Home Opini Disaat Mahasiswa Dipaksa untuk Memilih, Tekanan Akademik atau Kesehatan?
Opini

Disaat Mahasiswa Dipaksa untuk Memilih, Tekanan Akademik atau Kesehatan?

Share

Oleh: Najla Tsabita

Suara USU, Medan. Di tengah kesibukan perkuliahan yang semakin padat, mahasiswa sering kali terjebak dalam dilema antara mengejar prestasi akademik dan menjaga kesehatan. Banyak mahasiswa yang memaksakan diri untuk hadir di kelas, mengikuti ujian, atau menyelesaikan tugas meskipun kondisi kesehatan mereka menurun.

Fenomena ini menjadi semakin kompleks karena mahasiswa merasa terperangkap dalam sistem yang menuntut mereka untuk selalu tampil prima. Tuntutan untuk berprestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik, seolah menjadi standar utama untuk dinilai sebagai mahasiswa yang “sukses.” Namun, tekanan akademik yang berlebihan berpotensi merusak kualitas hidup dan memperburuk kondisi kesehatan mereka. Banyak mahasiswa menghadapi pilihan sulit, mereka merasa harus tetap aktif di kampus dan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas demi memenuhi ekspektasi.

Dari sudut pandang akademik, beberapa mahasiswa beranggapan bahwa mengurangi frekuensi hadir atau tidak menyelesaikan tugas sesuai tenggat waktu akan menurunkan performa mereka. Pandangan ini perlu dikritisi, karena sistem pendidikan yang menuntut “kesempurnaan” sering kali mengabaikan faktor-faktor manusiawi dalam diri setiap mahasiswa. Keberhasilan akademik seharusnya tidak hanya diukur dari angka atau prestasi di atas kertas, tetapi juga dari proses belajar yang sehat dan berkelanjutan.

Menyadari kenyataan ini, universitas dan pengampu kebijakan perlu menilai kembali sistem yang ada. Kampus seharusnya lebih fleksibel dalam memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengatur waktu dengan bijak tanpa merasa takut akan sanksi hanya karena memilih untuk beristirahat atau memprioritaskan kesehatan. Pendekatan ini bukan hanya tentang menciptakan kebijakan yang lebih manusiawi, tetapi juga tentang membangun ekosistem akademik yang sehat, di mana mahasiswa dapat tumbuh dan berkembang.

Dilema antara memilih akademik atau kesehatan bukan hanya masalah individu, tetapi juga mencerminkan tantangan sistem pendidikan tinggi secara keseluruhan. Pemerintah dan institusi pendidikan perlu bekerja sama untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih manusiawi, yang tidak hanya berfokus pada angka atau peringkat, tetapi juga menghargai kesejahteraan dan pengembangan pribadi mahasiswa.

Harapannya di masa depan adalah agar mahasiswa tidak lagi dihadapkan pada pilihan sulit ini. Prestasi akademik dan kesehatan seharusnya dapat berjalan beriringan, sehingga mahasiswa dapat meraih tujuan akademiknya tanpa mengorbankan kesehatan mereka. Sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi sangat penting untuk menciptakan lingkungan akademik yang sehat, yang tidak hanya mengutamakan angka tetapi juga memperhatikan kesejahteraan mahasiswa.

Redaktur: Hanna Letare

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.