Reporter: Muhammad Ar Rofi Nst
Suara USU, Medan. Sistem pertanian hidroponik kini menjadi solusi konkret dalam menjamin pasokan sayuran bergizi untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Medan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karang Berombak, Kecamatan Medan Barat, resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan petani hidroponik yang berada di bawah naungan Yayasan Binar Bersama Hirasma di lahan pertanian Kecamatan Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang, pada Kamis (16/4/2026).
Dengan siklus panen yang relatif singkat, yakni sekitar 20 hari, serta sistem rotasi tanam yang terkelola dengan baik, hidroponik dinilai mampu menjamin kesinambungan pasokan pangan bergizi bagi anak-anak penerima manfaat. Di sisi lain, kolaborasi ini juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan bagi petani lokal.
Ketua Yayasan Binar Bersama Hirasma, Yudhi Ramadhan Siregar, menyatakan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan bahan pangan yang sehat dan berkualitas bagi masyarakat penerima program MBG. “Langkah ini diambil untuk memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi yang optimal. Sayuran hidroponik dipilih karena lebih higienis, bebas pestisida, serta kandungan nutrisinya lebih terjaga,” ujar Yudhi dalam wawancara yang dikutip dari RRI.co.id.
Yudhi menambahkan, kolaborasi tersebut merupakan hasil diskusi panjang bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk yayasan dan petani, guna mengoordinasikan ketersediaan pasokan secara optimal.
Komitmen dalam menjaga kualitas dan kuantitas produksi menjadi kunci keberhasilan program ini. Eko Ari, petani hidroponik yang terlibat dalam kolaborasi tersebut, menegaskan kesiapannya dalam memenuhi kebutuhan. “Kami siap menyediakan sayuran yang higienis dan bernutrisi. Dengan sistem hidroponik, pertumbuhan tanaman lebih terkendali sehingga saat panen berada pada kondisi optimal,” kata Eko.
Ia juga menjelaskan bahwa sistem rotasi tanam memungkinkan panen dilakukan setiap 20 hari, sehingga pasokan dapat berlangsung secara berkelanjutan. “Masa tanam relatif singkat, sekitar 20 hari sudah bisa dipanen. Kami optimistis mampu memenuhi kebutuhan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Kehadiran program MBG turut membawa dampak positif bagi petani hidroponik yang selama ini menghadapi ketidakpastian pasar. Dengan adanya jaminan penyerapan hasil panen secara rutin, petani dapat merencanakan produksi secara lebih terukur serta berinvestasi dalam perluasan kapasitas lahan dan peningkatan teknologi budidaya.
Peningkatan permintaan dari program MBG tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang nyata bagi petani lokal untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan ekonomi keluarga. Selain itu, penguatan kapasitas petani, mulai dari teknik budidaya yang lebih efisien hingga perbaikan sistem distribusi dari hulu ke hilir, menjadi bagian penting dalam memastikan rantai pasokan pangan yang andal dan berkelanjutan.
Eko berharap kolaborasi ini dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif yang lebih luas, baik bagi masyarakat penerima manfaat maupun komunitas petani di sekitar lahan. Ia meyakini bahwa dengan konsistensi dan dukungan berbagai pihak, pertanian hidroponik dapat tumbuh menjadi sektor yang lebih kuat dan mandiri.
Jika dijalankan secara konsisten serta diperluas cakupannya, kemitraan antara SPPG, yayasan, dan petani hidroponik lokal ini berpotensi menjadi model ketahanan pangan berbasis komunitas yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Sumatra Utara. Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga mencerminkan pembangunan ekosistem pangan lokal yang berkelanjutan, sekaligus menjamin kecukupan gizi generasi muda dan menggerakkan roda ekonomi petani lokal.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment