Home Sosok Luis Armando Simbolon, Mahasiswa Arsitektur USU yang Merancang Mimpi Melalui Aksi Nyata
Sosok

Luis Armando Simbolon, Mahasiswa Arsitektur USU yang Merancang Mimpi Melalui Aksi Nyata

Share

Oleh: Siti Baiduri Nurhaliza

Suara USU, Medan. Menjadi mahasiswa Arsitektur kerap diidentikkan dengan tugas menumpuk, begadang, dan tenggelam di antara tenggat waktu proyek studio. Namun, bagi Luis Armando Simbolon, mahasiswa semester 7 Arsitektur, Universitas Sumatera Utara (USU), kesibukan itu bukan alasan untuk berhenti berkarya di luar ruang kelas. Justru di tengah padatnya jadwal kuliah, ia aktif berorganisasi, mengikuti lomba, magang, hingga membangun komunitas sosial yang ia rintis bersama tiga temannya.

Menariknya, kecintaan Luis pada arsitektur, baru muncul saat duduk di bangku kelas tiga SMA. Awalnya, ia sempat mempertimbangkan jurusan Psikologi setelah mengikuti tes MBTI yang diadakan sekolahnya. Sementara itu, ia lebih suka menggambar sesuatu yang terukur, sehingga memilih arsitektur.

Latar belakangnya sebagai lulusan SMA Unggul Del yang menerapkan sistem asrama membuat Luis terbiasa hidup disiplin. Namun, masa awal kuliah tetap menjadi tantangan tersendiri. 

“Di SMA semua sudah teratur—jam makan, jam belajar, sampai ekskul. Di kuliah, aku harus belajar menata ulang ritme itu,” ujarnya. 

Ia berusaha mengembangkan kemampuan desainnya dengan mencari ide melalui referensi dari Pinterest atau Behance, serta berdiskusi dengan kakak tingkat untuk bertahan di dunia arsitektur.

Di antara proyek akademik, studio bangunan bertingkat tinggi adalah pengalaman paling menantang bagi luis. 

Ia mengaku, “Nggak bisa tidur tenang, banyak hal harus dipikirkan: manusianya, lingkungannya, dampaknya, teknis dan strukturnya. Kompleks, tapi berkesan karena kepake banget di magang sekarang.” 

Pengalaman ini menegaskan bahwa setiap tantangan di bangku kuliah, sekompleks apapun, merupakan investasi berharga untuk karir masa depan.

Meski padat tugas, ia tak ingin hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang). Aktif di organisasi menjadi jalan untuk mengasah diri. Di himpunan mahasiswa Arsitektur, ia pernah menjabat sebagai ketua bidang Seni dan Olahraga, menggelar berbagai acara kreatif bagi mahasiswa. Ia juga bergabung dengan AIESEC sebagai partisipan, mengikuti program AFS Summer PIK dan Contribution to Literacy 2.0. Ia percaya bahwa organisasi itu wadah berkembang. 

Tak berhenti di situ, Luis bersama tiga sahabatnya membentuk komunitas sosial bernama Kolaborasi. Berawal dari ide sederhana saat nongkrong yakni menggabungkan hobi memasak dengan aksi sosial. Mereka membagikan 50 kotak makan untuk tunawisma, juru parkir, dan pemulung. 

“Awalnya cuma buat coming soon di Instagram, nggak nyangka dapat atensi besar,” ujar Luis. 

Menjaga komunitas agar tetap berjalan menjadi tantangan, dan menurutnya, hal yang paling berat adalah mempertahankan keberlanjutan. Solusi dari tantangan ini adalah komunikasi yang konsisten.

Pengalaman berorganisasi mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi dan mengkoordinasikan tim. Keterampilan ini terbukti bermanfaat saat ia terlibat dalam Pimnas. Meski harus membagi waktu antara proyek nasional dan tugas studio yang menumpuk, kerja kerasnya terbayar saat timnya masuk sebagai finalis. 

“Itu titik balik yang kurasakan. Sejak Pimnas, aku jadi terbiasa ikut lomba,” katanya.

Sejak saat itu, Luis semakin rajin mengikuti berbagai kompetisi. Ia tercatat pernah mengikuti sejumlah sayembara bergengsi seperti Sayembara Interior CFC, PERSPEKTIF Universitas Mataram (karya: Samagri Mataram), Wiswakharman Expo Universitas Gadjah Mada (karya: Ranum Rasa), DISCO Universitas Diponegoro (karya: Bolonovasi), dan Archevent Universitas Sebelas Maret yang saat ini masih berjalan (ongoing). Tak hanya itu, ia juga menggarap proyek desain pengabdian masyarakat seperti Medan Medical Tourism Board, serta berhasil menjadi finalis PKM VGK kategori Desainer Modelling.

Di balik semangatnya, Luis menyimpan inspirasi besar dari sosok sang ibu. “Ibuku adalah orang yang punya nilai sosial tinggi, suka membantu orang. Aku yakin sifat suka membantu ini terbawa dari beliau,” ujarnya. Nilai sosial itu pula yang ia bawa ke dalam karya arsitektur.

Saat ini, Luis tengah menggarap skripsi tentang pusat rehabilitasi korban kekerasan seksual pada anak dan perempuan. Baginya, desain arsitektur harus berdampak nyata. Ia ingin agar desainnya tidak hanya sekadar indah dipandang, melainkan bisa membantu orang.

Kedepan, ia berencana melanjutkan studi ke Program Profesi Arsitektur (PPAr) di Institut Teknologi Bandung (ITB), lalu mengambil S2. Meskipun tidak berencana langsung membuka biro arsitektur, ia terbuka jika jalannya mengarah ke sana. Ia memegang prinsip, “jalani apa yang ada di depan mata, tapi tetap punya visi.”

Bagi Luis, menjadi mahasiswa bukan hanya soal mengejar nilai akademik. Ia percaya, perkembangan diri datang dari keberanian terjun ke berbagai dunia baru. 

“Harus coba hal baru—ikut sayembara, magang, komunitas. Dari situ kita tahu apa yang perlu diperbaiki dan dikembangkan,” tutupnya.

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.