Oleh: Priyanka Az Zahra
Suara USU, Medan. Kesehatan mental adalah isu yang masif muncul dalam beberapa tahun belakangan ini. Parahnya, masalah kesehatan mental paling banyak dialami oleh Generasi Z (Gen Z). Karena hal itu, Gen Z sering dicap sebagai generasi yang paling lemah menghadapi kuatnya arus kehidupan, baik di lingkungan kerja, pendidikan, maupun rumah.
Sungguh disayangkan bahwa hingga di lingkungan rumah pun, kesehatan mental masih menjadi persoalan yang tidak ada habisnya. Walaupun tidak semua orang tua mengabaikan kesehatan mental putra-putrinya, tercatat sekitar 55% orang tua enggan mendiskusikan kesehatan mental dengan anak-anak mereka pada tahun 2015 (DetikHealth). Selain itu, menurut data dari situs Rumah Sakit Jiwa Aceh, tingkat depresi Gen Z dua pertiga lebih tinggi dibandingkan dengan generasi milenial. Sementara itu, menurut HaloDoc yang melansir penelitian dari American Psychological Association (APA), sekitar 91% Gen Z pernah mengalami setidaknya satu gejala fisik atau emosional akibat stres, seperti perasaan depresi, sedih, kehilangan minat, hingga kelelahan energi.
Masalah kesehatan mental semakin terbukti, setelah meningginya angka kasus bunuh diri di Indonesia. Dilansir dari situs Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, selama Januari hingga Agustus 2023 tercatat sebanyak 866 kasus bunuh diri, hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun 2022 yang mencatat sekitar 300 kasus. Salah satu kasus terjadi di Kota Bogor, Jawa Barat. Menurut situs DetikNews, seorang pria berusia 25 tahun ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di kediamannya di Rangga Mekar, Kecamatan Bogor Selatan, Bogor, Jawa Barat. Sebelum meninggal, korban sempat mengalami frustrasi karena lama menganggur. Korban juga pernah mengatakan kepada adiknya bahwa ia ingin mengakhiri hidupnya sendiri sebelumnya.
Angka-angka ini menjadi bukti bahwa kesehatan mental perlu mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak. Meski terdengar tabu bagi sebagian orang, kesehatan mental sangat berpengaruh pada kondisi siapa pun, terutama generasi penerus bangsa, yang saat ini didominasi oleh Gen Z. Gangguan kesehatan mental tidak mengenal usia, gender, atau sampai penduduk wilayah mana pun untuk dijangkiti. Isu ini merupakan hak yang harus dipahami siapa pun, kapan pun, dan di mana pun mereka berada. Dengan dukungan penuh dari pemerintah yang semakin memperhatikan isu ini, diharapkan mampu menghilangkan stigma “tabu” yang masih saja ada dalam lingkungan masyarakat.
Lantas, apa penyebab umum dari persoalan ini? Beberapa penyebab yang dilansir dari HaloDoc dan situs Universitas Diponegoro adalah sebagai berikut:
- Media Sosial
Kebiasaan menggulir media sosial secara terus-menerus memang menyenangkan. Namun, hal ini membuat Gen Z terperangkap dalam ruang lingkupnya sendiri sehingga sulit keluar dari zona nyaman. - Ketidakpastian Masa Depan
Pasang-surut kondisi dalam masyarakat dan negara memicu kata “tergantung” sehingga banyak kalangan Gen Z yang merasa tertekan akan masa depan. - Lebih Memedulikan Isu Sosial-Politik
Isu seperti perang, kekerasan, hingga rasisme yang sering muncul di media sosial memunculkan rasa empati berlebih dan mendorong kecemasan pada Gen Z. - Terisolasi
Masih berkaitan dengan media sosial, fenomena sekumpulan orang yang duduk bersama tetapi sibuk dengan gadget masing-masing sudah menjadi hal lumrah. Hal inilah yang membuat Gen Z merasa kesepian. - Sulit Percaya Diri
Rasa insecure yang ditimbulkan media sosial juga memicu gangguan mental pada Gen Z. Hal ini juga yang mengakibatkan Gen Z sering membuat akun kedua di media sosial untuk lebih bebas mengekspresikan dirinya tanpa takut dihakimi orang lain.
Isu kesehatan mental memang penuh lika-liku. Terkadang kita tidak bisa menyalahkan orang sekitar sepenuhnya, dan kita juga tidak bisa menyalahkan diri kita sendiri sepenuhnya. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan mewaspadai gangguan kesehatan mental. Berbicara tentang gangguan mental sama halnya dengan berbicara tentang gangguan fisik, yang juga bisa sakit dan membutuhkan pertolongan.
Redaktur: Yuni Hikmah
Leave a comment