
Oleh: Miftahur Rizqa, Aulia Arraafi, Rangga Purba, Gita Shine Gloria, Jannah Yuliyanti, Yohana Gracia Natalia, Gembira Trans Joshua Siregar, dan Tiara Agnesia Br. Siahaan
Suara USU, Medan. Di era transformasi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah merambah berbagai bidang kehidupan. AI adalah teknologi yang memungkinkan mesin untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia, seperti pemrosesan bahasa alami, pengenalan suara, dan pengambilan keputusan. Perkembangan AI ini telah memberikan dampak signifikan dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan. AI kini berfungsi sebagai asisten belajar yang mampu membantu mahasiswa memahami materi, menulis esai, membuat ringkasan, hingga menganalisis data penelitian. Di kota Medan, yang merupakan salah satu pusat pendidikan tinggi di Sumatera, mahasiswa dari berbagai universitas seperti Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Medan (UNIMED), dan perguruan tinggi swasta lainnya mulai aktif menggunakan AI untuk menunjang produktivitas akademik. Ini adalah bagian penting dari kemajuan teknologi pendidikan yaitu untuk mempercepat dan memperluas akses terhadap pengetahuan.
Pemanfaatan AI Dalam Kegiatan Pembelajaran Mahasiswa di Kota Medan
Dengan menggunakan AI, sistem pembelajaran dapat menganalisis dan memahami kebutuhan individu mahasiswa. AI dapat mengidentifikasi tingkat pemahaman, gaya belajar, dan preferensi belajar setiap mahasiswa secara personal. Dengan demikian, kurikulum dan materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa, memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Aplikasi AI seperti Chat GPT, DeepSeek, PerplexityAI, Mendeley, Notion dan masih banyak lainnya yang banyak digunakan mahasiswa untuk menemukan dan memahami materi dengan lebih baik.
AI dapat membantu mahasiswa dalam memahami kebutuhan dan gaya belajar mahasiswa, menilai tugas mahasiswa dan memberikan umpan balik secara instan, sehingga mahasiswa dapat mengetahui di mana letak kesalahan mereka, AI juga bisa memberi bantuan kepada mahasiswa yang sedang mengalami kesulitan dalam belajar. Contohnya seperti memberikan penjelasan yang lebih mudah tentang suatu materi yang dibahas. Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja akademik mereka dengan lebih efektif. Namun, bersamaan dengan manfaat tersebut, muncul tantangan serius yang berkaitan dengan etika, keadilan, dan integritas akademik.
Isu Etika dalam Pemanfaatan AI Akademik

Etika akademik mencakup nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas dalam kegiatan belajar dan penelitian. Dalam era AI, prinsip ini tetap harus dijunjung tinggi. Mahasiswa tidak boleh menjadikan AI sebagai jalan pintas untuk menghindari usaha berpikir kritis dan orisinalitas karya ilmiah.
Mengutip nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua dan kelima, mahasiswa diharapkan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan. Artinya, penggunaan teknologi harus dilakukan dengan bijak dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Misalnya, menggunakan AI untuk membantu pemahaman materiil diperbolehkan, tetapi menyerahkan tugas hasil salinan AI tanpa pemikiran pribadi merupakan pelanggaran etika akademik.
Berikut adalah beberapa contoh kasus penyalahgunaan AI yang dimaksudkan:
- Plagiarisme pada Karya Tulis
Contoh kasus penyalahgunaan teknologi AI yang pertama adalah terjadi tindak plagiarisme. Secara sederhana, plagiarisme adalah mengakui karya orang lain sebagai karya diri sendiri.Tidak sedikit mahasiswa yang kesulitan menulis karena keterampilan yang minim, referensi terbatas, dan penyebab lainnya. Hal tersebut membuat mahasiswa mengambil jalan pintas dengan menyusun karya tulis memakai AI
- Pembuatan Foto dan Video Palsu (Deep Fakes)
Contoh kasus penyalahgunaan AI yang kedua adalah deep fakes. Deep fakes adalah gambar, video, atau audio yang dibuat atau diedit menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menggambarkan orang yang nyata seolah sedang melakukan sesuatu ataupun orang yang sudah tidak ada.
