Reporter: Cynthia Ma, Nurur Rahma, Katrin Alina, Nabila Yasmin, Fatimah Roudatul Jannah
Suara USU, Medan. Berdiri sejak tahun 2012, kini Medan Zoo berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Menurunnya finansial kebun binatang yang bermula pada pandemi Covid-19 di tahun 2020, berdampak sejalan dengan menurunnya kondisi operasional, perawatan satwa, hingga pemeliharaan fasilitas di lahan seluas 30 hektar.
Akses jalan menuju lokasi terpantau mengalami kerusakan berat, dengan kondisi berlumpur serta dipenuhi bebatuan yang pecah dan tidak beraturan. Selain itu, fasilitas umum di kawasan kebun binatang seperti tempat duduk dan pendopo tampak terbengkalai dan tidak terawat, sehingga tidak lagi layak maupun nyaman untuk digunakan oleh pengunjung.
Berdasarkan keterangan dari seorang petugas kebersihan dan dua petugas pemeliharaan satwa di lapangan, jumlah pengunjung saat ini sering kali tidak mencapai 5 orang per harinya. Kondisi ini memaksa sebagian besar kantin tutup dan dirobohkan karena penjualnya tidak lagi mampu membayar sewa, menyisakan dua kantin yang masih bertahan di sana.
Menurut dugaan salah satu petugas, rendahnya minat pengunjung dikarenakan revitalisasi yang tidak kunjung terlaksana “Adanya iklan di sosial media tentang perbaikan fasilitas dan infrastruktur Medan Zoo dari beberapa tahun lalu, juga jadi faktor menurunnya minat pengunjung. Dikarenakan sampai saat ini tidak banyak yang diperbaiki. Hal ini pun sebenarnya akibat dari kurangnya pendapatan Medan Zoo untuk menunjang perbaikan menyeluruh,” tuturnya.
Krisis finansial yang semakin parah seiring penurunan jumlah pengunjung juga mulai berdampak langsung pada koleksi satwa. Beberapa kandang kosong tanpa satu satwapun terlihat mendiaminya. Petugas kebun binatang mengungkapkan, banyak hewan yang telah mati dan menyebabkan kekosongan pada banyak areal kandang. Beberapa aspek edukasi yang biasa digunakan pengunjung untuk mempelajari rute dan jenis satwa yang ada turut terbengkalai. Terlihat papan informasi yang memuat informasi keliru, salah satunya adalah papan informasi di kandang Elang Bondol yang justru memuat deskripsi perilaku harimau.
Pengelolaan lahan kebun binatang dengan luas 30 hektar saat ini hanya ditangani oleh 24 orang staf. Pengelola kebun binatang yang tengah bertugas menuturkan, jumlah tersebut jauh dari jumlah ideal untuk optimalisasi pengelolaan kebun binatang yang paling tidak berjumlah 40 orang. Dalam bagian kebersihan, kondisinya jauh lebih kritis dengan tersisa 4 petugas saja yang harus bekerja dalam sistem shift untuk mencapai pembersihan seluruh area.
Meski berada di bawah naungan Pemerintah Kota Medan, tanggung jawab pengelolaan operasional sepenuhnya berada di tangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Pihak pengelola mengaku tidak menerima dukungan dana operasional rutin. Dukungan dana senilai miliaran rupiah terakhir kali diterima pihak kebun binatang pada tahun 2012 saat awal pendiriannya.
Pihak pengelola menyatakan kekecewaan mereka atas kurangnya perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan Medan Zoo.
“Kita juga sebenarnya bisa menerima bantuan dana langsung dari Pemprov atau Pemkot. Misalnya itu kebun binatang Ragunan yang bisa diberikan subsidi senilai miliaran rupiah dari Pemprov setiap tahunnya. Makanya tiket masuknya hanya seharga lima ribu rupiah di Jakarta. Kenapa kita nggak bisa?” ujar seorang petugas.
Sebagai bentuk pengharapan untuk masa depan kebun binatang, pengelola berharap adanya kolaborasi dari berbagai sektor terutama sektor pendidikan. “Kami berharap mahasiswa dari universitas seperti USU, UMSU, dan UINSU juga bisa turut serta membantu pengembangan Medan Zoo ini,” pungkasnya.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment