SUARA USU
Uncategorized

Belajar Sholat Sebagai Kebutuhan Spiritual Anak Dengan Anak Autisme

Oleh: Eflin Novita Sinaga

Suara USU, Medan. Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan salah satu bentukimplementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ditujukan kepada masyarakat. Tujuan dari PKL ini adalah pembuatan mini proyek untuk Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Target dari proyek ini adalah anak dengan kedisabilitasan yaitu anak dengan autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD). Kegiatan PKL ini melatih mahasiswa untuk terjun ke lapangan dan mengaplikasikan teori pekerja sosial yang sudah dipelajari selama lima semester di perkuliahan.

Mahasiswi Kesejahteraan Sosial Universitas Sumatera Utara telah melakukan kegiatan PKL di salah satu lembaga pendidikananak berkebutuhan khusus, yaitu Kaizen Nirel Centre. KNC beralamat di Jalan Tembakau Raya Nomor 73, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan. Kegiatan PKL ini dimulai pada tanggal 1 April – 31 Mei 2024 yang dibimbing oleh supervisor sekolah yaitu Bapak Husni Thamrin S.Sos., MSP dan supervisor lembaga MsDevi Harfiza S.Psi selaku pimpinan Kaizen Nirel Centre.

Tahap awal yang dilakukan pada saat awal mula PKL adalah training, perkenalan dengan guru, dan mengobservasi hampirseluruh murid yang ada di KNC. Tujuan mengobservasi adalahagar praktikan bisa memilih anak mana yang akan dijadikan target program. Pada saat di KNC, praktikan juga berkesempatan untuk mengajar dan menjadi terapis pengganti untuk anak dengan autisme. Setelah melakukan observasi, akhirnya saya memilih anak yang berinisal A untuk dijadikan target proyek.

Level intervensi yang digunakan untuk klien A adalah level intervensi mikro, dengan unit intervensi individu dan metodeyang digunakan adalah individual casework. Penanganan untukklien A menggunakan tahapan casework dari Skidmore Thackery dan Farley (1994) menggunakan casework menjadi empat tahapan dilihat dari relasi antara pekerja sosial dengan kliennya. Berikut tahapan dengan menggunakan casework:

a. Tahap Penelitian (Study Phase)

Pada tahap ini A mulai menjalin relasi dengan penulisselaku praktikkan. Sebagaimana diketahui, klien Aadalah anak dengan autisme yang dimana proses interaksi dengan praktikkan sedikit berbeda dengan orang normal. Observasi pertama, praktikkan menganalisa bagaimana klien A belajar, komunikasi klien, emosionalnya. Pada saat sudah beberapa kali bertemu dengan klien dan sudah memiliki ikatan dengan klien, sir selaku guru A dan keluarga A menyetujui untuk melanjutkan proses terapi dan rancangan program yang akan dibuat untuk klien A.

b. Tahap Pengkajian (Assesment Phase)

Setelah 2 minggu melakukan observasi ikut bersama sir mengajar klien A, dan biasanya sebelum belajar anak-anak harus doa terlebih dahulu. Klien A beragama Islam, dan berdoaBismilahirrahmanirrahim, ya Allah A… mau belajar, berkati A… jadikan A anak yang pintaramin”, begitupun pada saat pulang. Beberapa kali bertemu dengan nenek klien yang sering mengantar jemput klien, praktikan bertanyaApakah A sudah bisa sholat?” dan jawabannya ternyata klien A belum bisa sholat. Ketika di rumah, tidak ada yang mengajari A sholat dan di tempat terapi pun belum ada program pengajaran sholat. Keluarga A sangat ingin A tahu bagaimana sholat dikarenakan A direncanakan akan bersekolah di tahun inipada tahun pengajaran baru. Cara untuk memenuhi kebutuhan spiritual klien A adalah dengan cara mengajari A sholat dengan menggunakan teori sosialyang akan disesuaikan dengan tools khusus pengajaran untuk anak dengan autisme.

c. Tahap Intervensi

Pada tahap ini, praktikan sudah tahu permasalahan dan kebutuhan apa yang diperlukan klien yaitu tidak terpenuhinya kebutuhan spiritual klien, klien tidak tahubagaimana sholat. Melalui proses wawancara dengan keluarga dan observasi kepada klien, praktikan menemukan cara untuk mendorong kemampuan klien untuk ibadah adalah dengan melakukan pengajaran sholat melalui penggunaan kartu sikuen tutorial sholat yang berisikan gambar dan cara-cara singkat. Tujuannya, klien A tahu bagaiaman cara untuk sholat. Kartu sikuen ini dibuat oleh praktikan.

d. Tahap Terminasi

Tahap ini merupakan tahap dimana relasi antara case worker dan klien akan dihentikan. Setelah program belajar sholat dilakukan, dan sudah hampir sebulan klien A mempraktikkan sholat pada saat pembelajaran dansudah seminggu klien A telah mandiri melakukan sholat tentunya dengan pengawasan praktikan dan selaku guru klien A. Hasil yang didapat klien A sudah bisa mengingat sholat pertanda berakhirnya kegiatan PKL praktikan.

Hasil dari kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yaitu anak yang dijadikan klien sudah bisa sholat  yang artinya kebutuhan spiritual klien A sudah terpenuhi dan kedepannya diharapkan klien A bisa sholat sendiri tanpa pengawasan dari sir selaku guru terapis klien A.

Tanggal 30 Mei adalah hari terakhir praktikan melakukan PKL, saya dan teman saya yang lokasi PKL nya sama memberikan plakat sebagai bentuk terimakasih kepada lembaga, pimpinan, dan guru-guru. Lembaga pun merasa terbantu karena hadirnya kami. Kami praktikan sangat berterimakasih kepada KNC karena mau menampung kami dan kami bisa melihat guru-guru yang luar biasa yang menaruh hatinya untuk mengajar ABK. Berinteraksi dengan ABK bahkan menjadi guru mereka adalah hal yang luar biasa yang tidak akan saya lupakan. Keluar dari KNC pun kami memiliki skill baru yaitu menjadi terapis bagi ABK. Mereka Anugerah Bagi Keluarga.

Artikel ini adalah publikasi tugas Praktek Kerja Lapangan dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Kontribusi Media Sosial dalam Penyebaran Informasi Positif Tentang Bahaya Narkoba

redaksi

Hasil Observasi Terkait Rehabilitasi di Sentra Insyaf Medan

redaksi

Strategi Distribusi UMKM VERGETEN: Bisnis Cendol Susu dan Roti Bakar yang Didirikan oleh Mahasiswa USU

redaksi