Home Opini Menafsir Nihilisme dan Krisis Makna Mahasiswa
Opini

Menafsir Nihilisme dan Krisis Makna Mahasiswa

Share

Oleh: Ilma Anzali Hasni

Suara USU, Medan. Pernahkah kamu mendengar lontaran seperti “Untuk apa sih kuliah itu?” atau “Ngapain capek-capek kuliah kalau ujung-ujungnya cuma kerja atau malah jadi pengangguran?” Di dalam ruang akademik, khususnya lingkungan kampus, keluhan mahasiswa dan kritik publik yang memicu pro-kontra terhadap relevansi perkuliahan kini semakin nyaring terdengar. Bahkan, opini bahwa “kuliah itu scam” mulai tertanam kuat di benak masyarakat. Di tengah rutinitas tugas, kesibukan organisasi, dan ambisi mengejar IPK, muncul sebuah pertanyaan mengenai apa sebenarnya makna dari proses perkuliahan ini. Seolah-olah segala dinamika di kampus kehilangan tujuan hakikinya, sebuah keresahan yang berakar pada konsep filosofis yang dikenal sebagai nihilisme.

Secara etimologis, istilah nihilisme berasal dari kata Latin “nihil” yang berarti “ketiadaan apa pun”, sementara itu dijelaskan dalam artikel MasterClass, istilah modernnya berakar dari bahasa Jerman “nihilismus” yang muncul pada abad ke-18. Sebagai bagian dari filsafat yang berkembang di Eropa pada abad ke-19 dan ke-20, nihilisme menawarkan pandangan bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak memiliki makna, tujuan, atau nilai yang benar-benar pasti. Dalam kerangka berpikir ini, proses pendidikan maupun pencapaian akademik dianggap tidak memiliki dasar nilai yang absolut, karena pada akhirnya, tidak ada landasan objektif yang mampu memberikan validasi atas kebermaknaan hidup manusia.

Konsep ini mulai dikenal luas pada abad ke-19 melalui tokoh pemuda dalam novel Fathers and Sons (1862) karya Ivan Turgenev, yang digambarkan menolak tradisi dan otoritas lama. Dalam filsafat modern, Friedrich Nietzsche menganalisis nihilisme sebagai krisis nilai ketika manusia kehilangan pegangan terhadap moral absolut. Meski sering dianggap pendukung nihilisme, Nietzsche justru mengkritik kondisi ini sebagai gejala zaman yang harus diatasi.

Menurut jurnal Meaning in Meaninglessness: University Students’ Encounter with Nihilism (Amin dkk., 2023), sebagian mahasiswa mengalami kehampaan saat menghadapi tekanan akademik dan ketidakpastian masa depan. Pengalaman eksistensial ini memengaruhi kesejahteraan psikologis, terutama ketika hidup terasa berjalan tanpa arah. Dalam budaya populer, nihilisme ekstrem digambarkan melalui karakter Johan Liebert dalam anime Monster, yang memandang hidup manusia tidak berharga. Meski ekstrem, karakter ini secara simbolis menunjukkan bagaimana nihilisme bisa menjadi destruktif saat seseorang benar-benar kehilangan makna hidup.

Pertanyaannya, apakah nihilisme hanya ada dalam buku filsafat dan anime? Sayangnya, tidak. Dalam realitas kampus, fenomena ini bisa muncul dalam bentuk yang lebih sunyi yaitu rasa lelah yang menimbulkan hampa, kehilangan motivasi, dan pertanyaan seperti “untuk apa semua ini?”. Tekanan IPK, tuntutan organisasi, persaingan beasiswa, hingga ekspektasi keluarga sering kali membuat mahasiswa menjalani perkuliahan secara mekanis. Ketika kuliah hanya dipandang sebagai kewajiban tanpa tujuan yang benar-benar dipahami, rasa hampa bisa muncul secara perlahan.

Fenomena ini bukan lagi sekadar perdebatan teori di ruang kelas. Dalam beberapa tahun terakhir, media di Indonesia kerap menyuarakan kabar duka tentang mahasiswa yang terjebak dalam lingkaran depresi hingga memilih mengakhiri hidup akibat tekanan akademik yang tak terbendung. Salah satu potret kelam ini terekam dalam laporan CNN Indonesia, yang memberitakan seorang mahasiswa Universitas Buddhi Dharma ditemukan meninggal dunia pada Senin, 16 Juni 2025, setelah diduga berjuang melawan depresi berkepanjangan.

Dalam situasi tekanan akademik, ekspektasi sosial, serta rasa tertinggal, sebagian mahasiswa dapat terjebak dalam pola pikir bahwa usaha mereka sia-sia dan masa depan terasa kosong. Di titik inilah, nihilisme tidak lagi menjadi sekadar konsep filsafat, melainkan pengalaman eksistensial yang nyata dan berbahaya jika tidak disertai dukungan serta ruang diskusi yang sehat. Menurut artikel Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI tentang burnout akademik, tekanan tugas yang terus-menerus dapat menyebabkan kelelahan emosional, sinisme, dan penurunan motivasi belajar.

Di sinilah nihilisme menjadi relevan untuk dibahas. Bukan untuk dibenarkan, tetapi untuk dipahami. Mahasiswa berada pada fase pencarian jati diri. Wajar jika muncul pertanyaan tentang makna hidup, karier, dan masa depan. Namun, jika pertanyaan itu tidak diimbangi dengan dukungan sosial dan ruang refleksi yang sehat, ia bisa berubah menjadi rasa putus asa. Mahasiswa perlu diajak berdiskusi tentang tujuan hidup dan nilai yang mereka pegang. Nihilisme mungkin menyatakan bahwa hidup tidak memiliki makna pasti, namun bukan berarti kita harus berhenti mencari. Justru di tengah ketidakpastian itulah, pencarian makna menjadi tanggung jawab pribadi sekaligus tantangan kolektif. Jika kampus mampu menjadi ruang yang lebih manusiawi, pertanyaan “untuk apa semua ini?” tidak akan berujung pada kehampaan, melainkan pada kesadaran baru tentang arah yang ingin dituju.

Redaktur: Rifatul Suaidah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.