
Oleh: Zeno Samorudu Telaumbanua, M. Adhitya Fathir Harahap, Arini Dwi Artika, Rahmi Ramadhani Simatupang, Angelina M. Sitorus, Bina Elva Riyani Br Sembiring, Atikah Rahmah.
Suara USU, Medan. Fenomena perubahan iklim kini menjadi isu global yang menuntut aksi nyata dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa. Climate Strike (mogok iklim) adalah protes yang menuntut para pemimpin dunia untuk segera bertindak mengatasi krisis iklim. Aksi ini merupakan teguran moral yang keras bagi para politisi dan generasi tua yang dianggap lamban dan gagal melindungi lingkungan. Krisis iklim merupakan masalah besar yang memengaruhi seluruh dunia. Globalisasi dengan segala kemajuan teknologi dan perdagangannya memang mempercepat kerusakan lingkungan. Namun, globalisasi juga memberi mahasiswa kekuatan baru; mereka dapat terhubung dan bertindak secara simultan di mana pun. Aksi mereka hari ini adalah bukti bahwa ancaman terhadap bumi melampaui batas negara. Oleh karena itu, mogok iklim ini merupakan bukti nyata bahwa para mahasiswa memiliki kesadaran kewarganegaraan dan lingkungan yang lebih kuat. Mereka tidak hanya memikirkan negara mereka sendiri, tetapi juga menuntut keadilan bagi semua generasi dan perubahan besar dalam cara dunia bekerja.
Dalam studi ini, peneliti melibatkan 16 mahasiswa sebagai perwakilan dari komunitas hijau sebagai responden melalui kuesioner online untuk memahami bagaimana aksi Climate Strike dipandang sebagai fenomena sosial di era globalisasi. Berdasarkan pernyataan para mahasiswa aktivis lingkungan, aksi mogok iklim ini dianggap sangat penting dan tidak dapat disangkal. Aksi ini bukan hanya tentang mendapatkan perhatian, tetapi juga tentang menyelamatkan masa depan. Responden juga menekankan satu poin penting, yakni institusi (kampus dan organisasi mahasiswa) memainkan peran penting dalam aksi ini. Artinya, gerakan ini bukanlah protes liar dan tak terorganisir; justru dukungan kampuslah yang membuat aksi ini sah, terencana, dan berdampak lebih besar. Meskipun terorganisir dengan baik, gerakan ini menghadapi kendala terbesar, yaitu kurangnya perhatian dari pemerintah daerah.
Para mahasiswa aktivis lingkungan hidup adalah yang paling frustrasi karena mereka menyaksikan langsung kerusakan lingkungan di wilayah mereka, baik itu polusi pabrik, penumpukan sampah, maupun izin pertambangan yang merusak hutan. Ketika mereka melakukan aksi mogok dan menyuarakan temuan di lapangan, mereka merasa pemerintah daerah tidak serius menanggapi aksi tersebut atau mengambil tindakan tegas. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah seharusnya menjadi garda terdepan dalam pengelolaan lingkungan hidup di daerah, tetapi ketidakpedulian ini justru menjadi penghalang yang menghalangi perubahan nyata.
Aksi mogok iklim ini membuktikan satu hal, yaitu mahasiswa telah memenuhi kewajiban kewarganegaraan mereka. Lebih dari sekadar mogok, ini adalah pelajaran tentang aspek paling nyata dari kehidupan bermasyarakat di era global. Temuan penelitian ini jelas bahwa mahasiswa menganggap tindakan ini krusial dan didukung oleh kampus mereka. Mereka cukup berani untuk bersuara demi kebaikan bersama. Namun, saat ini, kita menghadapi masalah terbesar dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu kurangnya perhatian dari pemerintah daerah. Ketika pemerintah mengabaikan data dan suara mahasiswa pecinta alam, yang merupakan warga negara paling berpengetahuan tentang kondisi lingkungan setempat, hal ini mencerminkan kegagalan tanggung jawab kewarganegaraan di tingkat kepemimpinan. Kewarganegaraan bukan hanya hak untuk berunjuk rasa, tetapi juga kewajiban para pemimpin untuk mendengarkan dan bertindak demi kebaikan semua warga negara. Jika pemerintah daerah terus berdiam diri, mereka tidak hanya tidak akan melindungi alam, tetapi juga akan mematikan semangat kewarganegaraan generasi muda. Mahasiswa telah bangkit, institusi telah mendukung mereka. Kini giliran pemerintah daerah membuktikan bahwa mereka betul-betul melaksanakan tanggung jawab kewarganegaraan dengan mentransformasi kritik mahasiswa menjadi kebijakan yang ramah lingkungan.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan dosen pengampu Bapak Onan Marakakali Sirefgar, S.sos., M.Si.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment