
Oleh: Erika Anggraini
Suara USU, Medan. Di tengah tren busana yang serba cepat, gaya hidup one time outfit semakin mendominasi ekspresi diri Gen Z dalam berpenampilan. Konsep ini merujuk pada kebiasaan memakai pakaian hanya sekali untuk diunggah ke media sosial, lalu diganti dengan outfit berbeda pada unggahan selanjutnya. Sekilas memang terlihat seru dan menarik, tapi di balik tren ini tersimpan dampak yang tidak bisa diabaikan, baik positif maupun negatif.
Dari sisi positif, gaya hidup one time outfit memberi ruang bagi Gen Z untuk mengekspresikan kepribadian dan kreativitasnya. Setiap outfit bisa menjadi representasi tren kekinian yang membuat penampilan lebih bervariasi. Unggahan pakaian baru di media sosial juga bisa meningkatkan rasa percaya diri serta membuka koneksi dengan komunitas yang memiliki minat serupa dalam dunia fashion.
Namun di sisi lain, kebiasaan membeli pakaian hanya untuk sekali pakai dapat mendorong perilaku konsumtif yang tidak berkelanjutan. Banyak orang merasa harus terus membeli outfit baru demi mempertahankan citra di media sosial. Tekanan untuk selalu tampil sempurna dan mengikuti tren terkini juga dapat memicu stres, kecemasan, dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri. Melihat unggahan orang lain pun bisa memunculkan perasaan rendah diri, karena merasa penampilan diri tak sebanding dengan standar yang ada.
Alasan utama seseorang mengikuti tren ini biasanya didorong keinginan untuk menghindari penilaian orang lain, tampil modis, dan selalu terlihat mengikuti tren. Padahal, ada cara untuk tetap tampil gaya tanpa harus membeli pakaian baru setiap saat. Mengandalkan pakaian yang serbaguna, melakukan mix and match (padu padan), serta mempertimbangkan dampak lingkungan merupakan langkah cerdas dalam menyikapi tren ini.
Untuk menghindari gaya hidup one time outfit, Gen Z bisa mulai dengan berbelanja secara bijak dan memilih pakaian yang dapat dipakai dalam berbagai kesempatan. Membangun capsule wardrobe berisi item dasar yang mudah dipadupadankan bisa sangat membantu. Selain itu, bertukar pakaian dengan teman bukan hanya hemat biaya, tapi juga menyenangkan. Fokuslah pada kualitas daripada kuantitas, pakaian yang tahan lama lebih menghemat pengeluaran dan mengurangi limbah fashion. Tidak semua tren harus diikuti, cukup pilih yang sesuai dengan gaya pribadi. Kesadaran diri dalam bermedia sosial juga penting, agar tidak terjebak dalam perbandingan yang merugikan diri sendiri. Terakhir, manfaatkan kreativitasmu untuk menciptakan tampilan baru dari pakaian lama.
Dengan langkah-langkah ini, Gen Z bisa tetap tampil stylish dan bertanggung jawab tanpa harus terjebak dalam gaya hidup one time outfit. Karena sejatinya, fashion bukan tentang seberapa sering kamu ganti baju, tapi bagaimana kamu mengekspresikan dirimu dengan percaya diri dan kesadaran.
Redaktur: Zahra Zaina Rusty
Leave a comment