Reporter: Suci Rahmawati Siregar, Tania Renata Panjaitan, Dona Uli Sri Utami
Suara USU, Medan. Seorang peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Sumatera Utara (USU), Kezya Pasaribu, mengalami kendala teknis berupa keyboard komputer yang tidak berfungsi saat pelaksanaan ujian, sehingga menyebabkan jawaban esai pada subtes Penalaran Kuantitatif (PK) tidak dapat diinput saat mengikuti UTBK yang berlangsung pukul 06.45 hingga 10.30 WIB di laboratorium komputer Fakultas Teknik (FT), Program Studi (Prodi) Teknik Sipil pada 23 April 2026.
Permasalahan muncul sejak menit awal ujian, tepatnya ketika Kezya mulai mengerjakan soal esai pada subtes PK. Meskipun telah melaporkan kendala tersebut kepada panitia UTBK sejak menit ke-3, penanganan yang diberikan dinilai kurang sigap. Peserta hanya diarahkan untuk melanjutkan pengerjaan soal lain terlebih dahulu dan menunda proses input jawaban. Namun, hingga waktu ujian hampir berakhir, keyboard masih belum dapat digunakan.
“Dari awal sudah saya laporkan, tapi hanya diperiksa tanpa ada tindakan. Kenapa tidak langsung diganti sejak awal?” ujarnya dalam wawancara dengan Suara USU (01/05/26).
Kezya mengaku telah melaporkan permasalahan ini sebanyak tiga kali kepada pihak teknisi. Laporan pertama ditanggapi dengan arahan untuk mengerjakan bagian lain terlebih dahulu tanpa adanya perbaikan. Laporan kedua hanya ditindaklanjuti dengan pemeriksaan singkat tanpa solusi nyata. Terakhir, laporan ketiga baru mendapat perhatian ketika waktu ujian Kezya tersisa sekitar 4 menit 25 detik, tetapi kondisi tetap tidak dapat diperbaiki.
Keyboard baru diganti setelah waktu peserta untuk menyelesaikan subtes pertama telah selesai dan memasuki subtes kedua, yaitu Penalaran Umum (PU). Akibatnya, seluruh jawaban esai pada subtes PK tidak dapat diinput hingga waktu ujian berakhir.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada hilangnya potensi nilai dalam tes, tetapi juga memengaruhi konsentrasi Kezya pada subtes selanjutnya. Kezya mengaku mengalami kepanikan dan kesulitan fokus setelah kejadian tersebut.
“Yang saya kerjakan jadi terasa sia-sia. Setelah itu saya juga sudah tidak fokus mengerjakan soal berikutnya,” tambahnya.
Pasca ujian, peserta mengaku telah mengisi kuesioner evaluasi yang diberikan panitia di lokasi. Selain itu, ia juga membagikan pengalamannya melalui media sosial sebagai bentuk penyampaian keluhan sekaligus peringatan bagi peserta lain.
Namun, hingga saat ini, ia menyebut belum menerima tanggapan atau tindak lanjut dari pihak penyelenggara terkait laporan yang telah disampaikan.
Sementara itu, panitia yang bertugas di Lab Teknik Sipil USU (S) menginformasikan bahwa insiden tersebut terjadi pada sesi 1 (06.45–10.30 WIB). Ia menegaskan bahwa seluruh perangkat telah melewati prosedur pengecekan ketat sebelum ujian dimulai.
“Sebelum ujian dimulai, kami sudah melakukan pemeriksaan. Tidak ada masalah pada komputer tersebut. Bahkan, pada saat tahap login hingga pengerjaan soal pilihan ganda, komputer peserta berfungsi normal. Masalah baru muncul saat masuk ke subtes esai,” jelasnya.
Menanggapi keluhan peserta mengenai alasan tidak langsung mengambil solusi yang nyata, seperti dipindahkan ke komputer cadangan atau mengganti keyboard, (S) menjelaskan adanya risiko yang dapat merugikan peserta lebih jauh.
