Oleh: Wahyu Suciati, Sarifa Aini, Yohana Trisilia Sinaga
Suara USU, Medan. Bencana banjir besar dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera yaitu Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) menyisakan duka yang mendalam bagi masyarakat yang terdampak. Melalui data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 15 Desember 2025, tercatat sebanyak 1.030 korban meninggal dunia, 206 orang hilang, sekitar 7.000 orang mengalami luka-luka, serta ± 449.700 orang masih mengungsi.
Terhitung sudah 19 hari (saat tulisan ini disusun) sejak bencana yang memakan banyak korban ini terjadi. Luapan air sudah menyurut, menyisakan tumpukan gelondongan kayu dan timbunan lumpur yang tinggi dengan kerusakan infrastruktur yang besar. Masyarakat kehilangan orang-orang yang dicintai, kehilangan tempat berlindung yang aman dan nyaman, hingga mengakibatkan kesulitan mendapat pasokan bahan pangan, air bersih, serta meningkatnya masalah kesehatan.
Berdasarkan hasil observasi mahasiswa Keperawatan USU yang menjadi salah satu relawan kesehatan di Sibolga, Sumut sebagai salah satu wilayah terdampak banjir bandang, masalah kesehatan yang sudah banyak terlihat di posko pengungsian yaitu diare, kutu air, gatal-gatal, batuk dan pilek, demam, hingga hipertensi. Kondisi lingkungan sekitar yang belum kondusif serta pengungsian yang terbatas tentunya juga memicu risiko penularan penyakit akibat banjir, seperti demam berdarah dan penyakit kulit.
Balita/anak-anak, ibu hamil, dan lansia, adalah kelompok yang paling rentan merasakan dampak kesehatan dari bencana ini. Hal ini disebabkan oleh kurangnya makanan bergizi, sulitnya air bersih, serta tidak adanya ruang aman dan nyaman, menjadi perhatian karena implikasinya di masa mendatang. Korban yang mengalami komplikasi penyakit kronik karena henti obat dan penggunaan obat yang tidak sesuai indikasi akibat keterbatasan stok obat juga harus mendapat perhatian khusus, karena akan memicu fenomena kesehatan yang berbahaya.
Selain masalah kesehatan fisik, masalah tekanan kesehatan psikologis juga meningkat. Banyak masyarakat yang terdampak mengalami kesedihan, kecemasan dan ketakutan mendalam, bahkan gejala trauma akibat kehilangan keluarga atau akibat dari kejadian yang menimpanya.
“Tak pikir esok ‘tu hari kiamat. Lihat hujan aja sudah takut,” ungkap Arsyilla−seorang anak yang selamat dari banjir bandang Aceh−dilansir melalui video reels akun Instagram @ddtvofficial saat bercerita bahwa tubuhnya sempat terseret arus banjir dan berhasil diselamatkan oleh ibunya.
Banjir tidak hanya sekadar luapan air yang merusak segala kepemilikan masyarakat, tetapi banjir juga merupakan ujian dan masalah sosial. Dari pandangan global, banjir semakin sering terjadi karena isu krisis iklim yang terus merambat tiap tahunnya, sehingga akan selalu berdampak pada ekonomi, migrasi, hingga kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, menangani banjir tidak sebatas dengan memberi bantuan darurat, melainkan dibutuhkan upaya terpadu untuk memperkuat ketahanan komunitas, menjaga kesehatan, dan mengurangi risiko sebelum bencana datang kembali.
Teori Vulnerability and Capacity Framework (VCF) dalam pekerja sosial internasional menjelaskan bahwa bencana bukan hanya peristiwa alam, melainkan ujian terhadap struktur sosial, sistem kesehatan, dan solidaritas komunitas. Pemulihan tidak cukup hanya dengan membagi bantuan logistik. Hal yang paling dibutuhkan adalah koordinasi lintas sektor dari kesehatan masyarakat, perlindungan anak, hingga manajemen risiko agar para penyintas tidak jatuh dalam krisis yang lebih dalam.
Air mungkin sudah surut, tetapi perjuangan mereka untuk bangkit terus berkobar. Ketika dunia tidak memberi jalan, mereka tetap maju meski yang tersisa hanya keberanian.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pekerja Sosial Internasional dengan dosen pengampu Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment