Home Cerpen Kembali Pulang
Cerpen

Kembali Pulang

Share

​Oleh: Rosani Margaretha Samosir

Suara USU, Medan. ​Tidak semua orang pulang dengan langkah yang ringan. Sebagian dari mereka justru kembali dengan dada yang sesak oleh gema suara masa lalu, suara-suara yang tak pernah benar-benar selesai diperdebatkan.

​Ika tidak pernah merencanakan kepulangannya kali ini. Tidak ada tiket yang dipesan jauh-jauh hari, pun tidak ada kabar yang ia kirimkan sebagai penanda. Ia hanya terduduk di lantai kamar kosnya yang sempit, menyandarkan punggung pada dinding lembap yang mulai berjamur, sembari merasakan sekujur tubuhnya kosong melompong. Proyek yang ia pimpin berakhir gagal total. Rekan kerja yang dulu bersikap ramah, kini mulai menjaga jarak seolah kegagalannya adalah wabah. Di sisi lain, tabungannya kian menipis tergerus biaya hidup perkotaan yang tak pernah bertoleransi. Selama ini ia makan seadanya, tidur seadanya, dan hanya melempar senyum jika memang dirasa perlu.

​Suatu malam, setelah bekerja hampir dua belas jam tanpa jeda, Ika menatap pantulan wajahnya di kaca lift kantor. Matanya cekung dan layu, sementara bahunya meluruh jatuh. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat sosok perempuan ambisius yang dulu meninggalkan desa dengan kepala tegak. Ia hanya melihat orang asing yang teramat lelah. Dalam keletihan yang luar biasa itu, yang muncul di benaknya bukanlah bayangan gedung pencakar langit atau target karier, melainkan sebuah rumah. Rumah dengan lantai dingin yang selalu disapu bersih setiap pagi, suara denting sendok yang beradu dengan gelas, serta sosok yang selalu menunggu di ambang pintu tanpa syarat apa pun.

​Ika membeli tiket malam itu juga. Perjalanan kali ini terasa jauh lebih panjang dan melelahkan dari biasanya. Di sepanjang jalan, ia membayangkan ibunya akan membuka pintu dengan wajah terkejut, lalu pura-pura mengomel karena ia pulang tanpa memberi kabar. Ia bahkan bisa merasakan aroma sayur bening dan sambal terasi yang selalu ia rindukan diam-diam. Namun, saat ia benar-benar menginjakkan kaki di halaman, yang menyambutnya hanyalah gerbang berkarat dan kesunyian yang mencekam. Rumah itu seolah sedang menahan napas, menyembunyikan sesuatu yang perih di balik dinding-dindingnya.

​“Ibu?” panggilnya lirih setelah mendorong pintu kayu yang ternyata tidak terkunci. Hanya gema suaranya sendiri yang menyahut. Ia melangkah perlahan menyusuri ruang tamu yang remang. Jam dinding tergantung miring dengan jarum yang mati tepat pukul 10.17. Udara di dalam ruangan terasa pengap, tipikal ruangan yang sudah lama kehilangan penghuninya. Perasaan ganjil mulai merambat di dadanya, tetapi Ika buru-buru menepisnya. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin Ibu sedang bertandang ke rumah tetangga atau sekadar pergi ke pasar. Namun, semakin lama ia berdiri di sana, ia segera sadar bahwa kesunyian ini bukanlah sesuatu yang bersifat sementara.

​Pikiran Ika melayang pada peristiwa delapan tahun lalu, saat ia meninggalkan rumah ini dengan suara yang jauh lebih keras dari yang seharusnya. Kala itu, dengan mata berbinar penuh ambisi, ia memamerkan keberhasilannya diterima magang di kota besar. Ibunya tidak langsung tersenyum, melainkan berpesan dengan nada khawatir, “Magang itu belum tentu pasti, Ka. Ibu kota itu mahal dan kamu tidak punya siapa-siapa di sana.” Ika yang merasa diremehkan langsung menyahut cepat, “Aku tidak butuh siapa-siapa. Aku hanya butuh kesempatan!” Suaranya meninggi, mempertanyakan mengapa sang ibu selalu meragukan kemampuannya. Ia melihat sesuatu yang dalam di mata ibunya, bukan marah atau kecewa, melainkan sesuatu yang lebih menyakitkan, tetapi ia memilih untuk abai. “Aku tidak akan pulang,” ucapnya ketus sebelum menutup koper. Ibunya hanya berbisik pelan, “Jika kamu harus pergi, pergilah dengan baik-baik. Jangan pergi membawa amarah.”