“Kami mempertimbangkan keterbatasan waktu. Selain itu, karena sistem ini terpusat, perpindahan komputer berisiko memaksa peserta mengulang dari awal atau, lebih buruk lagi, sistem dapat menganggap sesi selesai secara otomatis sehingga jawaban langsung terkirim dan terkunci,” ungkap (S).
Pihak panitia menyayangkan adanya persepsi bahwa mereka tidak responsif. (S) menyatakan bahwa ia terus memantau kondisi peserta hingga ujian berakhir. Namun, menurutnya, terdapat miskomunikasi mengenai apa yang dilaporkan peserta.
“Peserta hanya melaporkan keyboard tidak berfungsi, tetapi tidak melaporkan bahwa ada soal yang tidak terjawab akibat kendala tersebut. Saya menunggu sampai seluruh peserta pulang, berharap ada laporan lanjutan agar bisa saya dampingi ke Pusat Sistem Informasi (PSI) untuk mencari solusi teknis, namun peserta langsung pulang dan hanya mengisi evaluasi panitia tanpa adanya laporan langsung,” tambahnya.
Terkait viralnya keluhan tersebut di media sosial, panitia berharap peserta lebih bijak dan menggunakan jalur resmi yang telah disediakan oleh universitas. (S) menekankan bahwa dari total tujuh subtes dengan 170 soal, hanya empat soal esai yang terkendala, sementara sisa soal lainnya berhasil dikerjakan dengan aman setelah keyboard berfungsi kembali. Namun, menurut pengakuan Kezya, ada sekitar enam hingga tujuh soal yang tidak terjawab akibat kendala tersebut.
“Seharusnya bisa melapor secara resmi atau secara langsung terlebih dahulu daripada langsung ke media sosial, karena tidak semua informasi yang beredar itu sepenuhnya benar. Kami selalu siap membantu jika ada laporan resmi di lokasi sesuai prosedur yang berlaku,” tutup (S).
Menanggapi kejadian tersebut, pihak panitia UTBK dari Pusat Sistem Informasi (PSI) menyatakan bahwa setiap permasalahan yang terjadi selama pelaksanaan ujian telah memiliki mekanisme penanganan tersendiri sesuai prosedur yang berlaku.
Perwakilan panitia, Ainul Hizriyadi, menjelaskan bahwa peserta yang mengalami kendala dapat menyampaikan keluhan melalui jalur resmi yang telah disediakan, seperti pengisian kuesioner evaluasi setelah ujian maupun dengan datang langsung ke sekretariat panitia.
“Permasalahan dapat diselesaikan melalui mekanisme atau jalur yang sudah ditentukan. Setelah ujian, peserta juga diarahkan untuk mengisi kuesioner sebagai salah satu perantara dalam menyampaikan keluhan kepada panitia,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa peserta juga diberikan kesempatan untuk mengajukan kendala secara langsung dengan menyampaikan kronologi kejadian kepada pihak panitia agar dapat ditindaklanjuti sesuai prosedur.
Menurutnya, panitia hanya dapat menanggapi laporan yang disampaikan melalui jalur resmi. Sementara itu, penyampaian keluhan melalui media sosial dinilai berpotensi menimbulkan kesalahan persepsi.
“Kalau dari jalur lain seperti media sosial, kami tidak bisa menanggapi. Kami hanya bisa menanggapi keluhan yang diajukan sesuai dengan jalur yang sudah ditentukan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa dalam pelaksanaan UTBK, panitia telah melakukan berbagai langkah antisipatif, seperti pengecekan perangkat komputer sebelum ujian berlangsung serta penyediaan komputer cadangan apabila terjadi kendala teknis. Namun, setiap penanganan tetap harus melalui prosedur pemeriksaan oleh pengawas sesuai standar operasional yang berlaku.
“Semua permasalahan akan ditangani sesuai dengan SOP yang ada,” tutupnya.
Terakhir, Kezya menyatakan harapan agar ke depannya panitia UTBK dapat lebih siap, sigap, dan selektif dalam menjalankan tugasnya. “Saya berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Saya berharap panitianya diseleksi lebih lanjut supaya mereka benar-benar memiliki kesiapan untuk menjadi seorang panitia,” tutupnya.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment