Reporter: Romaito Margareta Saruksuk dan Ruth Jelita Laia
Suara USU, Medan. Tim delegasi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional dengan meraih medali silver dan bronze pada kategori Individual Award dalam ajang Siriraj International Medical Microbiology, Parasitology, and Immunology Competition 2026 (SIMPIC 2026) yang diselenggarakan di Mahidol University, Thailand, pada 28–31 Maret 2026.
SIMPIC 2026 merupakan kompetisi tahunan yang mempertemukan mahasiswa kedokteran dari berbagai negara untuk menguji pengetahuan dan keterampilan di bidang mikrobiologi, parasitologi, dan imunologi. Pada tahun ini, kompetisi diikuti oleh 59 tim dari 43 universitas yang berasal dari delapan negara, yakni Indonesia, Thailand, China, Polandia, Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan Bangladesh. Selain menjadi wadah kompetisi akademik, kegiatan ini juga membuka peluang bagi peserta untuk menjalin relasi internasional, bertukar ide, serta mengenal budaya dari berbagai negara.
Dalam ajang tersebut, FK USU mengirimkan tiga tim delegasi. Tim USU 01 terdiri atas Ruth Situmorang, Nicholash Susanto, Tiffany Frolence, dan Enrico Sihombing. Tim USU 02 beranggotakan King Makmur, Muhammad Shadiq, Vincentius Sihaloho, dan Kelly Iskandar. Sementara itu, tim USU 03 terdiri atas Nathan Sitompul, Yuni Marsella, Bintang Zacky, dan Bill Wijaya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan proses registrasi yang dilanjutkan dengan pengenalan budaya Thailand bagi seluruh peserta. Pada malam harinya, panitia mengadakan jamuan makan malam dalam bentuk dinner cruise yang diikuti oleh advisor, observer, serta seluruh delegasi. Memasuki hari kedua, kompetisi utama dimulai dengan babak penyisihan yang meliputi ujian individu dan ujian tim. Dari total 59 tim, hanya 20 tim terbaik yang berhak melaju ke babak semifinal.
Dalam proses persiapannya, salah satu peserta, Nicholash Susanto, menekankan pentingnya memperbanyak membaca buku referensi utama sebagai dasar pemahaman materi SIMPIC. Ia mengungkapkan bahwa meskipun materi yang dipelajari pada awalnya terasa luas dan kompleks, konsistensi dalam belajar membuat pemahaman semakin terbentuk dan proses belajar menjadi lebih menarik.
Nicholash juga menyampaikan bahwa tantangan terbesar yang dihadapinya adalah membagi waktu antara persiapan kompetisi dan kegiatan profesi (koas). Ia harus menyesuaikan jadwal belajar dengan aktivitas profesi sehari-hari agar keduanya tetap berjalan optimal.
Sementara itu, peserta lain, Vincentius Sihaloho, menjelaskan bahwa proses persiapan dilakukan melalui bimbingan dan sesi belajar bersama yang rutin dilaksanakan setiap hari Selasa dan Jumat selama satu tahun sebelum keberangkatan. Menurutnya, metode ini mendorong setiap anggota tim untuk tetap konsisten belajar dan mengurangi kecenderungan untuk menunda.
Lebih lanjut, Nicholash menilai bahwa keberhasilan dalam kompetisi ini sangat ditentukan oleh penguasaan materi serta kerja sama tim. Dengan cakupan materi yang luas, setiap anggota tim membagi topik untuk dipelajari, kemudian mendiskusikannya secara rutin dan saling bertukar pemahaman. Ia juga menekankan pentingnya kekompakan, komunikasi, dan kepercayaan antaranggota sebagai faktor penunjang keberhasilan dalam kompetisi berbasis tim.
Di sisi lain, Vincentius menilai bahwa kesiapan fisik dan mental saat lomba juga menjadi faktor krusial. Ia menyebutkan bahwa kondisi tubuh yang tidak fit, rasa kantuk, serta kurangnya fokus dapat memengaruhi hasil yang diperoleh. Selain itu, strategi dalam menjawab soal juga diperlukan, terutama dalam menghadapi soal yang sulit agar tetap dapat memberikan jawaban yang tepat.
Sejumlah peserta delegasi mengungkapkan bahwa motivasi awal mengikuti ajang ini adalah untuk memperoleh pengalaman baru di tingkat internasional. Namun, seiring berjalannya proses persiapan dan pendalaman materi, motivasi tersebut berkembang menjadi dorongan untuk berkompetisi secara lebih serius dan memberikan hasil terbaik.
Redaktur: Debora Gracia Nauli
Leave a comment