SUARA USU
Sosok

Djamin Ginting: Pahlawan Dibalik Nama Jalan Terpanjang di Indonesia

Penulis: Beby Cahya Ramadhanty

Suara USU, Medan. Letnan Jenderal TNI (Purn) Drs. Djamin Ginting Suka adalah salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Sumatera Utara. Dilansir dari Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI), beliau lahir pada tanggal 12 Januari 1921 di Desa Suka, Kabanjahe, Tanah Karo. Beliau menyelesaikan pendidikan dasarnya di Kabanjahe dan melanjutkan pendidikan menengahnya di Kota Medan. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya dan kerja untuk beberapa tahun, kemudian Djamin Ginting bergabung dalam satuan militer Gyugun (tentara sukarela yang mirip dengan pasukan Pembela Tanah Air/PETA di daerah Jawa) yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang.

Saat itu, Tanah Karo dan seluruh Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara yang terdiri dari anak-anak muda di Tanah Karo untuk menambah kekuatan militer mereka dalam mempertahankan kekuasaan di Benua Asia. Djamin Ginting muncul sebagai komandan pada pasukan bentukan Jepang saat itu.

Namun, pada tanggal 9 Agustus 1945 Amerika Serikat menyerang Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom yang menyebabkan Jepang mengibarkan bendera putih sebagai tanda kekalahan. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang. Setelah peristiwa tersebut, Djamin Ginting bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada tanggal 5 Agustus 1945 di Kabanjahe oleh pemerintah Republik Indonesia.

Ia menjadi seorang komandan pasukan dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) selama Perang Medan Area melawan pasukan Inggris dan Belanda.  Perang Medan Area berakhir pada bulan Desember 1946 setelah pasukan Inggris meninggalkan Kota Medan. Karirnya melambung sebagai Komandan Batalyon I Resimen II TRI di Tanjung Balai. Secara bersamaan, beliau juga terpilih sebagai Ketua Biro Perjuangan Daerah XXXIX Sumatera Timur.

Perdamaian antara pemerintah Indonesia dan Belanda tercapai pada akhir tahun 1949 setelah pemerintah Belanda menyerahkan kedaulatannya kepada pemerintah Indonesia. Pada masa awal perdamaian ini, pemerintah Indonesia mengangkat Djamin Ginting sebagai Komando Basis Kota Medan (KBKM) yang kemudian diubah menjadi Komando Militer Kota Besar (KMKB) Medan, cikal bakal Komando Militer Bukit Barisan.

Prestasi luar biasa dan momen krusial dalam karier Jamin Ginting adalah peran pentingnya dalam menumpas peristiwa G30S/PKI di Sumatera Utara. Atas jasanya tersebut, Pangkostrad Mayjen Soeharto mempercayakan padanya posisi sebagai Inspektur Jenderal Angkatan Darat. Kesuksesan ini membawa Jamin Ginting meraih jabatan lebih tinggi sebagai Sekretaris Presiden/Kepala Kabinet Presiden, sekaligus merangkap sebagai Wakil Sekretaris Negara.

Di penghujung masa baktinya, Djamin Ginting diutus sebagai seorang Duta Besar Indonesia untuk Kanada. Sayangnya, di tanah Kanada lah tepatnya di Ottawa beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 23 Oktober 1974, dalam usia yang mencapai 53 tahun. Jenazahnya dihormati dengan pemulangan ke Indonesia dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.

Djamin Ginting diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Joko Widodo pada 7 November 2014. Namanya telah diabadikan menjadi nama ruas jalan yang membentang dari Kota Medan hingga Kabupaten Karo, yaitu sepanjang 71,3 km. Ruas jalan tersebut diberi nama sebagai Jalan Jamin Ginting oleh Walikota Medan yang saat itu menjabat yakni H. Agus Salim Rangkuti. Selain nama jalan, terdapat juga patung Djamin Ginting yang diresmikan oleh Walikota Medan yang sedang menjabat saat in, yakni Bobby Nasution untuk menandai kilometer nol Jalan Jamin Ginting di Kota Medan.

Redaktur: Afrahul Fadhillah Parinduri

Related posts

Jocelyn Paramita, Pemain Ghuzeng Profesional Alumni USU

redaksi

Mengenal Sutradara dan Penulis Pengabdi Setan 2 Asal Sumatera Utara, Joko Anwar

redaksi

Bikram Yash Bhullar: Kemampuan Public Speaking yang Menghantarkan Kesuksesan

redaksi