Reporter: Dinda Sajidah dan Siti Farhatun Nafis Azhari
Suara USU, Medan. Massa aksi Hari Buruh menutup rangkaian demonstrasi di Lapangan Merdeka Medan pada Jumat (01/05) dengan mendengarkan orasi terakhir dari sejumlah perwakilan buruh dan mahasiswa. Dalam orasi tersebut, massa menegaskan bahwa perjuangan menuntut keadilan bagi kaum pekerja tidak akan berhenti pada peringatan May Day saja.
Pimpinan aksi, Didi, menyampaikan bahwa buruh merupakan kelompok kerja mayoritas yang selama ini menopang kehidupan masyarakat. Menurutnya, berbagai kebutuhan sehari-hari yang digunakan masyarakat berasal dari kerja petani, peternak, hingga buruh. Namun, para pekerja masih menjadi kelompok yang sering mengalami ketidakadilan.
Ia mengatakan buruh seharusnya mendapatkan ruang hidup yang lebih layak, berkembang, dan sejahtera. Didi juga menyoroti sikap pemangku kebijakan yang dinilai belum peka terhadap momentum Hari Buruh. Menurutnya, ketidakhadiran DPRD Sumatera Utara dalam menemui massa menunjukkan bahwa persoalan buruh belum dianggap mendesak untuk didengar.
Sebelumnya, seorang peserta aksi dari penyelenggara Aksi Kamisan, Tesa, turut menyampaikan kekecewaannya atas absennya anggota dewan pada peringatan Hari Buruh tahun ini. Ia menilai kehadiran DPRD seharusnya menjadi bentuk penghargaan sekaligus ruang dialog terhadap berbagai persoalan yang dihadapi pekerja.
“Ketika buruh turun ke jalan membawa tuntutan, tetapi pihak yang memiliki kewenangan justru tidak hadir, itu menunjukkan masih kurangnya kepedulian terhadap nasib buruh,” ujarnya.
Tesa menambahkan bahwa aksi serupa akan terus dilakukan sebagai bentuk pengawalan terhadap isu perubahan. Dalam waktu dekat, massa berencana melanjutkan konsolidasi pada Hari Pendidikan Nasional sebagai upaya menjaga tekanan kepada pemerintah agar lebih responsif terhadap tuntutan rakyat.
Menanggapi hal tersebut, Didi menyatakan pihaknya akan mengambil langkah lanjutan melalui media kampanye, termasuk menyurati sikap ketidakpedulian Gubernur Sumatera Utara terhadap massa aksi yang datang dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Ia menilai tindakan tersebut dapat memecah kelompok masyarakat agar menjadi lemah.
“Kami mengecam dan mengutuk tindakan mereka yang tidak pro terhadap rakyat. Mereka membuat politik bambu pecah belah,” ucap Didi.
Sebagai simbol kekecewaan atas ketidakpedulian tersebut, massa sempat membakar ban dan menuliskan sejumlah pesan tuntutan di permukaan aspal di sekitar titik aksi sambil meneriakkan yel-yel perjuangan. Suasana penutupan demonstrasi kemudian dilanjutkan dengan seorang peserta aksi bernama Lusty yang menyanyikan lagu ciptaannya sendiri di hadapan massa.
Dalam nyanyiannya, Lusty mengajak peserta aksi untuk tetap bersatu dalam menyuarakan ketidakadilan di Sumatera Utara. “Medan hentakkan kawan-kawan bersatu, suarakan ketidakadilan. Medan hentakkan kawan-kawan bersatu, serukan perlawanan,” nyanyiannya diikuti massa aksi.
Dalam orasi penutup, Didi juga mengajak mahasiswa untuk tidak hanya hadir dalam demonstrasi, tetapi datang langsung ke tengah masyarakat dan buruh untuk berdialog serta memahami persoalan yang mereka hadapi. Aksi kemudian ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh massa yang bertahan hingga akhir kegiatan, dilanjutkan dengan sesi dokumentasi bersama sebagai penanda berakhirnya demonstrasi Hari Buruh di Medan.
Redaktur: Debora Gracia Nauli
Leave a comment