Reporter: Adelia Jasmine Efendi & Dinda Sari
Suara USU, Medan. Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Direktorat Kemahasiswaan menggelar sosialisasi Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 yang diikuti mahasiswa dari berbagai fakultas secara daring melalui Zoom pada Senin (10/3). Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai mekanisme seleksi, panduan penulisan proposal, serta peluang pengembangan usaha melalui program kewirausahaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan USU, Rahma Yurliani, dalam sambutannya menyampaikan bahwa P2MW merupakan salah satu program kompetisi kewirausahaan yang menjadi prioritas bagi universitas. Selain P2MW, mahasiswa juga didorong untuk mengikuti berbagai kompetisi nasional lain seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), PPK Ormawa, serta Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI).
Rahma juga menyoroti capaian mahasiswa USU dalam P2MW 2025. Pada tahun tersebut, tim mahasiswa USU melalui usaha bernama Cekrekbox berhasil meraih juara tiga nasional pada kategori usaha bertumbuh. Prestasi tersebut menjadi pencapaian penting setelah beberapa tahun sebelumnya USU belum berhasil meraih kemenangan di tingkat nasional.
“Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya agar lebih aktif mengikuti kompetisi kewirausahaan,” ujarnya.
Ia berharap pada tahun 2026 mahasiswa USU dapat memanfaatkan peluang tersebut dengan baik dan mampu mengisi seluruh kuota kategori yang tersedia. Sosialisasi ini, menurutnya, menjadi langkah awal agar mahasiswa memahami proses seleksi sekaligus dapat menyusun proposal usaha secara lebih matang.
Pada sesi pemaparan materi, narasumber Arif Qaedi Hutagalung menjelaskan mekanisme seleksi P2MW 2026. Ia menyebutkan bahwa proses seleksi dimulai dari tingkat universitas sebelum proposal yang lolos diajukan ke tingkat kementerian.
Arif juga menjelaskan adanya perubahan aturan dalam pelaksanaan P2MW tahun ini. Jika pada tahun sebelumnya perguruan tinggi memiliki kebebasan dalam menentukan jumlah dan komposisi kelompok usaha, tahun ini kementerian menetapkan batasan yang lebih jelas. Setiap perguruan tinggi maksimal hanya dapat mengirimkan tiga kelompok usaha yang terdiri dari satu kelompok tahap awal dan dua kelompok tahap bertumbuh.
Menurut Arif, kebijakan ini bertujuan mendorong keberlanjutan usaha mahasiswa yang sebelumnya telah mengikuti program kewirausahaan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak usaha mahasiswa yang berhenti setelah melewati tahap awal. Oleh karena itu, kementerian ingin memastikan bahwa usaha yang diusulkan memiliki potensi untuk berkembang secara berkelanjutan.
Selain itu, Arif juga memaparkan sejumlah persyaratan bagi mahasiswa yang ingin mengikuti program tersebut. Peserta harus berstatus mahasiswa aktif dan terdaftar di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti). Setiap mahasiswa hanya diperbolehkan bergabung dalam satu kelompok usaha serta tidak dapat mengikuti program kompetisi kementerian lainnya seperti PKM atau PPK Ormawa secara bersamaan.
Ia juga menekankan pentingnya memahami komponen penilaian dalam penyusunan proposal. Beberapa aspek utama yang akan dinilai antara lain tujuan usaha, potensi konsumen, inovasi produk, strategi pemasaran, sumber daya, serta aspek keuangan. Karena itu, tim peserta diharapkan mampu menjelaskan dengan jelas latar belakang usaha yang dijalankan serta peluang pasar dari produk atau jasa yang ditawarkan.
Selain pemaparan materi, kegiatan sosialisasi ini juga menghadirkan sesi berbagi pengalaman dari mahasiswa yang pernah mengikuti P2MW. Salah satunya adalah Daffa, perwakilan tim Cekrekbox yang berhasil meraih prestasi pada P2MW 2025.
Daffa menjelaskan bahwa Cekrekbox merupakan layanan photobooth otomatis yang menawarkan pengalaman fotografi instan bagi pengguna. Usaha tersebut bekerja sama dengan berbagai organisasi mahasiswa untuk menyediakan layanan photobooth pada berbagai acara kampus.
Ia juga menceritakan bahwa proses mengikuti P2MW tidak hanya sebatas lomba proposal, tetapi juga melibatkan pembinaan usaha yang berlangsung cukup panjang. Tahapan tersebut dimulai dari pengajuan proposal, pelaksanaan usaha, monitoring dan evaluasi, hingga seleksi menuju KMI Expo.
“Perjalanannya cukup panjang, hampir satu tahun. Jadi tidak hanya menulis proposal, tetapi juga benar-benar menjalankan bisnisnya,” jelasnya.
Dalam sesi tanya jawab, sejumlah mahasiswa mengajukan pertanyaan mengenai cara mencari anggota tim serta peluang mengikuti P2MW bagi mahasiswa yang masih berada pada tahap ide usaha. Narasumber menyarankan mahasiswa untuk mulai berdiskusi dengan teman sekelas, senior, maupun mahasiswa dari fakultas lain yang memiliki minat serupa.
Arif menambahkan bahwa menemukan tim yang solid menjadi salah satu faktor penting dalam mengikuti P2MW karena program tersebut membutuhkan komitmen yang cukup lama dari seluruh anggota tim.
Di akhir kegiatan, panitia juga menyampaikan timeline seleksi P2MW di tingkat universitas. Batas akhir pengumpulan proposal dijadwalkan pada 30 Maret 2026, dilanjutkan dengan proses penilaian internal hingga 31 Maret. Tim yang lolos seleksi universitas akan mendapatkan pendampingan sebelum proposal diajukan ke tingkat kementerian pada awal April 2026.
Melalui sosialisasi ini, Direktorat Kemahasiswaan USU berharap semakin banyak mahasiswa yang tertarik mengembangkan ide bisnis serta berpartisipasi dalam program kewirausahaan nasional. Dengan persiapan yang matang dan kerja sama tim yang baik, mahasiswa diharapkan mampu menciptakan usaha inovatif sekaligus membawa nama baik Universitas Sumatera Utara di tingkat nasional.
Redaktur: Debora Gracia Nauli
Leave a comment