- Komputasi AI
Komputasi AI adalah mesin atau robot yang dirancang menyelesaikan perhitungan matematika yang rumit. Mahasiswa dan dosen bisa memanfaatkannya untuk efisiensi proses berhitung dengan rumus yang rumit menjadi lebih cepat dan hasil akurat. Aktualnya, penggunaan komputasi AI berlebihan membuat kemampuan berpikir logika dan kemampuan berhitung serta memanfaatkan rumus algoritma menjadi tidak berkembang. Hal tersebut tentu memberikan dampak negatif ke mahasiswa.
- Penerjemah AI
Dalam bidang bahasa, teknologi AI bisa disalahgunakan dengan memakainya melakukan penerjemahan bahasa asing. Teknologi AI membantu menerjemahkan konten dalam bentuk teks maupun video berbahasa asing. Hasil terjemahan ini bisa diklaim sebagai tugas kuliah dan dikumpulkan mahasiswa. Hasilnya bisa saja bagus, tapi belum sempurna. Masih ada kesalahan seperti kesalahan pemilihan diksi hasil terjemahan yang tidak sesuai konteks.
- Mengerjakan Tugas Kuliah dengan AI 100%
Mahasiswa cenderung mengandalkan AI untuk efektivitas dan efisiensi pengerjaan tugas kuliah. Hanya dengan menulis isi pertanyaan tugas menggunakan AI tanpa waktu yang panjang langsung diberikan jawabannya.Oleh sebab itu, mengandalkan AI 100% dilarang di semua perguruan tinggi di Indonesia dan bahkan dunia. Pemakaiannya diatur dengan batasan yang jelas dan tegas.
Isu etika ini bisa menimbulkan dampak negatif dalan dunia pendidikan seperti:
- Ketergantungan dengan AI
Mahasiswa yang terbiasa menggunakan AI setiap mengerjakan tugas-tugasnya akan menjadikan mereka terlalu bergantung pada AI dan tidak mau berusaha sendiri. Sehingga hal ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk berpikir kritis dan menyelesaikan masalah secara mandiri.Sehingga mahasiswa cenderung tidak berkembang dalam berpikir.
- Kurangnya kreativitas
AI tidak akan dapat membantu mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas dan imajinasi mereka. Mengingat bahwa bantuan yang AI berikan hanya bersifat repetitif dan tidak akan mendorong mahasiswa untuk berpikir dan berkreasi lebih luas.
- Ketidakadilan dalam pembelajaran
AI dapat menimbulkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan dalam pendidikan karena mahasiswa yang memiliki akses ke teknologi AI akan lebih mendapatkan banyak keuntungan dibandingkan mahasiswa yang tidak memiliki akses sama sekali.
Mahasiswa perlu didorong untuk tetap berpikir kritis, kreatif, dan mandiri dalam belajar, meskipun menggunakan bantuan AI. Dengan demikian, AI dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat untuk membantu mahasiswa mencapai potensi belajar mereka secara maksimal jika mereka menggunakannya dengan baik dan bijak.
Strategi dan Rekomendasi Penggunaan AI secara Etis
Ada beberapa hal harus dilakukan untuk memastikan penggunaan AI yang etis di era akademik.Penggunaan AI yang memerlukan implementasi etika yang jelas dan konsisten. Berikut ini adalah beberapa contoh implementasi etika yang relevan untuk penggunaan AI di perguruan tinggi:
- Kesadaran dan Komunikasi
Perguruan tinggi penting untuk mengkomunikasikan bagaimana teknologi AI digunakan di dalam sistem administrasi institusi dan bagaimana data pribadi mahasiswa diproses. Ini dapat terjadi dengan memberikan informasi yang jelas dan terbuka tentang pemanfaatan AI di dalam sistem administrasi serta memberi mahasiswa kesempatan untuk mengetahui dan mengontrol bagaimana data pribadi mereka digunakan.
- Privasi dan Keamanan
Penggunaan AI di perguruan tinggi dapat menimbulkan masalah privasi dan keamanan. Data pribadi mahasiswa yang dikumpulkan oleh sistem AI harus dilindungi dan tidak boleh digunakan untuk tujuan yang tidak sah. Perguruan tinggi harus membuat kebijakan yang jelas dan ketat tentang bagaimana data pribadi mahasiswa digunakan.
