
Reporter: Angelica Maria
Suara USU, Medan. Pada dasarnya Manusia adalah makhluk sosial yang setiap saat mengandalkan komunikasi untuk mendapatkan serta menimbulkan informasi yang ada melalui Interaksi secara langsung atau tidak langsung. Komunikasi menjadi sangat penting bagi masyarakat terutama dalam politik. Di Indonesia, komunikasi dalam politik menjadi hal yang biasa didengar oleh masyarakat dan tidak jauh dari namanya hegemoni yang tentu saja memberi pengaruh besar.
Secara sederhana, komunikasi politik dapat diartikan sebagai sebuah proses penyampaian, pertukaran dan pencari informasi—fakta, pendapat, keyakinan, dan pandangan—di antara para partisipan dalam konteks kegiatan politik. Biasanya komunikasi politik digunakan, diterapkan oleh para politisi, fasilitas dan aktivis. Secara sederhana, hegemoni dapat diartikan sebagai suatu kepemimpinan atau kekuasaan yang dijalankan oleh kelas dominan untuk mendapatkan persetujuan secara sukarela dari kelas yang didominasi.
Hegemoni tidak hanya penguasaan suatu kelompok terhadap kelompok lain yang bersifat fisik dan wilayah, tetapi lebih kepada penguasaan secara intelektual sehingga terjadi konsensus antara yang menguasai dan dikuasai. Dalam hegemoni, menerima penguasaan terkadang terasa nyaman, walaupun secara sadar hal tersebut membuat orang tidak dalam posisi yang menguntungkan. Komunikasi politik secara luas tentu saja tidak lepas dari kekuatan hegemoni. Hegemoni politik yang membentuk wacana, mempengaruhi opini, dan mengarahkan persepsi atau membentuk suatu pandangan terhadap kebenaran politik.
Dalam komunikasi politik, agar berjalan dengan lancar maka media sosial menjadi solusi. Media sosial digunakan secara perlahan-lahan untuk memberi pesan yang menarik dalam bentuk tulisan atau video dalam bentuk kreatif untuk menarik perhatian masyarakat. Kalimat persuasif dan menarik digunakan untuk membungkus narasi dengan maksud tertentu oleh sang penguasa dalam memengaruhi masyarakat. Dalam hal ini, secara realiti hegemoni politik berperan sangat kompleks.
Rata-rata dari semua kejadian yang dikuasai oleh partai politik besar, elite kekuasaan, atau kelompok kepentingan memiliki peran penting dalam membangun pandangan dan opini publik masyarakat terhadap situasi politik. Hal ini membuat ruang komunikasi publik sering sekali menjadi tidak netral dan berada dalam situasi tumpang tindih. Hegemoni dalam komunikasi politik tentu saja berperan sangat penting khususnya dalam masa kampanye dan proses pembuatan kebijakan publik.
Elite politik dan ekonomi tentu saja mengendalikan arus besar dan kekuatan dalam memegang media sebagai kunci utama. Kaum elite secara dominan mengatur narasi publik untuk kepentingan mereka dan keuntungan yang mereka. Ada dari mereka yang mempunyai media tertentu untuk membangun narasi dan kepercayaan melalui pesan yang ditampilkan di media sosial untuk mempengaruhi pandangan masyarakat.
Dalam masa kampanye, beberapa dari media cenderung memihak pasangan tertentu dengan menyajikan pemberitaan yang lebih dominan terhadap pasangan tersebut baik secara eksplisit maupun tersirat serta pembelian narasumber yang sesuai. Beberapa dari Mereka cenderung menyampaikan berita yang baik narasi yang bijak terhadap pasangan tertentu untuk membangun kepercayaan masyarakat dalam memilih di pemilu. Beberapa dari media tersebut juga cenderung bersikap pro terhadap pemerintah dan memandang baik kebijakan pemerintahan yang dibuat. Namun, juga sebaliknya, beberapa media juga cenderung bersikap kontra dan bersikap kritis terhadap pemerintahan Indonesia. Ini hanya tentang siapa dan dimana elit tersebut mendominasi narasi.
Beberapa dari mereka juga menyewa influencer untuk alat membuat masyarakat percaya kepada elit tertentu. Beberapa juga menyewa buzzer baik dari masyarakat itu sendiri maupun dari influencer terkenal, walaupun terkadang masyarakat tidak percaya tapi pada kenyataannya di lapangan beberapa dari masyarakat bisa saja terpengaruh oleh narasi dari influencer maupun kelompok buzzer. Namun sebaliknya, mereka yang benar-benar memuji pemerintahan atau mereka yang mengkritik elite penguasa atau berbanding narasi terbalik dengan elite tertentu justru diserang bahkan mengalami beberapa doksing atau intimidasi dan mungkin juga dianggap buzzer padahal mungkin saja itu penilaian tanpa campur tangan yang lain.
Ketika komunikasi politik dipengaruhi oleh hegemoni secara penuh, maka tentu saja demokrasi dalam bahaya. Demokrasi tersebut tidak dapat dilakukan dengan baik bagi media karena tidak dapat netral secara penuh terhadap pemerintahan. Dalam kondisi sekarang, sebagian masyarakat cenderung tidak percaya pada narasi media dan hal tersebut dipengaruhi oleh betapa besar pengaruh dominasi elite terhadap netralitas media. Hal tersebut sesuai dengan pengertian Antonio Gramsci dalam realitas, bagaimana hegemoni bekerja untuk mengendalikan narasi publik, memanipulasi persepsi dan hal tersebut tentu saja mempengaruhi pandangan masyarakat.
Redaktur: Katrin Alina
Leave a comment