Oleh: Alicia Reylina
Suara USU, Medan. Aksi danusan mahasiswa menjadi jawaban di tengah tantangan gejolak finansial dan keterbatasan anggaran untuk menyelenggarakan acara organisasi ataupun komunitas kampus. Dari sudut pandang sederhana, aksi ini hanyalah tentang memberikan atau menerima bantuan dalam bentuk materi atau dukungan. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, aksi danusan membuka jendela luas untuk memahami kompleksitas hubungan sosial, empati, dan dinamika kehidupan mahasiswa. Meski demikian, apakah berjualan dan mengamen menjadi hal yang sesuai dengan kedudukan mahasiswa sebagai seorang pelajar?
Dana usaha atau danusan merupakan salah satu upaya yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa untuk mengumpulkan uang tambahan guna mendukung berjalannya sebuah program kerja atau acara dalam sebuah organisasi. Keterbatasan pendanaan dari pihak kampus membuat fenomena danusan menjadi hal yang umum dilakukan oleh para mahasiswa dari tahun ke tahun sebagai respon atas kurangnya anggaran untuk keberlangsungan kegiatan organisasi yang diikuti mahasiswa.
Ada dua ide danusan yang paling konvensional di antara mahasiswa yaitu jualan dan mengamen. Berjualan dan mengamen menjadi ide danusan yang paling sering diadopsi mahasiswa sebab memiliki relevansi yang kuat dengan konteks kehidupan kampus dan kebutuhan mahasiswa. Mulai dari modal yang dikeluarkan untuk mendapatkan keuntungan itu terjangkau, di mana hal ini meringankan mahasiswa yang merantau. Lalu fleksibilitas waktu berjualan dan mengamen dengan jadwal kuliah mahasiswa memungkinkan mahasiswa untuk tetap menjaga keseimbangan antara akademik dan kegiatan lainnya.
Hal-hal di atas yang membuat beberapa mahasiswa menganggap bahwa aksi danusan seperti jualan dan mengamen merupakan solusi praktis dalam menghadapi keterbatasan anggaran yang mereka miliki. Meski begitu, tidak semua mahasiswa sepakat akan hal tersebut. Adanya anggapan dari beberapa mahasiswa lain bahwa aksi danusan seperti jualan dan mengamen rasanya tidak sesuai dengan citra yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa. Menganggap bahwa tindakan tersebut merupakan hal yang memalukan sebab adanya pandangan bahwa ‘mahasiswa’ seharusnya dapat menemukan alternatif lain untuk mengumpulkan dana tambahan. Contohnya seperti mengajar bimbel, mengikuti lomba, bergabung dalam proyek penelitian, menjadi asisten laboratorium, atau menulis artikel untuk surat kabar dan majalah. Namun faktanya, penting untuk mengakui bahwa kesempatan untuk jenis pekerjaan semacam itu tidak selalu tersedia, dan bahkan jika tersedia, tidaklah mudah untuk memperolehnya.
Di luar dari sesuai atau tidaknya aksi jualan dan mengamen dengan kedudukan mahasiswa, aksi danusan seperti ini juga berdampak signifikan dalam mempererat solidaritas dalam sebuah organisasi. Melalui danusan, anggota dapat merasakan keterikatan yang kuat satu sama lain, menciptakan atmosfer kebersamaan yang memperkaya hubungan sosial di dalam organisasi. Danusan menciptakan platform untuk merayakan keberagaman dan mengatasi perbedaan, membentuk budaya inklusif yang mendorong partisipasi semua anggota.
Dengan demikian, kesesuaian aksi danusan dengan kedudukan mahasiswa sebagai pelajar dikembalikan kepada penilaian dan perspektif individu mahasiswa. Sebagian mungkin melihat danusan sebagai kesempatan untuk memperdalam interaksi sosial, mengurangi beban keuangan, dan memperoleh pengalaman berharga dalam kerja sama dan berwirausaha, sementara yang lain mungkin menganggapnya sebagai gangguan terhadap fokus utama pada pendidikan dan potensial penciptaan stereotip yang tidak diinginkan tentang mahasiswa. Jadi, bagaimana menurut sobat Suara USU?
Redaktur: Hanna Letare
Leave a comment