- Pengembangan Keterampilan
Penggunaan AI juga menimbulkan masalah untuk pengembangan keterampilan siswa. Perguruan tinggi harus memastikan bahwa penggunaan AI tidak akan mengganggu pertumbuhan keterampilan seperti komunikasi, pemikiran kritis, dan analisis yang sangat penting dalam berbagai bidang.
4.Transparansi dan Akuntabilitas
Perguruan tinggi harus memastikan adanya transparansi dalam pemanfaatan AI, termasuk dalam proses pengembangan, pelatihan, dan implementasi AI. Ini ditujukan untuk memungkinkan pelacakan dan pengawasan penggunaan AI untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
- Pengawasan dan Evaluasi
Perguruan tinggi harus memastikan pengawasan dan evaluasi yang efektif dalam penggunaan AI. Ini memungkinkan untuk melacak efek samping yang mungkin terjadi dan mengadopsi perubahan untuk memastikan penggunaan AI sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
6.Koordinasi dengan Pemangku Kepentingan
Perguruan tinggi harus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan lainnya, seperti pemerintah dan organisasi masyarakat, untuk memastikan bahwa penggunaan AI di perguruan tinggi sesuai dengan standar etika dan keamanan yang berlaku.
- Pendidikan dan Pelatihan
Perguruan tinggi harus memberikan pelatihan yang tepat kepada siswa dan karyawan tentang cara menggunakan AI secara etis dan efektif. Perguruan tinggi harus melakukan evaluasi dan pengawasan yang konsisten terhadap penggunaan kecerdasan buatan untuk memastikan bahwa teknologi ini telah digunakan secara etis dan efektif.
Di era serba teknologi sekarang, kita tidak bisa menghindari penggunaan teknologi dalam kehidupan termasuk dalam kegiatan pembelajaran. Namun pemanfaatannya harus mempertimbangkan risiko pelanggaran etika akademis. Jadi bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan pada mahasiswa tentang pemanfaatan AI yang bertanggung jawab?
Hal ini akan memerlukan kolaborasi antara dosen dan mahasiswa untuk menciptakan penggunaan AI yang benar dan bijak. University of North Carolina at Charlotte menyebutkan ada dua prinsip strategi yang direkomendasikan:
- Prinsip Etis
Penggunaan AI oleh siswa harus transparan dan sejalan dengan kebijakan institusi demi integritas akademik. Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan untuk terlebih dahulu pedoman dan panduan penggunaan AI di tingkat lembaga.
- Biasakan bicara dan diskusi tentang AI dengan siswa.
(Hal ini akan mendorong mereka untuk jujur tentang bagaimana mereka menggunakannya dalam pekerjaan mereka.)
- Bersikap langsung dan transparan tentang alat apa yang boleh digunakan oleh siswa, dan tentang alasan pembatasan apa pun.
(Jika Anda memutuskan untuk mengizinkan siswa menggunakan AI, dorong siswa untuk juga bersikap transparan tentang penggunaan AI dalam pekerjaan mereka.)
Contoh implementasinya adalah:
1.Memberitahu mahasiswa bahwa kolaborasi dengan ChatGPT atau alat AI lainnya hanta diizinkan dalam contoh beberapa mata kuliah saja.
2.Kolaborasi dengan ChatGPT atau alat AI lainnya yang misalnya diizinkan dalam suatu mata kuliah harus dijelaskan dengan deskripsi dan dokumentasi yang jelas tentang cara penggunaannya dan untuk tujuan apa.
3.Siswa harus mendapatkan izin dari Dosen nya apakah tugas atau soal yang diberi boleh dikerjakan berkolaborasi dengan ChatGPT atau alat AI lainnya.
- Prinsip Kognitif
Mahasiswa harus memahami bahwa bekerja dengan AI itu seharusnya membantu dan memfasilitasi pembelajaran, dan bukan membuat cara kerja dan berpikir mahasiswa menjadi tidak berkembang dan menjadi penghalang untuk tidak belajar.
- Bingkai ulang pemanfaatan AI di kelas.
