Oleh: Novia Khairin Zahra
“Sampai saat ini, sejarah masyarakat manapun di muka bumi ini adalah sejarah pertentangan kelas”. (Communist Manifesto – Karl Marx)
Suara USU, Medan. Karl Heinrich Marx, atau yang lebih dikenal sebagai Karl Marx, merupakan seorang filsuf sekaligus ahli ekonomi, sosiolog, dan jurnalis. Ia lahir pada 5 Mei 1818 dari keluarga kelas menengah di Jerman dengan garis keturunan rabbi Yahudi. Meski ayah dan ibunya merupakan penganut Kristen Protestan yang taat, Karl Marx dewasa justru dikenal luas sebagai seorang ateis. Hal ini berakar dari pemikirannya yang memandang agama sebagai “candu masyarakat” yang ia anggap dapat menghambat langkahnya sebagai revolusioner komunis dalam meruntuhkan sistem kapitalis.
Sebagai seorang revolusioner, pemikiran Karl Marx dipengaruhi oleh berbagai tokoh selama ia menempuh Pendidikan di Universitas Bonn, Universitas Humboldt Berlin, hingga Universitas Jena. Ia mengadaptasi serta mengkritisi gagasan dari dari Friedrich Engels, Adam Smith, Hegel, Kant, hingga Auguste Comte. Berangkat dari pemikiran para tokoh tersebut, ditambah keresahan mendalam atas kondisi perburuhan di Jerman saat itu, lahirlah keinginan kuat dalam diri Karl Marx untuk menciptakan sistem tanpa kelas yang adil serta mengembalikan kebebasan hakiki bagi setiap manusia.
Revolusi Karl Marx berawal dari kegelisahannya terhadap kaum kapitalis, terutama dalam dunia perburuhan kala itu. Kegelisahan tersebut kemudian membentuk jiwa kritis dan semangatnya untuk melawan sistem kelas yang dianggapnya tidak adil bagi kaum marginal. Kaum marginal yang dimaksud adalah kelas pekerja atau buruh yang tertindas selama bertahun-tahun tanpa perlawanan oleh kaum penguasa yang tak lain merupakan para pemegang modal.
Kondisi inilah yang kemudian melahirkan pembagian sistem kelas antara kaum borjuis (kelas atas) dan kaum proletar (kelas bawah). Dalam sumber yang lain, disebutkan pula adanya lapisan sosial di bawah proletar, yaitu kaum lumpenproletariat. Sepanjang perjalanan revolusinya, Karl Marx menuangkan pemikiran-pemikirannya ke dalam bentuk karya tulis. Salah satu bukunya yang paling fenomenal adalah Das Kapital, yang membedah bagaimana sistem ekonomi politik kapitalis ciptaan kaum borjuis mampu mengeksploitasi tenaga kerja secara sistematis. Dari sinilah kemudian teori konflik mulai menemukan akar dan asal mulanya.
Berbagai konflik yang ada pada zaman itu termasuk konflik politik, memulai pemikiran Karl Marx tentang sosialisme, ia merasa sosialisme adalah senjata yang paling tepat untuk melawan kapitalisme. Karl Marx juga berharap, sosialisme dapat membawa manusia pada kebebasan dan keadilan dalam menjalankan hidup. Dengan pemikiran sosialisme ini pula, ia ingin menciptakan sebuah bentuk kepemimpinan komunisme. Harapan awal Karl Marx terhadap komunisme ialah untuk mengubah suatu kepemilikan pribadi perihal alat produksi dan sumber daya alam menjadi kepemilikan bersama (publik), yang tentunya dengan tujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas yang berkeadilan.
Namun, setelah Karl Marx wafat dan tulisannya dilanjutkan oleh pemikiran rekannya yaitu Engels, isi dan maksud awal Karl Marx tentang komunisme pun turut berubah. Ditambah pada saat pemikiran dan aliran komunisme ini diterapkan oleh Vladimir Ilyich Lenin, makna komunisme berubah total dan menjadi sepenuhnya negatif seperti apa yang diketahui oleh banyak orang pada sekarang ini, yang kemudian dikenal dengan nama rezim komunis. Rezim-rezim ini membangun pemerintahan yang bersifat tanpa menolerir oposisi dan perbedaan pendapat. Sebab inilah yang menjadikan komunis dan komunisme tercipta sebagai hal yang menakutkan dan kejam dimata siapa pun yang berada dibawah kuasa rezimnya.
Pada mulanya, Karl Marx berharap agar pemikirannya dapat bermanfaat dan membantu proletariat dalam menemukan keadilan, berharap kemudian tercipta pemerintahan yang manusiawi tanpa membeda-bedakan status, dan berharap agar konflik apapun dapat menemukan solusinya dan tidak akan berulang. Namun, berkat kesalahan dan berkat catatan sejarah yang panjang tanpa perbaikan, Karl Marx hari ini justru dibenci oleh sebagian besar orang berkat “Aliran komunis” yang dipercaya para penguasa ialah aliran Marxis, dan merupakan paham kiri yang berbahaya dalam memberikan doktrin buruk bagi para revolusioner yang disebut oleh para penguasa dengan sebutan “Para pembangkang”.
Karl Marx telah memberikan pelajaran bagi kita, bahwasanya setiap paham yang kita terima, adakalanya untuk dicari tahu lebih mendalam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman pemikiran. Berdasarkan riwayat ini pula, menjadikan kita untuk membuka nalar kritis bahwa ternyata sejarah yang kita ketahui saat ini, belum tentu sepenuhnya benar, karena mungkin bisa saja sudah terjadi olah sejarah di dalamnya untuk memaparkan sejarah yang lebih sensasional dan signifikan.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment