Oleh: Melda Julianti Tambunan, Zulfandri Zebua, Allyona Egita Sitepu, Marissa Putriani Gracelove, Iren Delpian Harefa
Suara USU, Medan. Untuk mendalami isu burnout pada perawat sebagai bagian dari tantangan kesehatan global, kami mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang mengikuti mata kuliah Pekerja Sosial Internasional pada Fakultas Keperawatan, Program Studi Ilmu Keperawatan, melakukan analisis kasus dengan pendekatan case method. Kelompok ini terdiri dari Melda Julianti Tambunan (221101006), Zulfandri Zebua (221101056), Allyona Egita Sitepu (221101092), Marissa Putriani Gracelove (221101094), dan Iren Delpian Harefa (221101126). Kegiatan pembelajaran ini berada di bawah bimbingan Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos. Analisis difokuskan pada kondisi kerja perawat, faktor-faktor penyebab burnout, serta implikasinya terhadap peran pekerja sosial dalam konteks internasional.
Perawat merupakan tenaga kesehatan yang memegang peran penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Mereka berada di garis depan pelayanan, memberikan perawatan langsung kepada pasien, serta menjadi penghubung antara pasien, keluarga, dan tenaga medis lainnya. Namun, di balik peran vital tersebut, perawat sering bekerja dalam kondisi yang penuh tekanan. Beban kerja yang tinggi, jam kerja panjang, keterbatasan jumlah tenaga, serta tuntutan emosional membuat perawat menjadi kelompok yang rentan mengalami burnout.
Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui ICD-11 mendefinisikan burnout sebagai kondisi yang muncul akibat stres kerja kronis yang tidak dikelola dengan baik. Burnout berkaitan langsung dengan pekerjaan dan bukan merupakan gangguan medis. Hal ini menunjukkan bahwa burnout lebih dipengaruhi oleh sistem dan lingkungan kerja dibandingkan kelemahan individu semata.
Temuan ini sejalan dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan seorang perawat yang telah bekerja lebih dari 15 tahun di ruang anak yang berinisial E. Narasumber menyampaikan bahwa kelelahan sering muncul ketika jumlah pasien meningkat dan kondisi pasien sangat beragam, termasuk pasien dengan kondisi kritis. Beban kerja tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi emosional saat bekerja, tetapi juga terbawa hingga ke kehidupan pribadi, seperti mudah merasa stres dan kelelahan setelah pulang kerja.
Secara umum, burnout pada perawat dapat dilihat melalui tiga bentuk utama. Pertama, kelelahan emosional, yaitu kondisi ketika perawat merasa lelah secara mental dan emosional akibat tekanan kerja yang berlangsung terus-menerus. Kedua, depersonalisasi, yang ditandai dengan sikap menjaga jarak, berkurangnya empati, atau interaksi yang terasa lebih mekanis terhadap pasien. Ketiga, penurunan pencapaian diri, yaitu perasaan tidak mampu, kehilangan makna kerja, serta menurunnya kepuasan terhadap profesi perawat. Ketiga aspek ini sering muncul secara bertahap dan saling berkaitan.
Burnout pada perawat tidak hanya terjadi di satu negara, tetapi telah menjadi isu kesehatan global. Salah satu penyebab utamanya adalah kekurangan tenaga perawat di berbagai negara, baik di negara berkembang maupun negara maju. Jumlah perawat yang tidak sebanding dengan kebutuhan pelayanan kesehatan menyebabkan perawat harus menangani lebih banyak pasien, bekerja dalam waktu yang lebih panjang, dan menghadapi tekanan kerja yang tinggi. Kondisi ini membuat stres kerja sulit dihindari.
Selain itu, jam kerja yang panjang dan beban kerja berlebih menjadi masalah umum dalam profesi keperawatan. Kurangnya waktu istirahat berdampak pada kesehatan fisik dan mental perawat. Ketimpangan sistem kesehatan, seperti keterbatasan fasilitas serta kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada tenaga kesehatan, semakin memperbesar risiko terjadinya burnout. Hal ini menunjukkan bahwa burnout bukan hanya persoalan individu, tetapi juga persoalan struktural dalam sistem kesehatan.
Fenomena migrasi perawat turut memperkuat karakter global dari permasalahan ini. Banyak perawat dari negara berkembang memilih bekerja ke luar negeri demi memperoleh kondisi kerja dan kesejahteraan yang lebih baik. Namun, migrasi ini menyebabkan kekurangan tenaga di negara asal sehingga meningkatkan beban kerja perawat yang masih bertugas. Di sisi lain, perawat migran juga menghadapi tantangan baru, seperti adaptasi budaya, tekanan kerja, serta minimnya dukungan sosial, yang dapat memicu stres dan burnout.
Dalam perspektif Pekerja Sosial Internasional, burnout pada perawat dipahami sebagai persoalan keadilan sosial dan ketimpangan global. Pekerja sosial internasional memiliki peran penting dalam melakukan advokasi kebijakan, memperkuat sistem dukungan sosial, serta mendorong perlindungan dan kesejahteraan tenaga kesehatan. Pendekatan ini diperlukan agar perawat dapat bekerja dalam lingkungan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Dengan demikian, burnout pada perawat merupakan isu kesehatan global yang membutuhkan perhatian serius. Penanganan burnout tidak cukup dilakukan pada tingkat individu, tetapi harus melibatkan perbaikan sistem kesehatan, kebijakan yang adil, serta kerja sama lintas negara untuk melindungi kesejahteraan perawat sebagai tenaga kesehatan utama.
Artikel ini merupakan tugas Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) Pekerjaan Sosial dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritongga, S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment