Home Kabar Kampus Antar Lintas Skena, Banda Neira Menjemput Waktu yang Tertinggal
Kabar Kampus

Antar Lintas Skena, Banda Neira Menjemput Waktu yang Tertinggal

Share

Oleh: Nanda Shohibul, Grace Nathania

Suara USU, Medan. Untuk yang kesekian kalinya, Antar Lintas Skena terus menjadi ranah musik anti-mainstream di Medan dengan konsisten menghadirkan band-band lintas kota. Sebelumnya, mereka telah mendatangkan nama-nama seperti Dongker, Morfem, hingga Honey yang lekat dengan gigs dan komunitas skena. Kini, giliran Banda Neira yang dihadirkan sebagai momen spesial bagi penikmat musik indie di Medan.

Setelah delapan tahun hiatus, Banda Neira akhirnya kembali menyapa para pendengar setianya melalui konser bertajuk “Panggung Intim: Berjalan Lebih Jauh ke Medan” yang digelar Sabtu (03/05) di Gedung D’Hall Medan. Konser yang diselenggarakan oleh Antar Lintas Skena ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kembalinya Banda Neira ke panggung musik Indonesia.

Open gate dimulai sejak pukul 17.00 WIB. Acara dibuka dengan penampilan dua musisi lokal, Tiurma dan Yoko City Ghost, yang sukses menghangatkan suasana dengan aransemen akustik dan lirik yang kuat secara emosional. Kehadiran mereka menambah warna pada konser malam itu, yang sengaja dirancang untuk menciptakan kedekatan tanpa jarak antara musisi dengan pendengarnya.

Sekitar pukul 21.00 WIB, lampu diredupkan. Dari balik panggung sederhana, Ananda Badudu muncul bersama rekan duetnya Sasha Iguana. Sontak para penonton pun bertepuk tangan menyambut keduanya naik ke atas panggung.  Mereka menyapa, menghadirkan nuansa khas Banda Neira yang puitis, tenang, namun memberi kesan dalam pada penggemarnya. Keduanya tampil menyatu dalam harmoni yang lembut, membawa kembali kerinduan akan lirik-lirik reflektif dan suara-suara yang pernah mengisi ruang-ruang sunyi para pendengarnya.

Mereka membawakan sejumlah lagu yang sangat ditunggu: “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti”, “Di Atas Kapal Kertas”, “Kisah Tanpa Cerita”, hingga “Sampai Jadi Debu”. Tiap lagu tidak sekadar dinyanyikan, tetapi diceritakan. Dalam beberapa jeda, Ananda berbagi kisah reflektif soal perjalanan Banda Neira, tentang jeda, kehilangan, keberanian untuk kembali, dan bagaimana musik bisa jadi jembatan harapan di tengah sunyi.

Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat lagu “Sampai Jadi Debu” dibawakan dengan tata cahaya yang lembut dan diiringi dengan ketukan piano. Banyak penonton tampak bernyanyi, beberapa bahkan menujukkan keromantisan terhadap pasangannya. Konser malam itu terasa bukan seperti pertunjukan biasa, melainkan seperti ritual penyembuhan bersama.

Dengan konsep panggung yang minim properti namun penuh isi, “Panggung Intim” benar-benar menjadi perayaan rasa. Tidak ada gimmick, tidak ada kemewahan. Hanya suara, cerita, dan nada.

“Terima kasih Medan. Semoga di kesempatan lain kita bisa bertemu lagi.” ucap Ananda dari atas panggung, disambut gemuruh riuh tepuk tangan.

Meski tanpa standing ovation, apresiasi penonton terasa lewat tepuk tangan yang panjang yang mengisi ruangan. Beberapa bahkan enggan beranjak, seolah belum siap meninggalkan ruang penuh kenangan itu.

“Malam ini seru lah pokoknya, dibikin terpukau sama performnya Banda Neira” ucap Alya, salah satu penggemar. “Terimakasih banget ke Antar Lintas Skena udah bikin konsep panggung intim yang semenyenangkan ini. Harapannya bisa berlanjut lagi dan datengin band-band dari kota lain yang keren-keren” dilanjut oleh temannya, Dita.

Medan telah menjadi saksi, bahwa meski sempat menghilang selama delapan tahun, Banda Neira tidak pernah benar-benar pergi. Dan malam itu, mereka kembali, membawa pulang kenangan, harapan, dan ruang untuk kita semua berjalan lebih jauh.

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.