SUARA USU
Opini

KKN, Tulus Mengabdi atau Hanya Menambah SKS?

Repoter: Nurseha

Suara USU, Medan. Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan hal asing lagi di telinga. KKN merupakan bentuk pengabdian yang dilakukan oleh mahasiswa/i di desa-desa yang diharapkan dengan tujuan dapat membangun desa. Melalui KKN, ilmu-ilmu yang selama ini dipelajari selama di kampus dapat diterapkan oleh para mahasiswa dengan terjun langsung di kehidupan masyarakat. Tak hanya itu, KKN merupakan salah satu SKS yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa. Namun, benarkah KKN itu dilakukan dengan tulus mengabdi di desa atau hanya menambah SKS saja?

Pertanyaan sederhana tersebut  sering kali terbesit di benak para mahasiswa bahkan masyarakat sekitar kita. Tidak menutup kemungkinan bahwa mengabdi di sebuah desa terpencil  memang merupakan kewajiban untuk memenuhi SKS di dunia perkuliahan. Terlebih lagi, KKN akan menambah sebanyak 3 SKS. Sehingga tak dapat dipungkiri bahwa banyak mahasiswa yang hanya ingin menambah SKS saja dan sedikit jauh dari kata tulus untuk mengabdi.

Di sisi lain, sebenarnya ada beberapa faktor yang dapat membangkitkan rasa tulus mengabdi di hati setiap mahasiswa yang mengikuti KKN, yaitu ketika mereka turun langsung melihat keadaan masyarakat yang sebenarnya. Salah satunya ditemukan bahwa kurang sekali minat masyarakat (pelajar) terutama di bidang akademik. Tak sedikit anak-anak yang belum pandai membaca bahkan menulis dan menghitung. Selain itu, banyak warga yang berstatus pengangguran, pudarnya tradisi gotong royong, dan minimnya pengetahuan tentang hukum diakibatkan kuatnya sistem kekerabatan yang mengabaikan hal-hal penting tersebut dan masih banyak lagi hal-hal lain yang dapat membuat mahasiswa menjadi sadar bahwa mereka sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk membawa perubahan.

Tak lepas dari itu, masyarakat pun merasa mahasiswa sangat bermanfaat bagi desanya. Seperti sebuah peribahasa apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Kebaikan yang diberikan dibalas dengan indahnya dihormati, diingat, dan bahkan dikenang oleh masyarakat setempat. Hal ini menjadikan pengalaman dan ladang pahala yang tak akan pernah luntur.

Redaktur: Tamara Ceria Sairo


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Linus: Transportasi Penolong Mahasiswa, Sudah Layakkah?

redaksi

Menyoal Kesetaraan Pembukaan Kantin di USU

redaksi

Pinjol & Paylater di Kehidupan Mahasiswa? Mempengaruhi Kehidupan Kampus?

redaksi