Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Sosok

Marco Djuliarso, Insinyur Asal Indonesia Yang Ikut Membangun Roket NASA

Penulis : Valeshia Trevana

Suara USU, Medan. Nama Marco Djuliarso kini sedang mendapat perhatian publik. Pria yang mulanya berasal dari Jakarta ini menggali ilmu di bidang Industrial Engineering di Universitas Tennessee, Universitas Teknologi Nanyang Singapura, dan mengambil bidang science pendalaman Sistem Arsitek dan Teknik di Amerika Serikat di Universitas Southern California.

Marco Djuliarso dijuluki sebagai insinyur hebat karena ia bisa bergabung dengan NASA utuk membangun roket. Marco ikut dalam proyek pembuatan komponen Space Launch System.

Marco mengatakan bahwa ia fokus dibagian penjadwalan, biaya, kualitas, selain itu ia juga banyak menganalisa data. Menurut Marco, ada kepuasan tersediri baginya ketika menyelesaikan produk pertama dan menyerahkannya ke tangan pelanggan.
Marco ikut merancang roket yang dikategorikan sebagai roket NASA yang paling kuat dan akan membawa para astronot ke bulan pada tahun 2024.

Dilansir dari VOA Indonesia, Marco mengataka bahwa launch pertamanya memang ke bulan, akan tetapi target dalam arti jangka jauhnya adalah ke Mars. Menurut Marco proyek ini adalah proyek paling keren dan ia merasa beruntung ambil bagian dalam proyek ini.

Marco mengakui bahwa ia tidak pernah bercita-cita utuk berkarir di dunia roket atau aerospace. Ayah Marco yang menyarankannya untuk kuliah di jurusan Teknik Industri. Sebagai anak yang baik, Marco memilih untuk mengikuti saran dari sang ayah. Namun, siapa sangka bahwa pilihan ayahnya tidak meleset sama sekali. Marco berhasil menjadi salah satu insinyur hebat kebanggaan Indonesia, bahkan ia ikut tergabung dalam suatu proyek besar dunia pembuat roket di NASA untuk misi pergi ke bulan.

Namun, perjuangan karir Marco tidak semulus yang terlihat. Pada tahun 2009, saat keadaan ekonomi di Amerika Serikat sedang sulit-sulitnya, ia melamar banyak pekerjaan di Amerika Serikat. Selama kira-kira eam bulan, Marco melamar seratus pekerjaan perminggunya. Dan pada akhirnya, di tahun 2009 keberutungan berpihak pada Marco. Marco mendapat tawaran dari Boeing saat dia bekerja di perusahaan produksi jendela di Dallas, Amerika Serikat.

Saat itu, Marco mengakui lupa bahwa ia pernah melakukan interview dan melamar pekerjaan di Boeing. Setelah berembuk dengan istrinya, Vieda, akhirnya mereka memutuskan untuk mengambil pekerjaan di Boeing dan pindah ke daerah Seattle, Washigton.Selama di Boeing, Marco pernah terlibat dalam proyek pesawat 787 dan 777 di Seattle dan Italia yang pada akhirnya menggarap roket untuk NASA di New Orleans, Amerika Serikat.

Redaktur : Wiranto Asruri Siregar

Related posts

Shella Tan, Menjadi Desainer Muda dengan Otodidak

redaksi

Mengabdi Saat Pandemi ala Azhari

redaksi

Jiwa Berprestasi dalam Diri Deni Pohan

redaksi