SUARA USU
Uncategorized

Efektivitas Metode Viral Marketing sebagai Sarana Promosi pada Bolu Toba

Penulis: Newel’d Naggoraja Pardosi / Richard Sinaga / Risky Muhammad Soleh / Teuku Muhammad Raihan Fahlevi / Yeni Haryanti Purba / Yosefira Aurel Putri / Yuana Widya Angeline Marbun / Virgin Threisia Bangun

Suara USU, Medan. Saat ini bisnis online memang sangat menjanjikan, apalagi didukung dengan metode pemasaran yang beragam sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang cukup besar. Salah satu teknik pemasaran yang sering digunakan adalah viral marketing. Teknik pemasaran jenis ini memang cukup tepat untuk digunakan di era digital saat ini. Viral marketing memiliki konsep yang hampir sama dengan word of mouth atau yang dapat dikatakan sebagai metode penyebaran pesan kepada konsumen melalui kata-kata.

Konsep dari teknis pemasaran ini lebih memanfaatkan penggunaan jaringan sosial di dalam dunia maya. Teknik pemasaran ini berfungsi untuk mendorong seseorang agar menyampaikan kembali pesan atau informasi produk secara kuat, berkala, dan berkelanjutan, dan dengan cara tersebut, maka konsumen akan memiliki daya ingat yang kuat terhadap produk yang ditawarkan.

Bolu Toba adalah sajian kue bolu gulung dan juga kue bolu lapis dengan bolu bertekstur lembut dan isian yang melimpah padat. Bolu Toba berdiri pada tahun 2017, namun secara resmi Bolu Toba beroperasi pada tahun 2018. Bolu Toba merupakan oleh-oleh khas medan yang terkenal, awal mula penamaan bolu toba terinsiprasi dari dua ciri khas yang paling di ingat oleh masyarakat Indonesia tentang Sumatera Utara, yakni “Kota Medan” dan “Danau Toba”. Karena, Danau Toba merupakan kebanggaan dari masyarakat sumatera utara yang dimana hal itu menjadi alasan utama untuk memberi nama Bolu Toba dengan harapan Bolu Toba bisa menjadi kebanggan warga Sumatera Utara sama seperti Danau Toba.

Pada saat didirikannya bisnis tersebut, sedang marak-maraknya juga usaha bolu cake artis atau bolu sebagai oleh-oleh. Oleh karena itu, bisnis tersebut sudah memanfaatkan tren yang ada dalam menjalankan usaha sehingga dapat menarik pelanggan. Hal itu membuat pihak Bolu Toba melakukan strategi pemasaran berbeda dengan yang lainnya. Pemilihan bahan baku yang tidak pernah berganti sejak awal merupakan salah satu marketing karena, sudah mendapatkan banyak respon positif dari pembeli atau konsumen. Bolu Toba, yang pada awalnya hanya sebagai oleh-oleh Khas Medan, kini menjadi konsumsi sehari-hari untuk beberapa orang juga.

Bolu Toba juga memanfaatkan konten yang tersedia, seperti dari media sosial ataupun website yang sudah sangat jelas untuk mendeskripsikan “Apa itu Bolu Toba?” Tidak lupa dengan adanya influencer atau content creator yang juga berperan dalam marketing bisnis tersebut sehingga dapat merekomendasikan bisnis tersebut kepada para followers ataupun subscribers nya.

Dapat disimpulkan bahwa Bolu Toba sudah matang dalam membuat konsep dalam marketingnya sehingga dapat disebut sebagai konsep “Viral Marketing” karena:

  • Bolu Toba yang mengusung tema the one and only yang membuat bolu toba tidak memiliki cabang di medan dan tidak terlalu banyak membuat cabang di daerah-daerah lain dan lebih memilih jalur kemitraan untuk pemasaran produk yang lebih luas dan kemitraan tersebut juga tidak terlalu banyak, sehingga hanya ada 3 kemitraan.

  • Melakukan visit competitor yang dimana hal ini melihat para pesaing menjual produknya yang sedang laku di pasaran, menggunakan metode cake of the month yaitu mengeluarkan varian bolu yang terbatas dan hanya bisa diperoleh di bulan tersebut, dan menerapkan customer relationship management yaitu menampung semua saran dari para customer.

  • Memiliki dua metode promosi yaitu promosi untuk traffic product dan branding product. Traffic product dapat disebut metode promosi dengan melihat jumlah viewers atau berapa kali laman tersebut dikunjungi dari webstite Bolu Toba, serta insight dari social media akun Bolu Toba tersebut. Untuk branding produk bolu toba biasanya menggunakan beberapa cara, yang pertama mediagram seperti menggunakan promosi dari akun Instagram medanku, medantalk, dan lain-lain, yang kedua juga melalui blogger dan yang ketiga dengan selebgram atau konten kreator.

  • Dalam pengembangan usaha Bolu Toba, gaya hidup atau life style dari masyarakat itu sangat penting dan berpengaruh. Bolu Toba selalu menyesuaikan dengan gaya hidup dari target pasar yaitu kalangan menengah ke atas yaitu dengan mengikuti gaya hidup. Salah satunya dengan memperhatikan kemasan yang terlihat bagus dan mewah agar para konsumen bisa merasa puas akan pelayanan dan juga selalu menjaga kualitas cakenya agar selalu premium.

Di era perkembangan komunikasi digital ini, pelaku usaha dapat memanfaatkan medium media sosial untuk mengkomunikasikan produknya karena dinilai lebih efektif. Dengan strategi ini akan lebih efektif dan relatif murah dibandingkan dengan iklan konvensional yang diproduksi oleh perusahaan atau media besar. Pelaku usaha dapat menggunakan strategi influencer marketing untuk meningkatkan traffic menggunakan social media engagement serta pelaku usaha juga harus memiliki pikiran yang terbuka dalam melihat peluang bisnis.

Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Marketing Management dengan Dosen Pengampu: Onan Marakali Siregar S.Sos, M.Si. / Ummi Salamah Sitorus, S.A.B., M.M.

Redaktur: Anna Fauziah Pane


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Dampak Penggunaan Sosial Media pada Remaja

redaksi

Penerapan Strategi STP pada Cafe Fana Space

redaksi

Peran Pekerja Sosial yang Dilakukan oleh Mahasiswa di Dinas Sosial Terhadap PPKS di Kota Medan

redaksi