(Mengontrol atau mendeteksi penggunaan AI untuk pengerjaan tugas mungkin sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, lebih baik kita fokus pada bagaimana AI memungkinkan kita mencapai hasil yang diinginkan dengan cara yang lebih baik.)
Contohnya, mahasiswa terlibat secara kritis dengan AI untuk memahami kemampuan dan keterbatasan mereka, Bersikap transparan tentang bagaimana pengerjaan tugas-tugas yang diberikan di kelas. Nilai atau hasil akhir bukanlah segala-galanya, yang lebih penting adalah proses pembelajaran itu sendiri, sehingga kita sebagai mahasiswa benar-benar memahami apa yang dipelajari, bukan sekedar untuk mendapatkan nilai yang tinggi.
- Sesuaikan rancangan tugas-tugas yang diberikan pada mahasiswa.
Contoh implementasi:
1.Gunakan format tugas menulis yang berbeda dari waktu ke waktu.
2.Gunakan cara-cara alternatif yntuk merepresentasikan pengetahuan mahasiswa di luar teks, misalnya dengan mempresentasikan pekerjaan mereka, dan adakan diskusi atau bahkan debat di dalam kelas.
3.Menginstruksikan untuk menggunakan sumber-sumber referensi yang tidak dapat diakses oleh AI, misalnya:hanya menggunakan penelitian dan studi yang dibuat antara tahun 2022 hingga 2024, hanya menggunakan penelitian dan studi yang pernah dibahas di kelas.
Etika akademik juga harus sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
- Sila pertama menuntut mahasiswa bersikap jujur dan bertanggung jawab sebagai bentuk pengamalan iman.
- Sila kedua menekankan pentingnya menghargai karya orang lain, bersikap sopan dan adil dalam menggunakan ilmu.
- Sila ketiga mendorong semangat kebersamaan dalam membangun budaya akademik yang sehat. Dengan etika akademik yang baik, mahasiswa Medan dapat menjadi teladan dalam membangun lingkungan kampus yang bersatu, saling mendukung, dan berorientasi pada kemajuan bersama.
- Sila keempat menuntut musyawarah dalam menentukan kebijakan penggunaan AI di lingkungan kampus. Mahasiswa Medan juga diharapkan berpartisipasi aktif dalam forum-forum diskusi etika digital atau kebijakan akademik agar keputusan yang diambil bersifat adil dan bijak.
- Sila kelima mengarahkan pemanfaatan AI untuk menciptakan keadilan dalam akses ilmu pengetahuan,menggunakan AI untuk membantu teman yang kesulitan belajar, berbagi informasi, dan menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun ada banyak keuntungan dari penggunaan AI bagi mahasiswa di Medan, ada beberapa masalah etika yang perlu dipertimbangkan saat menggunakannya. Adanya plagiarisme,deep fakes,komputasi AI,ketergantungan terhadap AI dan sebagainya yang dapat menimbulkan cara berpikir yang tumpul dan tidak berkembang serta kurangnya kreatifitas dalam diri mahasiswa. Penggunaan AI yang tidak bijak ini dapat dicegah dengan beberapa cara, seperti membatasi penggunaan AI, menggunakan AI oleh dosen untuk mengawasi tugas sehari-hari dan tugas akhir siswa, dan mengembangkan sistem evaluasi yang lebih akurat. Perguruan tinggi juga dapat menggunakan AI secara etis dan efektif untuk meningkatkan pendidikan dengan meningkatkan kesadaran dan komunikasi, menjaga privasi dan keamanan, mengembangkan keterampilan, bekerja sama dengan pemangku kepentingan, dan menetapkan kebijakan akademik akan penggunaan AI dalam pembelajaran yang jelas.
Masa depan AI dalam dunia akademik menjanjikan kemajuan besar dalam hal efisiensi, inovasi, dan akses pendidikan. Namun, kemajuan ini hanya akan bermanfaat jika diimbangi dengan kesadaran etis, literasi digital, dan nilai kemanusiaan. AI bukan pengganti kecerdasan manusia, tetapi alat yang memperkuat daya pikir, kreativitas, dan moralitas akademik.Dengan sikap bijak dan tanggung jawab, dunia akademik di masa depan akan mampu memanfaatkan AI untuk menciptakan pendidikan yang lebih cerdas, adil, dan beradab.
Leave a comment