Home Film Bahasa Isyarat sebagai Bahasa Jiwa dalam Twinkling Watermelon
Film

Bahasa Isyarat sebagai Bahasa Jiwa dalam Twinkling Watermelon

Share
Twinkling Watermelon Poster (cttro)

Penulis: Nisa Putri Andini

Twinkling Watemelon berkisah tentang Ha Eun Gyeol seorang CODA (Children of Deaf Adult) atau biasa sebutan yang digunakan untuk anak yang dapat mendengar, yang lahir dari kedua orang tua yang tunarungu. Ha Eun Gyeol, yang memiliki keluarga tunarungu, sering kali merasa terisolasi oleh masyarakat. Dengan kondisi keluarga yang seperti itu, ia seringkali merasa kesulitan untuk sepenuhnya memahami dunia keluarganya, yang penuh dengan keheningan. Sampai pada suatu hari secara tiba-tiba Eun Gyeol berteleportasi dan pindah ke tahun 1995 lalu bertemu dengan ayahnya Ha Yi Chan dan Ibunya Yoon Cheong Ah saat mereka berumur 18 tahun.

Dalam perjalanan waktunya, Ha Eun Gyeol menemukan banyak fakta yang selama ini disembunyikan oleh orang tuanya, salah satunya adalah bahwa ayahnya bukanlah tunarungu sejak lahir melainkan akibat sebuah insiden. Ia juga menemukan fakta lain bahwa sang Ibu juga ternyata memiliki keluarga. Perjalanan Eun Gyeol ke masa lalu bukanlah hal yang mudah. Dalam upayanya untuk mengatasi konflik internal dan menemukan jawaban atas kebingungannya, dia harus menghadapi berbagai rintangan dan dilema yang membingungkan.

Kesempatan kembali ke kehidupan masa lalu orang tuanya membuat Ha Eun Gyeol bertekad untuk menjadi pengajar bahasa isyarat bagi orang tuanya, terutama Ibunya yang merupakan tunarungu sejak lahir agar bisa berteman dan tidak merasa terisolasi dari dunia luar.

Akhirnya, dalam perjalanan emosional ini, Ha Eun Gyeol menyadari bahwa bahasa isyarat lebih dari sekadar alat komunikas namun adalah sebuah ikatan yang memperkuat hubungannya dengan keluarganya. Ketika mereka berbicara dalam bahasa isyarat, mereka bukan hanya berbagi informasi, tetapi juga membangun kepercayaan dan pengertian. Di dunia yang sering kali terlalu bising, bahasa isyarat menjadi ruang hening yang penuh makna, tempat di mana mereka bisa benar-benar mendengar satu sama lain tanpa kata-kata, hanya melalui gerakan dan ekspresi yang tulus.

Redaktur: Jio M

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.