Home Kabar Kampus Diskusi Terbuka Dirty Vote Bersama Dandhy Dwi Laksono
Kabar Kampus

Diskusi Terbuka Dirty Vote Bersama Dandhy Dwi Laksono

Share


Reporter: Fathan Mubina dan Lutfiah Amanda

Suara USU, Medan. Film dokumenter Dirty Vote yang rilis 11 Februari lalu telah ditonton sebanyak 9 Juta kali di platform YouTube. Akibat boomingnya film ini, Sutradara beserta aktor film berkeliling ke beberapa wilayah di Indonesia dalam rangka membuka diskusi publik tak terkecuali Sumatra Utara.

Diskusi tentang film Dirty Vote diselenggarakan di Inter Coffee USU Medan pada Minggu, 3 Maret 2024. Diskusi ini dihadiri oleh banyak pihak seperti tokoh masyarakat Karo Barata Brahmana, mantan Rektor UISU Achmad Reza Siregar, Sutradara film Dandhy Dwi Laksono, Feri Amsasi dosen Universitas Andalas dan juga Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait SH, MLI sebagai perwakilan dari tuan rumah sekaligus menjadi moderator pada diskusi film dokumenter ini.

Diskusi berjalan interaktif dimulai pada jam 2 siang sampai dengan jam 4 sore. Diskusi diawali oleh Prof Ningrum sebagai prolog diskusi. Prof Ningrum mengulas bagaimana latar belakang sampai akhirnya terjadi diskusi publik yang diselenggarakan di Universitas Sumatera Utara, salah satu alasannya adalah Prof Ningrum yang mendengar kabar bahwa Sumatera Utara tidak berani mengadakan diskusi terbuka seperti saat ini. “Saya paling tidak terima apabila kami (Sumut) dikatakan tidak dapat merespons,” kata Prof Ningrum.

Alasan dibuatnya Dirty Vote bukanlah karena para pakar hukum pemerintah yang membenci Pak Jokowi. Banyak pakar hukum yang bekerja di bawah pemerintahan Pak Jokowi, namun ketika merasakan sesuatu yang salah dari pemerintahan inilah yang menyebabkan pakar hukum bergerak, “Pekerjaan kami bekerja di segala lini pemerintahan, termasuk membantu pemerintahan Pak Jokowi. Ketika ada yang tidak benar kita tidak bisa diam, ketika ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai dengan relnya maka kami bersuara,” jelas Prof Ningrum pada prolog diskusi.

Dirty Vote lahir dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, perancangan dimulai pada 29 Januari dan memang akan dirilis di masa tenang pemilu. “Kurang dari dua pekan dibuat, akhir Januari, kalau tidak salah 29 Januari mas Dandhy mengajak saya berdiskusi, kita membuat rencana dan akan keluar di minggu tenang” kata Feri.

Dirty Vote lahir di masa tenang bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hanya pada hari itulah, hari yang tersisa sebelum pencoblosan. “Karena memang waktu yang tersisa di waktu itu, dasar (film) penelitian kami, dilakukan observasi, crosscheck data dan lain sebagainya,” jelas Feri.

Dalam kesempatan lain, Dandhy menjelaskan rilisnya film Dirty Vote di masa tenang ini dilakukan dengan sengaja. “Saya bukan petarung dalam pemilu ini, apa yang saya langgar? Tidak ada, kami sengaja memilih masa tenang,” kata Dandhy

Feri menjelaskan bahwa kejanggalan yang terjadi sangatlah banyak dan tersusun dengan rapi. “Terjadi banyak kejanggalan, adiknya (presiden) menikah dengan ketua MK, lebih dari 180 PJ bupati walikota diangkat, dan kepingan terakhir, bagaimana cara anak presiden agar bisa masuk gelanggang,” kata Feri ditengah diskusi.

Sutradara film Dirty Vote, Dandhy Laksono menjelaskan alasan mengapa Dirty Vote lahir sebagai sebuah film. Dirty Vote yang berisi data, akan lebih jelas jika diubah menjadi visualisasi yang dapat ditonton. “Setelah melihat apa yang dikerjakan oleh tim, saya semakin yakin bahwa apa yang disebut bang Feri perlu divisualisasikan,” kata Dandhy.

“Kita hidup di zaman yang sangat anomali, kita ini bangsa yang pelupa, mantan gubernur koruptor disambut oleh tarian selepas keluar dari lapas Sukamiskin. Saya ingin anda hidup kritis, saya harap pikiran yang kritis ini hidup dari kalian yang hadir hari ini,” tutup Prof Ningrum mengakhiri sesi diskusi film dokumenter Dirty Vote.

Setelah sesi tanya jawab berakhir, acara ditutup dengan foto bersama antara pembicara dengan seluruh peserta diskusi.

Redaktur : Feby Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.