SUARA USU
Entertaiment Film Kabar SUMUT

Alteraksi#5: Dunia Antara, Saat Menonton Film Bukan Sekadar Hiburan

Reporter: Muhamad Keyvin Syah dan Sinta Alfila

Suara USU, Medan. Besi berani bersama Kinocolony mengadakan kegiatan Alteraksi#5: Dunia Antara di kota Medan 24-25/06 tepatnya di Degil House dan cafe 177. Sebuah konsep baru dalam menonton yaitu interaksi antar penonton setelah film selesai diputar. Kegiatan yan menjadikan film sebagai alat bantu untuk membicarakan sekaligus mengalami beragam opini, pandangan, perasaaan serta persoalan dalam kehidupan sehari hari.

Kegiatan diawali dengan menonton film dengan judul “Pesantren” pada Jumat dan “Jermal” pada hari Sabtu. Setelah film selesai diputar mereka mengajak para penonton untuk saling berdiskusi dalam sesi Tukarpandang. Diskusi mengaitkan film dengan kehidupan sehari-hari. Seolah mengajak para penonton ikut bersuara dengan bebas untuk mengeluarkan pandangannya.

Diskusi saat acara Alteraksi

Pada 25/06 kami hadir untuk ikut serta dalam acara tersebut. Secara garis besar tema pada hari itu adalah kondisi yang serba salah atau mentok. Hal ini sesuai dengan film Jermal yang mengisahkan sebuah tempat di tengah lautan yang terbuat dari kayu dimana orang-orang disana tidak bisa pergi kemanapun. Akhir film penonton saling berbagi cerita tentang situasi yang sama seperti di film.

“Biasanya hanya suara orang-orang yang mempunyai kompetensi dalam dunia film yang didengar, namun bagi kami suara penonton juga suara yang penting untuk didengar. Supaya film juga menjadi metode belajar, metode refleksi, metode dialog selain hiburan. Kasarnya dunia antara bermakna jeda atau keadaan setelah film berakhir dan realita kehidupan sehari-hari. Alteraksi ingin mengisi ruang ini dengan diskusi antar penonton” ungkap Rival ahmad selaku penggagas Alteraksi dari komunitas Besi Berani.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan pengalaman nonton di bioskop yang hanya datang, duduk, diam, lalu pulang. Kita diberi ruang untuk berekspresi. Penonton bukan hanya sebagai penikmat film, tetapi juga sebagai manusia yang perlu didengar suaranya.

“Kinocolony adalah gerakan alternatif untuk menawarkan pengalaman baru dalam menonton film. Kami ingin penonton menikmati program bukan hanya sekedar nonton bareng. Ini agar penonton dapat memetik sesuatu setelah menonton film.” Ungkap Kaleb salah satu pencetus Kinocolony.

Kendala dan tantangan yang mereka temui adalah sulitnya mencari tempat yang cocok untuk menonton film. Bagi mereka pengalaman menonton yang nyaman menjadi prioritas utama. Terkadang mencari partner untuk kerjasama juga bukan perkara mudah. Selain itu mereka dihadapkan dengan kesibukan masing-masing yang menyita waktu.

Belum ada rencana pasti kapan dan dimana akan mengadakan kegiatan selajutnya. Namun mereka akan terus mencari cara untuk mengembangkan kegiatan ini. Mereka juga mendorong mahasiswa USU dan SUARA USU untuk mengadakan kegiatan menonton film di kampus. Tak lupa mereka menawarkan diri untuk dapat diajak berkolaborasi.

Redaktur: Theresa Hana

Related posts

Berhasil Trending di YouTube! Inilah Makna dari Lagu Tak Ingin Usai Oleh Keisya Levronka

redaksi

Ranah 3 Warna, Kisah Perjuangan Meraih Sebuah Mimpi

redaksi

Raih Popularitas Netflix Tertinggi Sepanjang Sejarah Dunia, Red Notice Berhasil Curi Perhatian Publik

redaksi