
Reporter: Rifatul Suaidah
Suara USU, Medan. Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) kembali membuka Program Beasiswa Peduli Orangutan untuk tahun 2025. Program ini menggabungkan pendidikan tinggi dengan misi konservasi satwa langka, menjadikannya salah satu bentuk inovasi pendidikan yang berdampak langsung pada pelestarian lingkungan.
Setiap tahun, program ini memberikan beasiswa kepada 12 mahasiswa terpilih, yang terbagi menjadi 6 penerima dari Provinsi Sumatera Utara dan 6 dari Provinsi Aceh. Jumlah pendaftar biasanya berkisar antara 20 hingga 30 orang, namun hanya sekitar 50 persen yang berhasil lolos seleksi tahap pertama. Hal ini mencerminkan ketatnya proses seleksi dan tingginya kualitas yang diharapkan dari para calon penerima.
Berbeda dengan program beasiswa konvensional yang lebih fleksibel dalam topik penelitian, beasiswa ini mewajibkan penerimanya untuk melakukan penelitian atau tugas akhir yang berkaitan dengan upaya pelestarian Orangutan dan habitatnya. Selain itu, penerima juga diwajibkan untuk menjalani program magang di YOSL-OIC, yang memberi mereka pengalaman langsung di lapangan dalam dunia konservasi.
Menurut Darsimah Siahaan, Penanggung Jawab Program Beasiswa Peduli Orangutan, proses pendaftaran biasanya dibuka pada bulan Maret hingga April setiap tahunnya. “Seleksi dilakukan bertahap, dimulai dari seleksi berkas dan karya tulis, kemudian dilanjutkan dengan presentasi serta wawancara,” jelasnya.
Darsimah juga menegaskan bahwa program ini tetap membuka kesempatan bagi penerima untuk mendapatkan beasiswa dari pihak lain, selama tetap berkomitmen menjalankan kewajiban dalam program konservasi ini.
Program ini terbuka bagi mahasiswa dari berbagai jurusan yang relevan dengan konservasi, seperti Fakultas Kehutanan USU, Jurusan Biologi FMIPA USU, UNIMED, UMA, Fakultas Kedokteran Hewan USK, Fakultas Kehutanan USK, STIK Pante Kulu, serta Jurusan Biologi dan Pendidikan Biologi FMIPA USK dan UIN Ar-Raniry.
Persyaratan utama meliputi status mahasiswa tingkat I, II, atau III, dengan IPK minimal 2,75, kesediaan mengikuti program magang, serta komitmen untuk melakukan penelitian terkait perlindungan Orangutan Sumatera. Fasilitas yang diberikan mencakup biaya SPP hingga 4 tahun, biaya penelitian dan penulisan skripsi, serta biaya koaskhusus untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan.
Sebagai bentuk keberlanjutan dari program ini, YOSL-OIC juga membentuk Komunitas ROOTS (Rising Orangutan and Our Tropical Sanctuary). Komunitas ini menjadi ruang kolaborasi antara para penerima dan alumni beasiswa dari Sumatera dan Aceh dalam mengembangkan aksi-aksi konservasi yang berkesinambungan, bahkan setelah mereka lulus dari perguruan tinggi.
Salah satu penerima beasiswa, Cut Nazwah Ramadhan, mahasiswa Fakultas Kehutanan USU semester 4, menuturkan pengalamannya. “Beasiswa Peduli Orangutan memberikan saya pandangan baru terkait konservasi. Dulu saya hanya belajar dari buku atau kelas, tetapi lewat beasiswa ini saya jadi lebih dekat dengan dunia nyata konservasi, khususnya tentang Orangutan dan hutan tropis,” ungkapnya.
Tahun ini, tiga mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara berhasil menerima beasiswa tersebut, yaitu Cut Nazwah Ramadhan dan Satria Winata dari Fakultas Kehutanan semester 4, serta Fadia Desti Andari dari Jurusan Biologi FMIPA semester 6.
Program Beasiswa Peduli Orangutan membuktikan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi medium efektif untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui pengalaman akademik, penelitian lapangan, dan keterlibatan langsung dalam kegiatan konservasi, program ini diharapkan dapat melahirkan generasi peneliti dan konservasionis muda yang mampu memberikan kontribusi nyata dalam pelestarian Orangutan Sumatera yang kian terancam.
Redaktur: Annisya Putri Anggraini
Leave a comment