Reporter: Arneta Yoselin Sitanggang
Suara USU, Medan. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat pembangunan Program Sekolah Rakyat Tahap II sebagai langkah strategis dalam mendorong reformasi pendidikan nasional. Program ini diharapkan menjadi solusi konkret untuk meningkatkan akses pendidikan sekaligus memperbaiki kualitas sarana dan prasarana sekolah di berbagai wilayah Indonesia.
Hingga 22 Maret 2026, progres pembangunan secara nasional telah mencapai 15,54 persen. Capaian ini menunjukkan percepatan dalam proses konstruksi, penyelesaian lahan, serta penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Program ini merupakan kelanjutan dari tahap I yang mencakup renovasi dan pembangunan 63 sekolah di 24 provinsi dengan total nilai kontrak mencapai Rp 322 miliar. Pada tahap II, pembangunan akan menjangkau lebih banyak provinsi serta kabupaten/kota.
Sekolah Rakyat Tahap II dirancang sebagai fasilitas pendidikan permanen yang dibangun di atas lahan seluas 5 hingga 10 hektare yang disiapkan oleh pemerintah daerah. Program ini mencakup 32 provinsi dan 102 kabupaten/kota dengan target kapasitas mencapai 112.320 siswa yang terbagi dalam 3.744 rombongan belajar. Dengan skala yang besar, pemerintah berharap program ini mampu menjangkau lebih banyak peserta didik, khususnya di daerah dengan keterbatasan akses pendidikan.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat merupakan wujud komitmen pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Ia menyatakan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada percepatan pembangunan, tetapi juga menjaga kualitas fasilitas yang dibangun.
“Pembangunan Sekolah Rakyat ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk membangun sumber daya manusia yang unggul. Kementerian PU ingin memastikan fasilitas pendidikan ini dibangun secara cepat dan berkualitas,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Program ini juga memberikan dampak ekonomi, khususnya bagi pelaku UMKM melalui produksi seragam, serta menyerap tenaga kerja melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun demikian, sektor pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Berdasarkan studi PISA 2022, sebanyak 82 persen siswa berusia 15 tahun memiliki kemampuan matematika di bawah standar internasional, sementara 75 persen lainnya menunjukkan kemampuan membaca yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih kesulitan memahami konsep dasar serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah masih menjadi persoalan. Terdapat daerah yang mampu mencapai hingga 70 persen siswa dengan standar minimum kompetensi, sementara di wilayah lain angkanya masih di bawah 40 persen. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih merata.
Dari sisi infrastruktur, sarana dan prasarana sekolah juga masih menjadi perhatian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa pada jenjang sekolah dasar, 49 persen sekolah mengalami kerusakan sedang dan 11 persen rusak berat. Pada jenjang SMP, sebanyak 42 persen mengalami kerusakan sedang dan 7 persen rusak berat. Sementara itu, pada jenjang SMA dan SMK, tingkat kerusakan juga masih tergolong tinggi.
Permasalahan pendidikan juga terlihat di tingkat daerah. Di Sumatera Utara, tercatat sebanyak 7.600 anak mengalami putus sekolah pada tahun 2023, menjadikannya sebagai daerah dengan angka putus sekolah tertinggi kedua secara nasional. Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menyatakan bahwa pemerintah daerah akan mengkaji faktor-faktor penyebab tingginya angka tersebut, termasuk aspek layanan pendidikan dan ketersediaan fasilitas.
Dengan berbagai tantangan tersebut, percepatan pembangunan Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya menjadi proyek fisik, tetapi juga langkah strategis dalam mewujudkan pemerataan pendidikan di Indonesia. Program ini diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan, mulai dari keterbatasan akses, ketimpangan kualitas, hingga minimnya fasilitas pendidikan. Pada akhirnya, pembangunan Sekolah Rakyat diharapkan dapat melahirkan generasi yang kompeten, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment