Oleh: Nazua Suwita, Moureen Mecca Lubis, Greaseika Purba
Masa remaja yang umumnya berusia 13–19 tahun, merupakan periode transisi krusial dalam perkembangan manusia, ditandai dengan perubahan fisik yang pesat seperti pubertas, perkembangan kognitif yang lebih abstrak dan kritis, serta pergeseran emosional dan sosial yang mendalam. Remaja mulai membentuk identitas diri, mencari otonomi, dan mengeksplorasi hubungan di luar keluarga, termasuk dengan teman sebaya. Dalam konteks ini, hubungan antara orang tua dan remaja menjadi elemen sentral yang memengaruhi kesejahteraan psikologis, regulasi emosi, harga diri, serta kemampuan adaptasi remaja terhadap tantangan hidup.
Hubungan orang tua dan remaja bukanlah sesuatu yang statis. Pada masa kanak-kanak, hubungan cenderung lebih hierarkis dan bergantung pada orang tua sebagai figur utama. Namun, memasuki remaja, dinamika berubah, remaja mulai menuntut privasi, otonomi pengambilan keputusan, dan ruang untuk membentuk nilai-nilai sendiri. Perubahan ini sering memicu konflik, terutama terkait batas-batas, seperti jam pulang, penggunaan gadget, atau pilihan teman. Konflik ini sebenarnya bersifat normatif dan bisa menjadi mekanisme adaptif jika dikelola secara konstruktif, karena dapat membantu kedua pihak menegosiasikan hubungan baru yang lebih setara dan saling menghormati.
Terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi dinamika hubungan orang tua dengan anak. Salah satunya adalah pola asuh orang tua. Pola asuh autoritatif, yang menggabungkan kehangatan emosional dengan batasan tegas tetapi rasional, terbukti paling mendukung perkembangan positif. Remaja dari keluarga dengan pola ini cenderung memiliki regulasi emosi yang baik, harga diri tinggi, dan perilaku prososial. Sebaliknya, pola otoriter yang terlalu mengontrol dapat menimbulkan pemberontakan atau penarikan diri, sementara pola permisif yang terlalu longgar berisiko menghasilkan kurangnya disiplin diri. Pola asuh neglectful atau kurang perhatian menjadi yang paling berbahaya karena meningkatkan risiko kenakalan remaja dan masalah kesehatan mental.
Selain itu, kualitas keterikatan atau attachment juga berperan penting dalam hubungan orang tua dan anak. Keterikatan aman yang terbentuk sejak masa kecil akan berlanjut hingga remaja dan menjadi dasar bagi kemampuan individu dalam mengeksplorasi dunia dengan rasa aman secara emosional. Remaja dengan keterikatan yang aman cenderung lebih mampu mengelola emosi negatif serta membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Di Indonesia, penelitian terbaru menunjukkan bahwa keterikatan yang tinggi antara orang tua dan anak memiliki korelasi dengan regulasi emosi yang lebih baik pada remaja di wilayah perkotaan seperti Jakarta. Namun, tantangan kehidupan urban, seperti keterbatasan waktu bersama orang tua, dapat memicu kerenggangan emosional.
Faktor berikutnya adalah komunikasi dan dukungan emosional dalam keluarga. Komunikasi yang terbuka, disertai empati dan dukungan tanpa penghakiman, membantu remaja merasa dipahami dan dihargai. Hal ini dapat mengurangi kecenderungan remaja untuk mencari validasi dari sumber negatif, seperti teman sebaya yang bermasalah atau media sosial. Penelitian menunjukkan bahwa interaksi yang hangat dan intens antara orang tua dan remaja mampu melindungi mereka dari perilaku menyimpang, termasuk depresi.
Kemudian, faktor eksternal dan kontekstual juga turut memengaruhi dinamika hubungan orang tua dan anak. Pengaruh media sosial, tekanan akademik, serta perbedaan nilai antar generasi menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan. Di samping itu, kondisi keluarga seperti orang tua yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), keluarga dengan orang tua tunggal, atau situasi migrasi juga berpengaruh terhadap pola pengasuhan. Sejumlah studi di Indonesia menunjukkan bahwa pola asuh yang kurang konsisten pada keluarga dengan orang tua migran atau yang memiliki kesibukan tinggi dapat meningkatkan risiko munculnya perilaku negatif pada remaja.
Hubungan orang tua dan anak menghadapi berbagai tantangan di era modern. Di antaranya seperti pengaruh digital, terutama media sosial, sering kali menjadikan platform tersebut sebagai “teman” utama remaja sehingga mengurangi waktu berkualitas bersama orang tua. Selain itu, tekanan akademik dan sosial di Indonesia, seperti tuntutan nilai tinggi dan persaingan di sekolah, dapat menimbulkan stres pada remaja yang terkadang disalurkan melalui konflik dalam keluarga. Perbedaan generasi juga menjadi hambatan, karena orang tua kerap mengalami kesulitan dalam memahami dunia remaja yang dipenuhi tren digital serta nilai-nilai yang lebih individualistis.
Di samping itu, perubahan struktur keluarga non-tradisional, seperti keluarga dengan orang tua tunggal, TKI, atau adanya konflik perkawinan, turut meningkatkan risiko terciptanya hubungan yang kurang hangat antara orang tua dan anak.
Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Sosiologi Keluarga untuk Kesejahteraan Sosial dengan Dosen Pengampu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment