Oleh: Siti Nurjanah Barus, Aulia Wulandari Pohan, Chelsea Indriani, Marisha abelya, Violla salsabilla
Suara USU, Medan. Di banyak sudut kota, terutama di sekitar kampus, kafe tak pernah benar-benar sepi. Meja-meja dipenuhi laptop terbuka, gelas kopi yang hampir kosong, dan wajah-wajah lelah mahasiswa tingkat akhir. Di sanalah skripsi diperjuangkan, ditemani kafein yang seolah menjadi bahan bakar utama. Fenomena ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan potret sosial yang menarik terutama jika dilihat dari kacamata pekerja sosial (peksos).
Skripsi sebagai Tekanan Sosial
Bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi bukan hanya tugas akademik. Ia menjelma menjadi simbol: simbol kedewasaan intelektual, tuntutan keluarga, bahkan harga diri. Tekanan datang dari berbagai arah, orang tua yang menanti kelulusan, teman sebaya yang satu per satu wisuda, hingga sistem akademik yang sering kali kaku.
Dalam kondisi ini, stres, cemas, dan kelelahan mental menjadi pengalaman yang jamak. Namun, tidak semua mahasiswa memiliki ruang aman untuk membicarakan beban tersebut. Banyak yang memilih “bertahan” sendirian, mencari pelarian yang paling mudah diakses: kopi, kafe, dan begadang.
Kafein dan Budaya “Tahan Banting”
Kafein kemudian menjadi simbol ketangguhan semu. Semakin pahit kopinya, semakin serius perjuangannya—begitu kira-kira narasi yang berkembang. Budaya begadang dinormalisasi, bahkan dibanggakan. Media sosial ikut memperkuatnya lewat unggahan “skripsi progress di kafe jam 2 pagi”.
Dari perspektif pekerja sosial, ini adalah bentuk mekanisme koping yang patut dicermati. Koping berbasis kafein dan begadang memang memberi efek jangka pendek: rasa fokus dan produktivitas. Namun dalam jangka panjang, ia berpotensi memperburuk kesehatan mental dan fisik—mulai dari gangguan tidur, kecemasan, hingga burnout.
Di Mana Peran Pekerja sosial?
Pekerja sosial hadir untuk membaca pola-pola ini bukan sebagai kesalahan individu, melainkan sebagai gejala sistemik. Pertanyaannya bukan “mengapa mahasiswa lemah?”, melainkan “mengapa sistem membuat mereka harus bertahan dengan cara seperti ini?”
Peran peksos di lingkungan kampus dan masyarakat menjadi krusial. Pertama, sebagai pendamping psikososial, peksos dapat membuka ruang aman bagi mahasiswa untuk mengekspresikan kecemasan tanpa stigma. Konseling berbasis empati dan pendekatan non-menghakimi membantu mahasiswa menyadari bahwa lelah bukan tanda gagal.
Kedua, peksos berperan sebagai advokat sistem. Mereka dapat mendorong kebijakan kampus yang lebih ramah kesehatan mental: fleksibilitas bimbingan, akses layanan konseling, hingga pelatihan dosen pembimbing agar lebih sensitif terhadap kondisi mahasiswa.
Gaya Hidup atau Tanda Bahaya?
Tidak semua nongkrong di kafe adalah masalah. Bagi sebagian mahasiswa, kafe menjadi ruang sosial, tempat bertemu, dan sumber inspirasi. Masalah muncul ketika kafein menjadi satu-satunya strategi bertahan, dan kelelahan dianggap harga mati menuju gelar sarjana.
Di sinilah analisis peksos menjadi penting: membedakan antara pilihan gaya hidup dan tanda bahaya psikososial. Ketika mahasiswa menarik diri dari relasi sosial, mengalami gangguan tidur ekstrem, atau menunjukkan gejala depresi, intervensi perlu dilakukan.
Membangun Narasi Baru
Sudah saatnya kita membangun narasi baru tentang skripsi. Produktif tidak harus menyiksa, dan lulus tidak harus mengorbankan kesehatan mental. Pekerja sosial, akademisi, dan pembuat kebijakan perlu bersinergi untuk menciptakan ekosistem yang lebih manusiawi.
Kopi boleh tetap ada di meja, tetapi jangan sampai menggantikan peran dukungan sosial, empati, dan sistem yang adil. Skripsi adalah proses belajar—bukan ajang adu kuat menahan kantuk dan stres.
“Skripsi vs Kafein” bukan sekadar cerita mahasiswa akhir, melainkan cermin kondisi sosial kita hari ini. Dalam pusaran gaya hidup yang menormalisasi kelelahan, peran pekerja sosial menjadi penyeimbang mengingatkan bahwa di balik gelar akademik, ada manusia yang perlu dijaga kesejahteraannya.
Jika kampus adalah ruang tumbuh, maka kesehatan mental mahasiswa harus menjadi fondasinya. Dan mungkin, sesekali, yang dibutuhkan mahasiswa akhir bukan tambah satu cangkir kopi, melainkan satu ruang untuk didengarkan.
Artikel ini merupakan tugas Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) Pekerjaan Sosial dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritongga, S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment