Home Opini Kebiasaan Mahasiswa Melewatkan Makan Malam dan Pengaruhnya bagi Tubuh 
Opini

Kebiasaan Mahasiswa Melewatkan Makan Malam dan Pengaruhnya bagi Tubuh 

Share

Oleh: Deswina Listiani Matondang

Di tengah ritme kehidupan kampus yang serba cepat, makan malam sering kali menjadi “korban” dari padatnya aktivitas mahasiswa. Tumpukan tugas, padatnya kegiatan organisasi, hingga kebiasaan begadang membuat waktu makan terasa tidak begitu penting. Banyak mahasiswa yang berpikir bahwa melewatkan makan malam bukanlah masalah besar, bahkan kerap dianggap sebagai cara praktis untuk menghemat waktu atau menurunkan berat badan. Padahal, di balik kebiasaan yang tampak sepele ini, tersembunyi berbagai dampak yang tidak dapat diabaikan. 

Mahasiswa berada dalam fase kehidupan yang penuh tuntutan. Selain akademik, mereka juga dihadapkan pada tekanan sosial, ekspektasi keluarga, dan kebutuhan untuk tetap produktif. Dalam kondisi seperti ini, pola makan kerap kali menjadi tidak teratur, mulai dari sarapan yang dilewatkan, makan siang tergesa-gesa, hingga makan malam yang diabaikan. Pola ini perlahan membentuk kebiasaan yang berisiko bagi kesehatan tubuh.  

Hasil penelitian dalam Pan African Medical Journal menunjukkan bahwa pola makan yang tidak teratur, termasuk melewatkan waktu makan utama, berpotensi mengganggu metabolisme tubuh, meningkatkan risiko obesitas, serta memicu berbagai masalah kesehatan lain, seperti resistensi insulin. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh tidak dirancang untuk beradaptasi dengan pola makan yang “acak”, melainkan membutuhkan pola makan yang konsisten dan teratur. Ketika asupan energi tidak diberikan secara konsisten, sistem metabolisme menjadi terganggu dan berdampak pada fungsi tubuh secara keseluruhan. 

Fenomena ini juga terlihat di Indonesia. Dalam artikel yang diterbitkan oleh Genta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi, dijelaskan bahwa pola makan tidak sehat di kalangan mahasiswa baru sering dianggap sebagai masalah kecil. Namun, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi persoalan serius jika terus dibiarkan. Misalnya saat melewatkan makan malam, hal ini bukan hanya soal kehilangan satu waktu makan, tetapi juga akan berpengaruh pada pola makan di hari-hari berikutnya. Salah satu dampak yang sering terjadi adalah munculnya pola makan di malam hari secara berlebihan. 

Berdasarkan penelitian dalam Jurnal Ilmu Kesehatan tahun 2021, perilaku makan yang tidak teratur dapat memicu sindrom makan malam, yaitu kondisi di mana seseorang cenderung makan dalam jumlah besar pada malam hari atau setelah terbangun dari tidur. Kondisi ini erat kaitannya dengan kebiasaan melewatkan makan di siang atau malam hari yang kerap dilakukan sebelumnya, sehingga tubuh seolah “membalas” kekurangan energi tersebut di waktu yang tidak tepat. 

Lebih dari sekadar pola makan, kebiasaan ini juga berdampak pada kualitas tidur. Mahasiswa yang tidak makan malam sering kali merasa lapar pada saat tengah malam, sehingga sulit tidur atau terbangun untuk makan. Siklus ini dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh yang menyebabkan manusia kelelahan di keesokan harinya. Dalam jangka panjang, gangguan tidur ini akan berpengaruh pada konsentrasi belajar, daya ingat, dan performa akademik. 

Lebih lanjut, faktor psikologis juga memainkan peran penting dalam pola makan. Stres akademik yang tinggi sering kali membuat mahasiswa mengabaikan kebutuhan dasarnya, yaitu makan. Dalam beberapa kasus, stres dapat menekan nafsu makan, sementara pada kasus lain, stres juga dapat memicu kebiasaan makan tidak terkontrol. Kedua kondisi ini sama-sama tidak sehat dan menunjukkan bahwa pola makan sangat berkaitan dengan kondisi mental seseorang. 

Menariknya, banyak kalangan muda yang beranggapan bahwa melewatkan makan malam dapat membantu menjaga berat badan. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan energi yang cukup, metabolisme tubuh akan melambat sebagai bentuk adaptasi. Selain itu, rasa lapar yang tertunda sering kali menyebabkan konsumsi makanan tinggi kalori di waktu lain. Akibatnya, tujuan untuk menjaga berat badan justru tidak tercapai.

Menurut artikel yang dipublikasikan Masoem University, menjaga pola makan yang teratur sangat penting bagi mahasiswa agar dapat tetap sehat, fokus, dan produktif. Makan malam tidak harus dalam porsi besar, tetapi tetap perlu dilakukan dengan komposisi yang seimbang. Karbohidrat, protein, dan serat yang cukup akan membantu tubuh mendapatkan energi yang stabil dan mendukung proses pemulihan setelah aktivitas seharian. Sayangnya, kesadaran akan pentingnya makan malam masih tergolong rendah. Banyak mahasiswa yang lebih memprioritaskan tugas atau aktivitas lain dibandingkan kesehatan diri sendiri. Padahal, tanpa kondisi fisik yang baik, produktivitas juga akan menurun. Tubuh yang lelah dan kekurangan energi tidak akan mampu bekerja secara optimal, meskipun dipaksakan.

Melihat berbagai dampak tersebut, sudah saatnya kebiasaan melewatkan makan malam tidak lagi dianggap sebagai hal biasa. Mahasiswa perlu mulai membangun kesadaran bahwa pola makan adalah bagian penting dari gaya hidup sehat. Mengatur waktu makan, menyiapkan makanan sederhana, atau setidaknya memastikan tubuh mendapatkan asupan yang cukup adalah langkah kecil yang bisa memberikan perubahan besar. 

Pada akhirnya, meski kehidupan mahasiswa penuh dengan tantangan, menjaga kesehatan tetap harus menjadi prioritas. Makan malam bukan sekedar rutinitas, tetapi kebutuhan dasar yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Kebiasaan kecil yang sering diabaikan ini, jika diperbaiki, dapat menjadi fondasi bagi kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.