Home Tulisan Banjir Picu Gangguan Kesehatan Mental, Tantangan bagi Tenaga Keperawatan
Tulisan

Banjir Picu Gangguan Kesehatan Mental, Tantangan bagi Tenaga Keperawatan

Share

Oleh: Septina Mentari Hutagalung, Rosemmi Wati Saragih, Sicilia Aulia br Siburian

Suara USU, Medan. Banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling sering terjadi dan berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat. Dalam sepuluh tahun terakhir, banjir tercatat menyebabkan sekitar 53.000 kematian secara global, menjadikannya bencana yang tidak hanya mengancam keselamatan fisik, tetapi juga kesehatan secara keseluruhan (Cianconi et al., 2020). Dampak ini semakin diperparah oleh perubahan iklim yang meningkatkan intensitas hujan, paparan polutan lingkungan, serta kerentanan masyarakat, sekaligus memberikan tekanan tambahan pada sistem pelayanan kesehatan (Chowell, et al., 2019).

Secara langsung, banjir meningkatkan angka kesakitan dan kematian akibat tenggelam, sengatan listrik, gangguan jantung, cedera ringan, serta kondisi penyakit kronis. Selain itu, banjir juga mempercepat penyebaran penyakit yang ditularkan melalui udara, terutama akibat tercemarnya sumber air minum dan meningkatnya kasus infeksi. Namun dampak yang sering luput dari perhatian adalah meningkatnya masalah kesehatan mental dan gangguan jiwa pada masyarakat yang terdampak.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banjir memiliki konsekuensi psikologis jangka panjang. Dampak kesehatan mental dapat dirasakan hingga satu tahun atau lebih setelah bencana, dengan prevalensi tinggi gangguan seperti kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) (Asim et al., 2022). Studi di Indonesia juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kejadian banjir dengan meningkatnya gejala depresi dan kecemasan pada penyintas.

Meta-analisis internasional mencatat bahwa hampir satu dari lima orang yang terdampak banjir mengalami kecemasan yang signifikan, sementara lebih dari 20 persen menunjukkan gejala depresi setelah rumah mereka terendam (Handayani dkk, 2024). Angka ini bervariasi di berbagai wilayah, namun secara konsisten menunjukkan bahwa banjir menimbulkan beban kesehatan mental yang besar bagi masyarakat.

Dampak psikologis ini tidak dialami secara merata. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, perempuan, serta individu yang kehilangan dukungan sosial . Lansia, khususnya, menghadapi risiko lebih tinggi, mengalami depresi dan kecemasan akibat meningkatnya rasa isolasi sosial pascabanjir. Sementara itu, perempuan dilaporkan mengalami gejala depresi, kecemasan, dan PTSD yang lebih berat dibandingkan kelompok lainnya.

Dalam konteks konservasi, kondisi ini menjadi tantangan serius. Banjir dipandang sebagai stresor lingkungan besar yang dapat memicu respon maladaptif apabila individu tidak memiliki mekanisme koping yang memadai. Berdasarkan Model Adaptasi Roy, kegagalan dalam beradaptasi terhadap stresor seperti banjir dapat menimbulkan gangguan psikologis, termasuk kecemasan dan depresi. Oleh karena itu, perawat memiliki peran strategis dalam membantu klien meningkatkan kemampuan adaptasi melalui pendidikan kesehatan mental, dukungan emosional, dan intervensi psikososial yang tepat.

Menjawab tantangan tersebut, sejumlah solusi perlu diterapkan secara berkelanjutan. Penguatan dukungan psikososial berbasis komunitas menjadi langkah awal yang penting, seperti pembentukan kelompok dukungan sesama penyerta untuk berbagi pengalaman dan mengurangi perasaan terlindungi (Mujahidah,2021). Selain itu, program manajemen stres dan kesehatan jiwa yang komprehensif, termasuk konseling, pelatihan relaksasi, teknik pernapasan, dan mindfulness, terbukti efektif dalam menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan penyuntas mental (Rahman et al., 2021).

Upaya pencegahan juga tidak kalah pentingnya melalui edukasi kesiapsiagaan mental dan peningkatan ketahanan masyarakat sebelum bencana terjadi. Penyuluhan mengenai tanda-tanda stres pascabencana, pelatihan coping adaptif, serta penguatan solidaritas sosial diyakini dapat meningkatkan ketahanan psikologis masyarakat dalam menghadapi bencana di masa mendatang.

Banjir, dengan demikian, tidak hanya menjadi masalah lingkungan dan fisik semata, tetapi juga merupakan krisis kesehatan mental yang memerlukan perhatian serius. Peran energi perlindungan dalam pendekatan holistic yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan sosial—menjadi kunci dalam membantu masyarakat bangkit dan pulih secara menyeluruh pascabencana (Bakic & Ajdukovic, 2021).

Artikel ini merupakan tugas Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) Pekerjaan Sosial dengan dosen pengampu Fajar Utama Ritongga, S.Sos., M.Kesos.

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.