Home Puisi Di Hadapan Hukum yang Membisu
PuisiSastra

Di Hadapan Hukum yang Membisu

Share
Sumber: kumparan.com

Oleh: Syafira Sari

Keilmuan disajikan dalam ruang-ruang teoritis

Sedang langkahnya tertatih di ranah realita

Seakan kepala menunduk pada pasal dan makna keadilan yang hakiki

Tapi pada hari dimana tubuh tergeletak bersimbah darah

Hukum tidak datang menjadi tameng, melainkan bungkaman yang menyesap tuntutan

 

Ia tak menuntut lebih dari haknya sebagai seorang manusia

Tak lebih dari harapan bahwa hukum berlaku sama rata

Namun yang ‘di atas’ punya kuasa dalam bentuk angka

Dan angka telah menukar luka menjadi perkara yang tak terbuka

 

Semu sudah harapan akan toga yang menyambangi kepalanya

Jalan hidupnya dihentikan oleh yang bisa membayar kebebasan

Palu sidang kini tidak lagi kita amini sebagai simbol sebuah keadilan

Tapi peringatan bahwa keadilan seakan dapat ditawar bak dagangan

 

Kami, yang melihat dari bangku tempat ia biasa duduk

Menggenggam amarah yang tak bisa dituliskan dalam undang-undang

Realita seolah menggunjingi kami

Menertawakan hukum yang ia junjung tinggi, justru kalah oleh lipatan kekuasaan

 

Palu boleh jadi diketuk, tapi hati kami belum berhenti bersuara

Bukan menuntut balas, ingin kami sesederhana keadilan yang seadil-adilnya

Bahwa nyawa bukan statistik, bukan pula harga di meja perundingan

Dan keadilan, semestinya hidup seutuhnya bukan hanya sekadar tulisan semata

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.