
Oleh: Rifatul Suaidah
Suara USU, Medan. Siapa sangka bahwa sebuah lagu tradisional Banyuwangi berjudul “Rujak Singgul” dengan lirik “durung weruh rasane mageh arane, nganeh anehi” yang artinya “belum tahu rasanya, masih namanya saja sudah aneh” telah menginspirasi lahirnya salah satu kreasi kuliner unik di Nusantara. Rujak soto Khas Banyuwangi adalah bukti nyata bahwa inovasi kuliner terbaik sering lahir dari keberanian yang unik yaitu memadukan dua elemen yang tampak kontras namun justru menciptakan harmoni sempurna.
Sejak tahun 1970-an, hidangan yang awalnya dianggap aneh ini telah menjadi kebanggaan Masyarakat Negeri Blambangan, bahkan pernah mengangkat nama Banyuwangi melalui festival khusus pada 2014 dan tampil dalam film Aruna dan Lidahnya, membuktikan bahwa kreativitas tanpa batas mampu mengubah sesuatu yang sederhana menjadi warisan budaya yang tidak terlupakan.
Menikmati rujak soto bukan hanya sekadar tentang rasa, melainkan juga tentang pengalaman multisensori yang menggugah seluruh indra. Keajaiban rujak soto sebenarnya terletak pada detail-detail kecil yang membuat setiap suapan menjadi petualangan rasa. Petis udang yang menjadi jiwa hidangan ini bukanlah bumbu sembarangan, teksturnya yang kental seperti saus dengan warna coklat kehitaman menyimpan kekayaan rasa laut yang tidak bisa digantikan terasi biasa.
Sementara itu, pisang batu atau pisang klutuk yang ditambahkan ke dalam bumbu memberikan sentuhan manis alami yang menyeimbangkan rasa asin pada petis, sehingga menciptakan kompleksitas rasa yang sulit dijelaskan tapi mudah diingat. Proses penyajiannya sendiri adalah ritual kuliner yang memikat. Rujak sayur berisi tahu tempe goreng, tauge kangkung rebus, mentimum, lontong, dan telur rebus ditata rapi dalam mangkuk sebelum akhirnya disiram dengan kuah soto panas yang langsung mengubah seluruh dinamika rasa dan aroma.
Proses dan cara pembuatan rujak soto tidak serumit yang dibayangkan. Pertama, siapkan kuah soto dengan merebus daging sapi atau babat hingga empuk, lalu tumis bumbu halus yaitu bawang putih, kunyit, jahe, kemiri, merica dengan serai dan daun jeruk, masukkan ke dalam rebusan daging dan biarkan mendidih. Untuk rujak, haluskan kacang tanah goreng, garam, gula merah, terasi, petis hitam, pisang batu dan cabai rawit sesuai dengan selera serta tambahkan sedikit air hingga kental. Tata bahan rujak, lalu tuangkan kuah soto panas diatasnya. Terakhir, taburi bawang goreng, daun bawang dan sajikan dengan kerupuk udang serta emping melinjo.
Adapun hal yang membuat kuliner ini semakin Istimewa adalah fleksibilitasnya yang luar biasa dan kemampuannya menyatukan berbagai kalangan. Ketika harga daging sapi sedang melambung tinggi, masyarakat Banyuwangi dengan bijak menggantinya dengan soto ayam ataupun soto ceker. Hal ini membuktikan bahwa esensi hidangan ini terletak pada kreativitas, bukan pada kemewahan bahan.
Para mahasiswa menyukainya karena mengenyangkan dengan harga yang terjangkau, keluarga menyukainya karena sumber gizinya lengkap, sementara itu para penikmat kuliner menyukainya karena keunikan rasanya yang tidak terduga. Warung-warung rujak soto tersebar di seluruh penjuru Banyuwangi bahkan sampai ke Surabaya. Masing-masing dengan resep rahasia dan ciri khas yang berbeda, namun semuanya tetap mempertahankan jiwa yang sama yaitu keberanian untuk mencampurkan yang tidak pernah dicampurkan sebelumnya.
Dengan harga yang sangat terjangkau yaitu mulai dari Rp15.000 – Rp35.000, rujak soto telah membuktikan bahwa inovasi kuliner terbaik tidak selalu membutuhkan bahan mahal atau teknik yang rumit. Bahkan ketika disajikan dengan tambahan es temulawak sebagai minuman pendamping, total pengeluaran masih sangat ramah dikantong. Fenomena rujak soto mengajarkan kita bahwa dalam dunia kuliner, seperti halnya dalam kehidupan, keberanian untuk berbeda sering kali menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Jangan lupa untuk mencoba kuliner ini ketika berkunjung ke Banyuwangi. Sensasi perpaduan rasa yang nyentrik dan unik terasa melalui perpaduan dingin dan hangat, segar dan gurih, tradisi dan inovasi dalam satu suapan yang penuh kejutan. Bagi yang pertama kali mencicipinya, sensasi asing ini lama kelamaan justru akan membuat ketagihan, membuktikan bahwa kenikmatan sering kali ditemukan dalam hal yang tidak terduga. Rujak soto adalah salah satu contoh sempurna dari keajaiban kuliner yang lahir dari keberanian untuk bereksperimen.
Redaktur: Katrin Alina
Leave a comment