jurnal ilmiah. Baginya, menulis bukan sekadar memenuhi tuntutan perkuliahan, melainkan cara mengabadikan proses berpikir sekaligus berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan.
Yoel merupakan mahasiswa semester 7 Departemen Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara (USU). Hingga saat ini, ia telah menerbitkan sembilan artikel ilmiah, yang terdiri atas tujuh artikel sebagai penulis tunggal dan dua artikel sebagai penulis pertama dalam penelitian kolaboratif. Pencapaian ini merupakan buah dari proses panjang membaca, mempertanyakan, meneliti, dan terus belajar.
Ketertarikannya pada dunia penelitian berangkat dari rasa ingin tahu yang besar. Ia mengaku sering mempertanyakan berbagai fenomena di sekitarnya. Baginya, menemukan jawaban saja belum cukup, pengetahuan yang hanya disimpan di kepala akan mudah terlupakan. Oleh karena itu, menulis menjadi caranya untuk menguji sekaligus mengabadikan proses berpikir tersebut.
“Aku cukup sering mempertanyakan suatu hal. Ketika menemukan pertanyaan, aku biasanya mencari jawabannya sampai benar-benar paham. Namun, kalau jawaban itu hanya berhenti di kepala dan tidak dituliskan, lama-kelamaan pengetahuan itu bisa hilang begitu saja. Menulis menjadi caraku untuk menguji sekaligus mengabadikan proses berpikir itu,” jelasnya.
Perjalanan akademik Yoel terbilang unik karena ia tidak berasal dari latar belakang ilmu sosial dan humaniora (soshum). Saat Sekolah Menengah Atas (SMA), ia menekuni bidang matematika dan beberapa kali mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) serta berbagai kompetisi matematika lainnya. Di dunia matematika, jawaban yang diperoleh hampir selalu pasti selama langkah penyelesaiannya benar. Sementara di dunia hukum, ia justru berhadapan dengan berbagai argumentasi, interpretasi, dan persoalan yang tidak selalu memiliki satu jawaban mutlak.
Perubahan cara berpikir tersebut menjadi tantangan tersendiri. Alih-alih menghindarinya, Yoel menjadikan tantangan itu sebagai pendorong untuk menyusun argumen secara sistematis. Menulis membantunya memastikan bahwa setiap pemikiran yang disampaikannya memiliki dasar akademik yang kuat.
Dalam mencari ide tulisan, Yoel tidak hanya terpaku pada isu-isu akademis formal. Menurutnya, hal-hal sederhana dan hobi yang digemari sehari-hari dapat diangkat menjadi gagasan penelitian, selama peneliti mampu melihat persoalan tersebut melalui sudut pandang hukum. Sebagai seorang penggemar JKT48, Yoel memanfaatkan ketertarikannya untuk meneliti Golden Rules JKT48 dari perspektif hukum.
“Orang mungkin melihat itu cuma aturan internal idol group, tapi bagiku itu tetap bisa dianalisis sebagai fenomena hukum yang menarik. Jadi, inspirasi penelitian itu sebenarnya bisa datang dari mana saja, asal kita mampu melihatnya dengan sudut pandang akademik,” tegas Yoel.
Di balik kesuksesannya menerbitkan sembilan jurnal, Yoel mengaku tantangan terbesar bukanlah proses menulis itu sendiri, melainkan menjaga konsistensi untuk terus berpikir di tengah padatnya aktivitas kuliah, organisasi, dan pelayanan. Menurutnya, selama mampu mengelola waktu dan menentukan prioritas, kegiatan menulis tetap dapat dilakukan di sela-sela kesibukan.
Ia juga menyadari bahwa setiap peneliti pasti akan menghadapi berbagai tantangan teknis, seperti sulitnya memperoleh data, revisi berulang, penolakan naskah, hingga kejenuhan (burnout). Ketika mengalami kejenuhan, Yoel tidak memaksakan diri. Ia memilih berhenti sejenak, menjauh dari distraksi, dan memberi ruang bagi pikirannya untuk beristirahat. Momen tersebut justru sering menjadi waktu produktif untuk menyusun kembali ide dan menemukan sudut pandang baru.
Yoel percaya bahwa riset bukanlah perlombaan mengejar jumlah publikasi, melainkan proses membangun cara berpikir yang matang. Oleh karena itu, ia lebih mengutamakan kualitas argumen dan kontribusi dari setiap artikel daripada sekadar banyaknya jumlah tulisan. “Kualitas akan selalu lebih bertahan daripada sekadar kuantitas,” pungkasnya.
Selain kualitas artikel, strategi memilih jurnal tujuan juga menjadi faktor penting. Sebagai mahasiswa S-1, Yoel memilih jurnal yang realistis dan sesuai dengan kapasitas penelitiannya saat ini. Berbeda dari kebanyakan penulis yang menentukan jurnal setelah artikel selesai, Yoel menetapkan jurnal tujuan sejak awal riset. Hal ini memudahkannya menyesuaikan fokus pembahasan, author guidelines, hingga template penulisan sesuai karakter jurnal yang dituju.
Bagi Yoel, revisi maupun penolakan dari editor dan reviewer bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Tahap review menunjukkan bahwa naskahnya memiliki potensi untuk dikembangkan. Jika terjadi penolakan, ia akan mengevaluasi naskah, menyesuaikannya dengan pedoman jurnal lain, lalu kembali mengirimkannya.
Terkait biaya publikasi, Yoel mengungkapkan bahwa mayoritas jurnal yang diterbitkannya tidak dikenakan Article Processing Charge (APC). Dari sembilan artikelnya, enam terbit secara gratis dan tiga lainnya berbayar dengan dua artikel kolaboratif yang biayanya ditanggung bersama. Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak perlu takut mempublikasikan karya ilmiah hanya karena alasan biaya, sebab banyak jurnal berkualitas yang tidak memungut biaya publikasi.
“Pada akhirnya, naskah yang baik akan selalu memiliki lebih banyak peluang dibandingkan sekadar mengandalkan kemampuan membayar biaya publikasi,” jelasnya.
Menurut Yoel, kemampuan paling penting bagi peneliti pemula bukanlah sekadar keterampilan menulis, melainkan kemampuan berpikir kritis, rasa ingin tahu, dan kesabaran menjalani proses yang panjang. Penelitian bukanlah perlombaan yang harus diselesaikan secepat mungkin, melainkan proses yang menuntut konsistensi serta kerendahan hati untuk terus belajar.
Yoel mengajak seluruh mahasiswa agar tidak takut memulai penelitian dan mempublikasikan hasil pemikirannya sejak di bangku kuliah. Ia percaya bahwa mahasiswa bukan hanya penerima ilmu, melainkan juga pencipta pengetahuan melalui budaya riset, diskusi, dan publikasi.
“Jangan menunggu percaya diri. Jangan menunggu merasa pintar. Jangan menunggu merasa siap. Yang membuat kita berkembang justru keberanian untuk memulai,” pesannya. Bagi Yoel, sebuah tulisan tidak harus sempurna untuk memberikan manfaat. Yang terpenting adalah keberanian menghadirkan gagasan dan terus belajar agar setiap karya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Redaktur: Rifatul Suadah
Leave a comment