​Kini, berdiri di tengah ruang tamu yang kosong, Ika merasakan gema kalimatnya sendiri menghantam batinnya. Di dapur, ia menemukan sebuah buku kecil bersampul cokelat di atas meja makan. Tangannya gemetar saat membuka halaman pertama yang dipenuhi tulisan tangan ibunya. “Hari ini Ika marah karena aku terlihat ragu. Padahal aku hanya takut tidak bisa menjaganya lagi,” tulis ibunya. Di halaman lain, ia membaca, “Ika jarang menelepon. Tapi mungkin itu tanda ia sedang sibuk mengejar mimpinya. Semoga ia tidak merasa sendirian.” Air mata Ika luruh seketika. Ia baru menyadari betapa sering ia menolak panggilan telepon dari rumah hanya karena merasa lelah atau terlalu gengsi untuk mengaku bahwa ibu kota tidak selalu ramah padanya.

​Tiba-tiba, langkah kaki perlahan terdengar dari arah luar. Seorang tetangga berdiri di ambang pintu dengan raut wajah terkejut. “Kamu baru sampai, Nak?” tanyanya. Ika hanya mengangguk lemah sembari bertanya di mana keberadaan ibunya. Tatapan tetangga itu seketika berubah sendu. “Kamu tidak tahu? Ibumu sudah meninggal enam bulan lalu. Sakitnya sangat kritis. Kami mencoba menghubungimu, tetapi nomor lamamu sudah tidak aktif.”

​Enam bulan. Kata itu terasa seperti hantaman telak yang meruntuhkan dunianya. Ika pulang untuk mencari pelukan, tetapi orang yang ingin ia peluk telah lama menyatu dengan tanah. Ia terduduk di kursi kayu, merasa tubuhnya menjadi sangat ringan sekaligus teramat berat secara bersamaan. Tidak ada teriakan histeris, hanya sunyi yang perlahan merayap memenuhi setiap rongga di dadanya. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan, ia tidak kalah oleh kerasnya ibu kota, melainkan ia kalah oleh waktu yang tidak mau berkompromi.

​Malam itu, dalam kegelapan yang mulai menyelimuti rumah, Ika berdiri dan mengambil jam dinding yang mati. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengganti baterainya. Tik. Bunyi kecil itu terdengar sangat jelas di rumah yang telah lama membeku. Ika sadar ia tidak bisa memutar balik waktu, tidak bisa meminta maaf secara langsung, dan tidak akan pernah lagi mendengar suara yang dulu selalu menantinya. Namun, ia masih memiliki pilihan tentang bagaimana ia akan melanjutkan hidup.

​Ia melangkah lebar, membuka semua jendela agar udara malam yang membawa aroma tanah dan suara jangkrik masuk membasuh ruangan. Besok, ia bertekad akan membersihkan seluruh sudut rumah ini, mengecat ulang dindingnya, dan menanam bunga matahari di halaman depan, bunga favorit yang dulu selalu dirawat ibunya. Karena kini ia mengerti, pulang bukan selalu tentang menemukan seseorang yang menunggunya di ambang pintu. Terkadang, pulang adalah tentang belajar memaafkan diri sendiri. Rumah bukan sekadar bangunan fisik tempat berteduh, melainkan kenangan yang menetap abadi meski raganya telah tiada. Di rumah yang mulai kembali bernapas itu, Ika berbisik pada udara malam, “Aku pulang, Bu. Meski terlambat, izinkan aku tinggal.” 

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.