Home Kabar SUMUT Ekonomi Medan Tumbuh Positif di Tengah Ketegangan Geopolitik Global
Kabar SUMUT

Ekonomi Medan Tumbuh Positif di Tengah Ketegangan Geopolitik Global

Share

Oleh: Muhammad Ar Rofi Nst

Suara USU, Medan. Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, memaparkan pencapaian positif indikator makro ekonomi Kota Medan tahun 2025 dalam rapat paripurna Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan, Senin (9/3/2026). Meskipun pertumbuhan ekonomi tercatat naik menjadi 5,10 persen dan angka kemiskinan berhasil ditekan ke angka 7,25 persen, pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengingatkan agar pemerintah daerah tidak cepat berpuas diri. Hal ini disebabkan oleh adanya akumulasi sentimen negatif geopolitik global pada tahun 2026 yang berisiko memicu perlambatan kinerja ekonomi di tingkat lokal.

Dalam laporan tersebut, data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Medan pada tahun 2025 mengalami kenaikan sebesar 0,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, sektor sosial juga menunjukkan tren positif dengan penurunan tingkat kemiskinan sebesar 0,69 persen dibandingkan dengan tahun 2024. Benjamin menilai pencapaian ini memang patut diberi apresiasi karena memberikan dampak nyata pada pemulihan indikator ekonomi dan sosial masyarakat di lapangan. Namun, ia menekankan bahwa angka-angka tersebut harus diiringi dengan kewaspadaan tinggi terhadap dinamika ekonomi mendatang.

“Saya menyarankan agar Pak Rico tidak berpuas diri dengan capaian tahun kemarin. Karena, akumulasi sentimen negatif di tahun 2026 terlalu banyak dan sangat berisiko memicu perlambatan kinerja ekonomi Kota Medan,” ujar Benjamin pada Selasa (10/3), dikutip dari Kompas.com. Menurutnya, meskipun capaian ini merupakan prestasi, Wali Kota Medan tetap memerlukan catatan khusus sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun langkah regulasi dan kebijakan strategis ke depannya agar tren positif ini tidak berbalik arah.

Benjamin menguraikan beberapa poin penting yang menjadi dasar analisisnya. Pertama, pemulihan indikator ekonomi Medan saat ini masih selaras dengan pemulihan kinerja ekonomi nasional tahun 2025. Artinya, Medan sangat bergantung pada peluang yang didorong oleh program-program strategis dari Pemerintah Pusat. Jika dukungan program nasional tersebut berjalan maksimal, maka pemulihan di Medan akan terus tertopang. Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan daerah dan pusat menjadi kunci utama agar pertumbuhan ekonomi tidak berjalan di tempat.

Kedua, meskipun angka pertumbuhan ekonomi Medan sebesar 5,1 persen berada di atas rata-rata pertumbuhan Sumatera Utara yang hanya 4,53 persen, terdapat kesenjangan pada sektor penyerapan tenaga kerja. Benjamin menyoroti sektor industri pengolahan justru mengalami perlambatan menjadi 2,9 persen pada tahun 2025. Padahal, sektor ini merupakan salah satu penyerap tenaga kerja terbanyak. Di sisi lain, Medan memang masih mengukuhkan diri sebagai kota perdagangan dengan pertumbuhan di angka 7,9 persen, tetapi ketergantungan pada satu sektor saja dianggap cukup berisiko.

“Tantangan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tahun 2026 ini akan kian sulit. Beberapa sektor usaha yang berpeluang melemah masih akan dipimpin sektor konstruksi yang tumbuh negatif 0,1 persen di tahun 2025,” tambah Benjamin. Ia juga memprediksi bahwa sektor real estate, perdagangan besar dan eceran, serta sektor transportasi dan pergudangan berpotensi mengalami perlambatan pertumbuhan. Benjamin melihat bahwa tugas berat menanti Wali Kota Medan untuk mendongkrak atau setidaknya mempertahankan angka pertumbuhan tahun ini. “Pak Rico punya tugas berat untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Medan pada tahun ini. Dan saya baru melihat potensi Kota Medan mempertahankan pertumbuhan pada sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial di tahun 2026 ini,” jelasnya. 

Ketiga, mengenai data kemiskinan, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), memang terjadi penurunan hingga ke angka 7,25 persen. Sementara itu, poin keempat yang menjadi sorotan adalah tingkat pengangguran yang turun ke level 7,99 persen. Benjamin memperingatkan bahwa angka penurunan pengangguran ini perlu dibedah lebih dalam. Secara nasional, penurunan angka pengangguran sering kali diiringi dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja di sektor informal yang secara stabilitas pendapatan cenderung lebih rendah dan rentan terhadap guncangan ekonomi.

Menutup analisisnya, Benjamin mengingatkan adanya faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan tetapi berdampak besar, seperti ketegangan geopolitik akibat perang di Timur Tengah serta isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sentimen negatif eksternal ini diprediksi akan menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya produksi industri. “Jadi capaian apik selama tahun 2025 kemarin di atas kertas berpeluang untuk memburuk di tahun ini,” pungkasnya. Laporan LKPJ 2025 ini diharapkan bukan sekadar seremoni laporan keberhasilan, melainkan menjadi basis evaluasi untuk menghadapi tantangan ekonomi yang lebih berat di tahun 2026.

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.