
Oleh : Siti Aisyah
Suara USU, Medan. Desi Anwar adalah jurnalis senior yang menjadi penanda penting dalam sejarah media modern Indonesia. Lahir di Bandung, 11 Desember 1962, ia melewati berbagai fase penting dalam dunia jurnalistik, dari era televisi swasta awal hingga kemunculan media digital yang serba cepat. Di balik karier profesionalnya yang gemilang, Desi dikenal sebagai sosok yang tekun, refleksi, dan berdedikasi pada pengetahuan serta nilai-nilai kemanusiaan. Dalam derasnya arus informasi dan tekanan industri media, ia tetap teguh memegang prinsip dan tanggung jawab sosial.
Kariernya di dunia media dimulai pada 1990 saat bergabung dengan RCTI. Ia dikenal luas melalui program berita seperti Seputar Indonesia, Nuansa Pagi, dan Buletin Siang, menjadikannya ikon penyiar berita pada dekade 1990-an. Dengan penyajian yang tenang dan elegan, Desi menjadi panutan banyak jurnalis muda. Tak hanya tampil di depan kamera, ia juga berperan sebagai produser dan penulis, menunjukkan bahwa pemahaman mendalam terhadap konten adalah kunci jurnalisme berkualitas.
Ia kemudian turut mengembangkan portal berita Astaga.com dan kembali ke layar kaca melalui Metro TV pada 2001. Di sana, ia memimpin departemen layanan media dan membawakan berbagai program diskusi dengan pendekatan kritis dan mendalam. Bagi Desi, jurnalisme bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi memberi makna dan konteks atas informasi.
Salah satu pencapaiannya yang paling dikenal adalah saat membawakan Insight with Desi Anwar di CNN Indonesia. Program ini menghadirkan wawancara eksklusif dengan tokoh-tokoh nasional dan internasional. Bukan sekadar tanya jawab, tetapi ruang dialog yang memperluas wawasan publik terhadap isu-isu kompleks, dari politik hingga budaya. Kecermatan dan ketenangan dalam berdialog membuatnya dihormati oleh jurnalis, pemimpin opini, dan intelektual.
Di luar layar, Desi juga dikenal sebagai penulis yang reflektif. Buku-bukunya, seperti A Simple Life, Going Offline, dan Being Indonesian menggambarkan pandangannya yang filosofis tentang kehidupan, kesederhanaan, dan keresahan manusia modern terhadap dunia digital. Dalam satu kutipan, ia menyatakan, “True success is not about wealth or fame, but about how deeply you’ve touched others and how honestly you’ve lived your life.” Kalimat ini menegaskan bahwa karier gemilang tidak seharusnya menghapus nilai-nilai kemanusiaan, melainkan memperkuatnya.
Semangat belajar Desi juga patut dicontoh. Ia lulusan University of Sussex dan meraih gelar magister dari SOAS, University of London. Ia juga mengikuti program fellowship di East-West Center, Amerika Serikat, dan pelatihan di MIT Sloan School of Management. Latar belakang akademis ini menjadikannya bukan hanya komunikator, tetapi juga pemikir global yang kritis.
Bagi generasi muda yang ingin menapaki dunia jurnalistik, Desi adalah teladan bahwa integritas, integritas, intelektualitas, dan konsistensi dapat berjalan seiring dengan karier panjang dan bermakna. “You are never too young to start something meaningful and never too old to pursue something new,” tulisnya dalam satu kesempatan sebuah dorongan bagi siapa pun untuk terus belajar dan tumbuh, tanpa batasan usia atau keadaan.
Desi Anwar membuktikan bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, tetapi jalan hidup yang menuntut keberanian, ketajaman berpikir, dan komitmen terhadap kebenaran. Dalam era ketika informasi mudah dipelintir, sosok tenang dan bijak seperti dirinya menjadi sangat berharga. Ia mengajarkan bahwa jurnalis sejati adalah penjaga nalar publik, peran yang tidak ringan, tetapi penuh arti.
Redaktur: Nisya Augia
Leave a comment