
Oleh: Syafira Sari
Keilmuan disajikan dalam ruang-ruang teoritis
Sedang langkahnya tertatih di ranah realita
Seakan kepala menunduk pada pasal dan makna keadilan yang hakiki
Tapi pada hari dimana tubuh tergeletak bersimbah darah
Hukum tidak datang menjadi tameng, melainkan bungkaman yang menyesap tuntutan
Ia tak menuntut lebih dari haknya sebagai seorang manusia
Tak lebih dari harapan bahwa hukum berlaku sama rata
Namun yang ‘di atas’ punya kuasa dalam bentuk angka
Dan angka telah menukar luka menjadi perkara yang tak terbuka
Semu sudah harapan akan toga yang menyambangi kepalanya
Jalan hidupnya dihentikan oleh yang bisa membayar kebebasan
Palu sidang kini tidak lagi kita amini sebagai simbol sebuah keadilan
Tapi peringatan bahwa keadilan seakan dapat ditawar bak dagangan
Kami, yang melihat dari bangku tempat ia biasa duduk
Menggenggam amarah yang tak bisa dituliskan dalam undang-undang
Realita seolah menggunjingi kami
Menertawakan hukum yang ia junjung tinggi, justru kalah oleh lipatan kekuasaan
Palu boleh jadi diketuk, tapi hati kami belum berhenti bersuara
Bukan menuntut balas, ingin kami sesederhana keadilan yang seadil-adilnya
Bahwa nyawa bukan statistik, bukan pula harga di meja perundingan
Dan keadilan, semestinya hidup seutuhnya bukan hanya sekadar tulisan semata
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment