Reporter; Aprilia Nadia Salsabila
Suara USU, Medan. Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa perekonomian Indonesia saat ini tengah berada dalam tahap survival mode (mode bertahan) akibat komplikasi tantangan global dan proses pemulihan domestik yang belum tuntas. Pernyataan ini disampaikan Purbaya dalam acara Media Briefing yang digelar di Jakarta pada Jumat (24/4/2026). Ia memperingatkan bahwa dalam situasi krusial ini, pemerintah hingga pelaku ekonomi tidak boleh menjalankan program secara setengah-setengah demi menjaga stabilitas negara agar tidak tergilas oleh persaingan bangsa lain.
Istilah survival mode ini dipopulerkan sebagai alarm serius bagi seluruh pemangku kebijakan. Menurut Purbaya, kondisi ini menuntut kedisiplinan tinggi dan strategi yang jauh lebih tajam. “Survival mode artinya kita enggak boleh main-main lagi. Enggak ada ruang atau enggak ada luxury untuk bermain-main dengan segala peluang yang kita bisa buat. Kalau program kita main-main, kita akan digiling bangsa lain,” ujar Purbaya, sebagaimana dikutip dari Kumparan.com. Ia menekankan bahwa keteraturan kebijakan serta pelaksanaan program yang efektif menjadi kunci utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi di tengah ketidakpastian.
Di sisi lain, potret ekonomi Indonesia tahun 2026 diwarnai oleh beragam proyeksi yang mencerminkan optimisme sekaligus kewaspadaan. Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional akan berkisar di angka 4,9% hingga 5,7%. Angka ini didorong oleh kuatnya permintaan dalam negeri meskipun laju ekonomi global sedang melambat. Namun, pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memasang target yang lebih ambisius dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026, yakni sebesar 6,3%.
Perbedaan perspektif juga datang dari lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) yang memprediksi pertumbuhan Indonesia berada di level 5,0% untuk tahun 2026. Variasi proyeksi ini menunjukkan bahwa ketidakpastian global masih sangat jelas, sehingga keberhasilan pencapaian target akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan domestik serta dinamika kondisi ekonomi dunia.
Melansir dari Kompas.com, pemerintah meyakinkan bahwa performa ekonomi pada kuartal I-2026 menunjukkan tren positif dengan estimasi pertumbuhan di atas 5,5%. Capaian ini dipicu oleh konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi motor penggerak utama, ditambah dengan stimulus fiskal yang difokuskan pada sektor-sektor strategis. Memasuki kuartal II-2026, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan bisa menyentuh angka 5,7% seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan berjalannya berbagai program stimulan.
Meskipun diliputi optimisme, ketidakpastian geopolitik global, konflik antarnegara, hingga tensi perdagangan internasional berpotensi besar mengganggu rantai pasok (supply chain) dan menekan performa ekspor Indonesia. Oleh karena itu, daya beli masyarakat di dalam negeri harus dipagari melalui stabilitas harga dan kebijakan perlindungan sosial yang tepat sasaran. Selain konsumsi, pemerintah juga memacu investasi lewat Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur dan hilirisasi industri.
Purbaya juga menyoroti aspek internal birokrasi, khususnya pada sektor penerimaan negara. “Walaupun sudah maju ya, Bea Cukai dan Pajak, tapi kita masih melihat ada kebocoran. Bahkan kebocoran ruang sana-sini yang masih bisa ditutup,” ungkapnya, dikutip dari Tribunnews.com. Ia menginstruksikan agar celah sistem keuangan tersebut segera dibenahi agar pendapatan negara menjadi maksimal dan terhindar dari pemborosan yang tidak perlu di masa sulit ini.
Kajian dari para ekonom turut mengonfirmasi bahwa tekanan luar negeri memang mempersempit ruang gerak pertumbuhan, meski angka psikologis 5% masih mungkin terjaga. Fokus kebijakan pun disarankan untuk memperkuat sektor domestik, diversifikasi ekonomi, dan peningkatan produktivitas. Langkah strategis seperti transformasi ekonomi melalui pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) dan pengembangan industri bernilai tambah menjadi harus diprioritaskan untuk memutus ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment